Ekonom Bank Dunia Ini Sarankan Agar Masyarakat Bisa Patuh Protokol PSBB


Rabu, 23 September 2020 - 12:24:15 WIB
Ekonom Bank Dunia Ini Sarankan Agar Masyarakat Bisa Patuh Protokol PSBB Vivi Alatas, Ekonom dan Pemerhati Kebijakan, Advisor IYKRA, dan kali ini menjabat sebagai CEO dari AsaKreativita. Ist

HARIANHALUAN.COM - Idekonomi merilis episode mengenai kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di berbagai daerah di Indonesia untuk mengurangi penyebaran virus Covid-19. Pembahasan mengenai PSBB kembali relevan dibahas karena hingga 22 September, tercatat sudah ada 252.923 kasus terkonfirmasi positif di Indonesia dengan tren peningkatan yang cukup signifikan.

Dalam seminggu terakhir saja, Indonesia telah beberapa kali tambahan jumlah kasus yang melebihi 4.000 kasus per harinya.

Vivi Alatas, Ekonom dan Pemerhati Kebijakan, Advisor IYKRA, dan kali ini menjabat sebagai CEO dari AsaKreativita membahas aspek-aspek yang perlu dipertimbangkan masyarakat untuk melakukan PSBB dan bagaimana pemerintah dapat mendesain kebijakan yang lebih efektif untuk meningkatkan kepatuhan masyarakat.


Penyebaran Covid-19 di Indonesia terus mengalami peningkatan dan salah satu faktor yang mungkin menyebabkan hal tersebut adalah belum semua masyarakat mematuhi protokol kesehatan. Berbagai faktor dapat menyebabkan masyarakat menjadi tidak patuh. Padahal, kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan merupakan hal yang penting baik dari aspek kesehatan maupun ekonomi. 

“Saat ini, pandemi telah mengguncang kesehatan dan ekonomi. Badai (re: pandemi Covid-19) yang berkepanjangan punya dampak sangat buruk bagi kesehatan dan perekonomian. Jika badai ini berkepanjangan karena perilaku kunci - seperti memakai masker, menjaga jarak, tinggal di rumah, tidak dilakukan maka dampaknya bukan hanya nyawa, tetapi juga perekonomian. Tidak ada pilihan kalau berkepanjangan dan akan lebih sedikit dampak ekonominya,” ujar Vivi dalam keterangan tertulis yang diterima Harianhaluan.com, Rabu (23/9/2020).

Social Distancing dan kebijakan sejenis harus dilakukan agar dapat mendorong pandemi cepat berakhir. Berbagai simulasi ekonomi dan epidemiologi telah dilakukan dengan mempertimbangkan skenario seperti tidak ada pembatasan, dengan pembatasan, dan juga melihat bukti-bukti empiris yang ada. 

“Kita ingin bisa secepatnya melandaikan kurva (kasus) dan menuntaskan badai ini. Dan itu hanya mungkin (tercapai) kalau social distancing dilakukan dengan semestinya dengan semua orang,” tegas Vivi.

Pemerintah telah menyadari akan pentingnya kebijakan protokol kesehatan dan juga telah melakukan berbagai cara untuk mensosialisasikan dan memberikan pemahaman ke masyarakat bahwa mematuhi protokol kesehatan itu penting untuk segera mengakhiri penyebaran virus. Namun, tak dapat dipungkiri masih ada sebagian masyarakat yang belum mematuhi. Hal ini dapat disebabkan berbagai faktor seperti ketidakpedulian dan ketidaktahuan.

“Ada banyak hal-hal penting yang dilanggar manusia secara umum, contohnya merokok. Kita tahu bahwa (berhenti merokok) itu penting, tapi banyak orang yang tahu tetapi tetapi tidak melakukan. Ini ternyata ada kaitannya dengan cara berpikir otak manusia. Ada cara berpikir dimana kita melakukan apa yang terlintas (thinking fast), ada juga cara berpikir dimana kita akan menelaah dan menimbang lebih jauh (thinking slow)," menurut Vivi.

Vivi berpendapat, bahwa cara mendorong manusia untuk mau melakukan / tidak melakukan suatu kegiatan perlu mempertimbangkan cara-cara berpikir manusia tersebut. Selanjutnya, dengan kerangka ilmu perilaku (Behavioral Science), manusia didorong untuk melakukan suatu kegiatan tanpa ada paksaan. Namun semua harus diawali dengan pengetahuan yang cukup dan kemauan dari masyarakat. Pemerintah sudah memberikan sosialisasi mengenai protokol kesehatan, namun ada berbagai pendekatan untuk bisa mendorong kemauan masyarakat berpartisipasi dalam PSBB.

“Ada banyak prinsip behavioral science yang bisa diterapkan untuk mendorong orang untuk mau melakukan sesuatu. Pertama, orang itu lebih percaya informasi dari ahli. Untuk itu, sebarkanlah informasi dari ahlinya. Perihal protokol dari ahli kesehatan, carilah orang yang dituju dan ditiru. Sehingga masyarakat bisa percaya dengan informasi yang kredibel,” ujar Vivi.

Namun, tidak semua orang mengetahui keahlian tokoh-tokoh tertentu. Perilaku manusia lainnya adalah adanya kepercayaan pada orang-orang yang disukai, orang-orang yang dipercaya. Setiap manusia memiliki circle of influence yang bisa dipengaruhi. 

“Selama kita sudah punya hubungan erat saat ini (dengan siapapun), untuk menjadi percaya (akan sebuah informasi) dan mau (melakukan anjuran), akan lebih efektif dengan orang-orang yang sudah memiliki kedekatan batin ketimbang dengan orang-orang yang kita tidak terlalu kenal," menurut Vivi.

Cara lain bagi pemerintah dalam mendorong kemauan masyarakat adalah menekankan dampak dari kehilangan. Pada dasarnya, manusia mempunyai kecenderungan untuk takut akan kehilangan. Dengan menunjukkan dampak berupa kehilangan yang terjadi karena tidak mematuhi protokol kesehatan selama PSBB, orang akan cenderung lebih menelaah suatu tindakan sebelum melakukannya.

“Sampaikan informasi dimana terdapat kasus nyata yang bisa muncul dari sekedar kongkow-kongkow. Tunjukkan bahwa ada orang yang bisa terkonfirmasi positif tanpa menunjukkan gejala,” ujar Vivi.

Selanjutnya, penting juga bagi pemerintah untuk memberikan pemahaman sesederhana mungkin mengenai protokol kesehatan. Hal ini perlu dilakukan karena manusia cenderung lebih akan mengikuti hal-hal yang secara praktis mudah dilakukan. 

“Selain himbauan, protokol harus jelas dan mudah dipahami. Di banyak negara, protokol kesehatan benar-benar dilakukan dan bisa ditiru. Kadang, orang tidak menyadari 2 meter itu sejauh apa. Orang-orang juga cenderung penasaran dengan suatu kerumunan, sehingga cenderung ikut untuk berkerumun. Tapi saat protokol sudah jelas, mau tidak mau orang-orang tahu apa yang harus dan tidak boleh dilakukan. (Kampanye dan rincian protokol kesehatan) harus dibuat semudah mungkin, dan juga mendorong agar suatu kegiatan yang tidak boleh dilakukan dilaksanakan sesulit mungkin,” tegas Vivi. 

Manusia juga memiliki kecenderungan untuk mengikuti meniru perilaku orang lain. Dalam hal tersebut, dua hal perlu dilakukan untuk mencegah orang mengikuti perilaku yang tidak dibenarkan selama pandemi. 

“Ketika terjadi suatu kerumunan, orang  menjustifikasi tindakannya untuk ikut dalam kerumunan karena orang lain juga melakukannya. Untuk itu, pastikan dua hal yaitu cegah terjadinya tindakan yang melanggar protokol PSBB, tindakan berkerumun dan juga tunjukkan contoh-contoh bagaimana telah banyak orang-orang yang mematuhi perilaku kunci seperti memasang masker dan lain sebagainya," saran Vivi.

Pengetahuan mengenai pentingnya menjalankan protokol kesehatan selama PSBB yang juga diiringi oleh kemauan dari masyarakat tidak akan sepenuhnya bisa dilakukan masyarakat dengan sepenuh hati apabila masyarakat tidak mampu. PSBB telah mendorong banyak masyarakat untuk tinggal di rumah dan tidak bisa bekerja seperti biasa.

Berbagai usaha juga telah tutup karena sedikitnya permintaan di pasar. Kesulitan ekonomi ini telah direspon pemerintah melalui berbagai stimulus dan bantuan. Masyarakat yang tidak mampu untuk melakukan PSBB akan sangat rentan untuk berkegiatan di luar rumah dan mencari pekerjaan, sehingga rentan untuk melanggar protokol kesehatan.

“Tahu dan mau saja tidak cukup pada saat mereka (re: masyarakat) tidak mampu (menjalankan protokol kesehatan). Artinya kita harus memastikan bahwa mereka mampu untuk tinggal di rumah karena kebutuhannya masih bisa terpenuhi, baik melalui bantuan pemerintah atau gotong royong masyarakat," ucap Vivi.

Program pemerintah saat ini sudah terdiri atas berbagai stimulus seperti pemotongan pajak, pelonggaran kredit perbankan, kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, dan lain sebagainya. Namun, program yang paling mendasar yang dapat berdampak bagi masyarakat di saat pandemi adalah Bantuan Langsung Tunai.

“Indonesia sudah berpengalaman melakukan BLT. Selain itu, BLT memberikan kebebasan bagi penerima untuk memenuhi kebutuhannya. Argumen bahwa BLT diselewengkan untuk belanja hal tidak penting seperti rokok tidak terbukti saat ada emergency seperti saat ini. Namun, yang jadi persoalan saat ini adalah “siapa” yang patut dibantu,” ujar Vivi.

Menurut Vivi, dampak dari krisis ekonomi karena pandemi Covid-19 menimpa berbagai lapisan masyarakat, kaya maupun miskin, di kota maupun di desa. Untuk itu, targeting yang tepat menjadi esensial dalam mendistribusikan bantuan. 

“Karena besarnya dampak ini kepada masyarakat, data yang ada saat ini tidak cukup. Untuk itu, perlu inovasi skema on-demand application, dimana bagi mereka yang merasa membutuhkan bisa mengajukan permohonan via aplikasi. Lalu, dari data tersebut diintegrasikan dengan data-data yang ada seperti pulsa, BPJS, token listrik, dan lain sebagainya, sehingga kita bisa merangking siapa yang paling membutuhkan. Hasil studi bersama dengan JPAL-MIT pada Program Keluarga Harapan menunjukkan adanya tingkat error yang lebih minimum saat kita menggunakan skema on-demand application untuk menargetkan penerima,” saran Vivi. 

“Anggap saja pandemi ini sebagai kebakaran di satu kompleks rumah. Kita tidak bisa membagi rata air yang ada untuk memadamkan seluruh rumah, namun kita bisa memadamkan api menggunakan air di rumah yang paling strategis posisinya supaya apinya tidak menyebar ke rumah lain. Di sini kita memahami bahwa adil tidak harus merata,” tutup Vivi. (*)

loading...
 Sumber : Relis /  Editor : Milna Miana

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]