Warga +62 Baru Bisa Hidup Normal di 2022, Ini Penjelasannya


Senin, 28 September 2020 - 09:57:28 WIB
Warga +62 Baru Bisa Hidup Normal di 2022, Ini Penjelasannya Ilustrasi

HARIANHALUAN.COM - Indonesia harus lebih bersabar untuk bisa pulih dari serangan Covid-19. Ada beberapa skenario kenapa kata 'bersabar' ini harus dihadapi seluruh warga +62.

Jika bicara soal vaksin yang digembar-gemborkan pemerintah dengan pedenya di Januari 2021, maka protokol kesehatan seperti saat ini bisa dilepas di 2022.

Kok bisa? Sebuah tulisan dari Chatib Basri yang saat ini merupakan Komisaris Utama Bank Mandiri, menyampaikan beberapa kemungkinan. Mantan Menteri Keuangan RI ini menuliskan sebuah opini berjudul "Pemulihan Ekonomi: Kurva V, U atau W?"

Dalam sub judul Jalan Panjang Pemulihan di artikel opini tersebut, Chatib menjelaskan soal vaksin. Jika vaksin ini siap di 2021 maka pemerintah akan memprioritaskan pemberiaannya kepada tenaga kesehatan, orang dengan komorbid, dan sebagainya yang jumlahnya 25 juta orang.

"Jika setahun ada 365 hari maka setiap hari pemerintah harus melakukan vaksinasi lebih dari 68.000 orang," katanya.

"Padahal kita tahu bahwa kemampuan tes PCR kita hanya 20.000-30.000 per hari. Jika toh kita mampu dibutuhkan waktu yang panjang untuk melakukannya," imbuh Chatib dalam tulisan tersebut yang dikutip CNBC Indonesia, Senin (28/9/2020).

Menurutnya, pemerintah harus memiliki sumber daya yang besar untuk melakukan vaksinasi. Belum lagi jika vaksin itu harus dilakukan dua kali dan cakupan penduduknya lebih besar.

"Dengan kondisi ini bukan tak mungkin protokol kesehatan baru bisa dilepas sepenuhnya 2022. Pemulihan ekonomi mungkin akan berbentuk huruf U, dan bukan V. Yang harus dijaga adalah jangan sampai pandemi ini merebak sehingga pola pemulihan ekonomi berbentuk huruf W," katanya lebih jauh.

Sekretaris Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Raden Pardede buka-bukaan soal strategi dan pemulihan ekonomi nasional di tengah pandemi Covid-19.

Paparan itu juga merespons beredarnya dokumen yang diperoleh CNBC Indonesia itu memang menunjukkan pandemi akan tuntas di akhir 2021. So, memasuki awal 2022 maka pemerintah melihat skenario hidup normal akan terjadi.

"Ini supaya kita bisa memberikan kerangkanya seperti apa sebetulnya dipikirkan oleh KPCPEN. Kita butuh rencana jangka menengah bahkan 2023 mungkin 2024," ujar Raden dalam media briefing, kemarin.

Pemerintah memiliki frame work selesainya pandemi Covid-19. Ia menjelaskan latar belakang di balik pembuatan frame work itu. Salah satunya adalah ketidakpastian yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19. Hal itu tidak hanya dialami oleh Indonesia semata, melainkan juga negara-negara lain di dunia.

"Yang boleh dikatakan hampir pasti adalah kalau pertumbuhan tahun ini negatif, maka pertumbuhan tahun depan menjadi positif. Tapi persoalannya yang utama kita lihat apakah itu sustainable atau tidak," kata Raden.

Raden menjelaskan, kurva di atas menunjukkan pola penularan Covid-19. Pada masa awal. Indonesia berhasil menekan penularan virus corona melalui kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Akan tetapi, setelah itu, kurva menunjukkan naik dan turun.

"Apakah mungkin ada gelombang kedua, gelombang ketiga, berdasarkan yang kita pelajari yang disebutkan dengan Flu Spanyol di tahun 1918-1920, itu naik turun. Jadi pola dari pada Covid-19 ini akan naik turun. Dan itu pula sebetulnya yang kita lihat sekarang apa yang terjadi di Eropa, naik turun," ujar Raden.

"Tapi harapan kita dia tidak akan kembali kepada serangan awal semula seperti yang kita lihat di sebelah kiri. Jadi polanya itu gelombang itu bisa turun dan harapan kita over time dia akan subside, akan merendah, akan turun, akan menjadi flat ke bawah," lanjutnya.

Pria kelahiran Balige, Sumatra Utara, itu lantas memaparkan perihal Jaring Pengaman Kesehatan. Di titik ini, diperlukan partisipasi masyarakat dalam bentuk 3M (mencuci tangan, menjaga jarak, dan memakai masker). 

Sedangkan peran pemerintah dalan bentuk 3T (testing, tracing, dan treatment). Dengan demikian, Raden bilang ada pembagian peran antara pemerintah dan masyarakat. Kendati demikian, dia menyebut ketidakpastian itu masih akan menghantui hingga vaksin ditemukan.

Hal itu, menurut Raden, akan berpengaruh kepada kepercayaan semua pihak. Oleh karena itu, sekarang adalah masa bertarung untuk pulih, memulihkan kepercayaan, dan adaptasi hingga penyesuaian terhadap kondisi yang ada. "Jadi virus itu akan naik turun sampai vaksin ditemukan. Sementara itu pemerintah dalam hal ini KPCPEN tentu punya target-target.

"Bagaimana target jangka pendek adalah bagaimana kita berusaha keras untuk mencegah resesi. Itu yang dilakukan oleh pemerintah sekarang. Untuk jangka yang lebih panjang, targetnya adalah bagaimana supaya kita kembali ke masa pra Covid-19. Artinya kita bisa kembali bertumbuh ke arah lima persenan secara berkesinambungan," kata Raden.

"Jadi, masa ketidakpastian ini masih terus dan kita harus berjaga-jaga di situ, masa ketidakpastian sampai dengan vaksin ditemukan. Dan sesudah itu, kalau vaksin sudah ditemukan dan kemudian bisa kita distribusikan dengan baik baru kita bisa melihat kepercayaan dan harapan rasa aman muncul. Itulah yang kemudian baru kita masuk ke fase yang kami sebutkan nanti masa transformasi atau masa bertumbuh ekonomi kita secara sustainable. Tapi masa sampai vaksin ini kita sebetulnya masa menyesuaikan, masa bertarung yang kita sebutkan tadi," lanjutnya.(*)
 

loading...
 Sumber : CNBC /  Editor : Nova Anggraini

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]