Waspada! Pasien Sembuh Corona Bisa Terinfeksi Lebih Parah


Selasa, 13 Oktober 2020 - 09:17:27 WIB
Waspada! Pasien Sembuh Corona Bisa Terinfeksi Lebih Parah Ilustrasi

HARIANHALUAN.COM - Sebuah studi terbaru dirilis di jurnal ilmiah The Lancet Infectious Diseases, Selasa (13/10/2020).

Dalam studi tersebut dikatakan bahwa pasien Covid-19, mungkin mengalami gejala yang lebih parah pada kali kedua mereka terinfeksi. 

Penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada jaminan kekebalan di masa depan, bagi seseorang yang sudah terpapar virus corona.

Studi mengambil sampel di Amerika Serikat (AS), negara dengan kasus terbanyak di dunia. Sebagaimana ditulis AFP, seorang pria Nevada berusia 25 tahun telah terinfeksi dua varian SARS-Cov-2 (nama resmi virus corona) yang berbeda dalam jangka waktu 48 hari. 

Infeksi kedua ternyata lebih parah dari yang pertama dan mengakibatkan pasien harus dirawat ke rumah sakit dengan bantuan oksigen. 

Makalah ini mencatat empat kasus infeksi ulang lainnya yang dikonfirmasi secara global, yakni di Belgia, Belanda, Hong Kong dan Ekuador. 

Para ahli mengatakan kemungkinan infeksi ulang dapat berdampak besar pada bagaimana dunia berjuang melawan pandemi, terutama vaksin.

"Kemungkinan infeksi ulang dapat memiliki implikasi yang signifikan untuk pemahaman kita tentang kekebalan Covid-19, terutama dengan belum adanya vaksin yang efektif," kata penulis utama dari studi ini dan Laboratorium Kesehatan Masyarakat Negara Bagian Nevada, Mark Pandori.

"Kami membutuhkan lebih banyak penelitian untuk memahami berapa lama kekebalan dapat bertahan bagi orang yang terpapar SARS-CoV-2 dan mengapa beberapa dari infeksi kedua ini, meski jarang, muncul sebagai lebih parah."

Vaksin sebenarnya memicu respons kekebalan alami tubuh terhadap patogen tertentu, dan mempersenjatai dengan antibodi untuk melawan gelombang infeksi di masa depan. Namun, tidak diketahui jelas berapa lama antibodi Covid-19 bertahan.

Beberapa penyakit seperti campak, memberikan respon kekebalan seumur hidup sedangkan yang lain bisa saja cepat hilang.

Untuk kasus studi di AS, peneliti mengatakan pasien itu bisa saja terpapar virus lebih banyak untuk kedua kalinya atau lebih ganas, sehingga memicu reaksi yang lebih parah. 

Dalam komentar terkait dengan makalah The Lancet, seorang profesor imunobiologi dan biologi molekuler di Universitas Yale, Prof. Akiko Iwasaka, mengatakan bahwa temuan tersebut dapat memengaruhi langkah-langkah kesehatan masyarakat.

"Dengan semakin banyaknya kasus infeksi ulang yang muncul, komunitas ilmiah akan memiliki kesempatan untuk lebih memahami korelasi perlindungan dan seberapa sering infeksi alami dengan SARS-CoV-2 menyebabkan tingkat kekebalan itu," kata peneliti yang tak terlibat dalam penelitian itu.

"Informasi ini adalah kunci untuk memahami vaksin mana yang mampu melewati ambang itu untuk memberikan kekebalan individu dan kelompok."

Saat ini, dari data Worldometers, sudah 37 juta warga dunia terinfeksi. Sebanyak 1 juta lebih meninggal dunia.

The Lancet merupakan sebuah jurnal pengobatan umum mingguan. Jurnal ini adalah salah satu jurnal pengobatan paling dikenal dan tertua di dunia, salah satu yang paling prestisius di dunia.(*)
 

loading...
 Sumber : CNBCindonesia /  Editor : Nova Anggraini

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]