Dikemas Modern, Gula Semut Asli Lumindai Tembus ke Medan hingga Bandung


Selasa, 13 Oktober 2020 - 10:41:08 WIB
Dikemas Modern, Gula Semut Asli Lumindai Tembus ke Medan hingga Bandung Anggota Kube Berkah dan air nira bahan baku gula semut aren. (Foto: Fadil)

HARIANHALUAN.COM - Tidak hanya dilepas dalam bentuk produk jadi, gula aren hasil olahan petani gula di Desa Lumindai, Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto juga diolah menjadi produk gula semut.

Dampaknya sangat luar biasa. Terjadi peningkatan nilai ekonomi dari gula yang dihasilkan dari air nira batang aren tersebut. Sebelumnya, gula aren tradisional ini dijual dengan dibungkus karisiak atau daun pisang kering.

Jika biasanya satu kilogram gula aren dijual Rp25 ribu, sejak diolah menjadi gula semut, satu kilogram gula aren hasil olahan petani Lumindai kini dibanderol Rp30 ribu.

“Kami tampung dengan harga Rp5 ribu lebih tinggi dari harga biasanya,” ungkap Roynaldo, Ketua Kelompok Usaha Bersama (Kube) Berkah Abadi Desa Lumindai Kecamatan Barangin Kota Sawahlunto kepada Haluan, Selasa (12/10).

Suami Zulhijjani itu mengungkapkan, gula aren yang ditampung dari para petani, khususnya anggota Kube Berkah itu, kembali diolah menjadi gula semut aren. Kemudian gula semut tadi dikemas dengan kemasan modern yang lebih menarik.

Tentunya, dengan rasa dan penggunaan yang lebih beragam membuat nilai jual gula semut aren melambung. Setidaknya untuk satu kilogram gula semut asli Lumindai bisa dibanderol Rp100 ribu.

“Gula semua aren asli Lumindai ini bisa digunakan untuk pengganti gula pasir, sehingga bisa menjadi teman untuk adukan kopi, teh dan sejenisnya,” ungkap pria yang akrab disapa Boroy itu.

Menariknya lagi, gula semut aren asli Lumindai ini juga sangat aman dikonsumsi penderita kencing manis atau diabetes. Agaknya hal itu pula yang membuat pesanan gula semut aren asli Lumindai ini banyak mendapatkan permintaan.

Setidaknya, terang bapak tiga anak kelahiran 11 Januari 1978 itu, gula semut Kube Berkah sudah terbang ke Medan, Riau, Jakarta dan Bandung. Hanya saja, keterbatasan modal yang dimiliki Kube Berkah, membuat pengolahan gula aren harus dibatasi.

Dalam satu kali pengolahan, Kube yang beranggotakan 13 kepala keluarga itu baru pada angka 50 kilogram. Hasil olahan gula semutnya itu juga sudah ada yang menunggu.

Keterbatasan lainnya, lanjut Boroy, pengolahan gula aren menjadi gula semut masih dilakukan secara tradisional sehingga produksi gula semut tidak bisa dalam skala besar.

Namun demikian, Boroy mengaku sangat bersyukur, pengolahan gula aren menjadi gula semut sudah memberikan dampak bagi ekonomi petani gula aren di desanya. “Mudah-mudahan pemerintah mau turun tangan memberikan perhatian dalam bentuk modal dan mesin pengolah,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Desa Lumindai Syair Nandi kepada harianhaluan.com mengatakan, petani gula aren di desa setempat mencapai 40 kepala keluarga dengan kapasitas produksi mencapai satu ton per bulan.

“Yang tergabung dalam Kube Berkah mereka salurkan sebagai bahan baku gula semut. Sedangkan yang lain menyalurkan langsung ke pasar-pasar terdekat,” ungkap Syair Nandi.

Syair Nandi mengungkapkan, usaha gula aren yang digarap petani saat ini berasal dari pohon aren yang tumbuh liar sejak dulunya. Belum ada pelaksanaan penanaman aren khusus.

“Rencananya, tahun 2021 mendatang akan dilakukan penanaman pohon aren unggul, yang diperkirakan akan mampu menghasilkan dalam waktu empat tahun,” katanya.

Desa Lumindai sendiri berdiri di atas lahan seluas 1.375 hektar, pada ketinggian 850 dari permukaan laut, yang dihuni 2.791 jiwa dari 781 kepala keluarga.(*)

loading...
Reporter : Fadilla Jusman /  Editor : Nova Anggraini

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]