Eks Napi Kasus Munir Pollycarpus Meninggal Dunia, Setelah Positif Covid-19 Selama 16 Hari


Ahad, 18 Oktober 2020 - 07:09:08 WIB
Eks Napi Kasus Munir Pollycarpus Meninggal Dunia, Setelah Positif Covid-19 Selama 16 Hari Pollycarpus Budihari Prijanto.

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Lama tidak terdengar kabarnya, Pollycarpus Budihari Prijanto datang dengan kabar mengejutkan. Mantan pilot yang divonis bersalah dalam kasus pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib itu meninggal dunia dalam kondisi positif virus Corona (COVID-19).

Informasi mengenai meninggalnya Pollycarpus dikonfirmasi oleh Sekjen Partai Berkarya Badaruddin Andi Picunang. Pollycarpus sempat disebut-sebut bergabung dengan Berkarya.

"Baru saja saya konfirmasi ke teman dokter di RSPP, benar beliau telah mendahului kita. Innalillahi wainna ilaihi rajiun," ujar Picunang, Sabtu (17/10/2020).

Pollycarpus meninggal dunia di RS Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta. Eks pilot maskapai Garuda Indonesia itu sedang berjuang melawan Corona sebelum menghembuskan nafas terakhir.

"Meninggal karena COVID-19, dari Mbak Hera, istrinya. Mbak Hera mengatakan (Pollycarpus) meninggal setelah berjuang melawan COVID selama 16 hari," ungkap eks pengacara Pollycarpus, Wirawan Adnan, saat dihubungi, Sabtu (17/10/2020).

Pollycarpus pun langsung dimakamkan di TPU Pondok Rangon, Jakarta Timur. Pria kelahiran Surakarta tersebut dimakamkan dengan protokol COVID-19.

Hari-hari terakhir Pollycarpus diceritakan oleh Badaruddin Andi Picunang. Menurutnya, Pollycarpus sedang aktif melakukan kegiatan sosial membagi-bagikan obat herbal Corona sebelum jatuh sakit.

"Beliau aktif bagi-bagi obat herbal anti-COVID-19," kata Picunang.

Picunang mengaku bertemu dengan Pollycarpus terakhir pada Agustus lalu saat Rakernas Partai Berkarya di Surabaya. Ia lalu memohon doa untuk koleganya itu.

"Mohon doa semuanya semoga almarhum diterima di sisi-Nya dan mohon maaf bila ada khilaf beliau. Beliau orang baik," tutur Picunang.

Pollycarpus adalah eks pilot maskapai Garuda Indonesia yang divonis 14 tahun penjara setelah dinyatakan terbukti bersalah dalam kasus meninggalnya Munir pada 7 September 2004. Setelah menjalani masa tahanan 8 tahun, ia dinyatakan bebas bersyarat sejak 28 November 2014.

Pollycarpus dinyatakan terlibat dalam pembunuhan berencana Munir pada 7 September 2004. Dalam kasus ini, Muchdi Pr juga ditetapkan sebagai tersangka selaku Deputi Kepala Badan Intelijen Negara (BIN).

Muchdi PR yang kini menjadi Ketum Partai Berkarya tersebut diduga kuat terlibat dalam pembunuhan berencana terhadap aktivis HAM Munir. Namun, pada 31 Desember 2008, Muchdi divonis bebas oleh PN Jakarta Selatan.

Tak banyak kabar soal Pollycarpus setelah bebas dari Lapas Sukamiskin. Polly dinyatakan bebas murni pada 29 Agustus 2018.

"Ya senang sekali, sudah nggak ada beban lagi. Ganjelan ya sudah nggak adalah," kata Pollycarpus setelah mendatangi Balai Pemasyarakatan (Bapas) Bandung, Jalan Ibrahim Adjie, Kota Bandung, Rabu (29/8/2018).

Polly mengatakan, setelah bebas murni, dia akan berfokus menekuni dunia penerbangan sesuai dengan kapasitasnya. Dia akan melanjutkan pekerjaan sebagai pengurus di PT Gatari Air Service. Perusahaan di bidang penerbangan itu disebut-sebut milik Tommy Soeharto.

Kemudian, Pollycarpus pun disebut-sebut bergabung dengan Berkarya bersama Muchdi Pr pada 2018. Saat itu, Berkarya dipimpin oleh Tommy.

"Semua orang punya hak politik untuk menyalurkan aspirasinya. Mungkin beliau melihat Partai Berkarya cocok untuk menyalurkan aspirasi poltiknya. Kita nggak membatasi, yang penting mereka memenuhi syarat, kan. Ia punya hak suara yang sama, seorang Pollycarpus dengan seorang presiden ya sama satu suara," urai Badaruddin Andi Picunang, Selasa (6/3/2020).

Meski begitu, Pollycarpus sempat membantah dirinya bergabung ke partai politik. Polly mengaku memang mendapat banyak tawaran terjun ke partai politik. Namun dia menegaskan tak tertarik menekuni dunia politik.

"Oh Partai Berkarya, saya nggak masuk saya. Saya nggak ikut partai. Tawaran ke partai dari temen-temen aja ngajakin, tapi nggak suka politik," ucap Pollycarpus.

"Tidak membidangi untuk politik. Saya nggak mau, jadi saya lebih suka kerja profesional," imbuhnya.

Kasus kematian Munir masih menyisakan misteri. Salah satu misteri terbesar yang mengitari kasus kematian Munir adalah raibnya hasil temuan Tim Pencari Fakta (TPF). Oleh pemerintahan Joko Widodo (Jokowi), dokumen yang antara lain berisikan nama-nama orang yang ikut terlibat itu dinyatakan hilang pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Namun SBY melalui mantan Menteri Sekretariat Negara Sudi Silalahi mengatakan pihaknya telah menyerahkan dokumen tersebut.

Demikian juga kesaksian Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Johan Budi Sapto Prabowo, menyebut dokumen TPF telah diterima di Istana Negara pada 26 Oktober 2016 melalui kurir. Istri Munir, Suciwati, lalu mengirimkan surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo terkait misteri keberadaan hasil penyelidikan TPF Munir.

Eks pengacara Pollycarpus, Wirawan Adnan, masih memberikan pembelaan untuk mantan kliennya. Ia menyebut Pollycarpus tidak bersalah dalam kasus kematian Munir.

"Saya adalah salah satu yang hingga hari ini tidak percaya bahwa Pollycarpus bersalah atas dakwaan membunuh Munir. Saya telah membuat tesis di UGM perihal pembuktian atas dakwaan tersebut, dan saya lulus dengan nilai A. Yang ingin saya sampaikan secara yuridis dan akademis, Pollycarpus sebenarnya tidak terbukti melakukan pembunuhan terhadap Munir," ujar Wirawan hari ini. (*)

loading...
 Sumber : detik.com /  Editor : Rahma Nurjana

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]