Jargon dan Paslon, Menuju Sumbar 1


Senin, 21 September 2020 - 13:35:58 WIB
Jargon dan Paslon, Menuju Sumbar 1 Satria Haris

Last but not least, KPU Sumbar resmi menerima pendaftaran empat bakal pasangan calon (bapaslon) Gubernur Sumatera Barat 2020 yang diusung parpol dan gabungan parpol pada tanggal 4 hingga 6 september lalu.

Satria Haris - Brand Activator

Ada yang menarik pada momen pendaftaran ini, pertengahan Agustus sempat dilansir pada beberapa sosial media, bapaslon yang akan mendaftar hanya tiga pasangan saja. Tapi, pada hari pendaftar ada empat bapaslon yang dapat mendaftar dengan dukungan yang cukup sebagai syarat administrasi. Ini sebagai tanda setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi membangun sumatera barat kedepannya.

Pertama, Mahyeldi & Audy Joinaldy dengan jargon “Basamo Mambangun Sumatera Barat Madani”. Dilanjutkan dengan Nasrul Abit & Indra Catri dengan jargon “Sumatera Barat Unggul Untuk Semua”. Kemudian, Fakhrizal & Genius Umar dengan jargon “Menapak Jalan Bijak, Mambangkik Batang Tarandam, Sumbar Religius, Sejahtera, Bermartabat”. Dan ditutup Mulyadi & Ali Mukhni dengan jargon “Pemimpin Perubahan, Sumbar Berkah & Sejahtera, Lah Tibo Nan Dinanti, Cerdas Merakyat Kerja Nyata”. 

Apakah jargon ini penting untuk merefleksikan bapaslon dan menarik perhatian 25% masyarakat sumbar yang masuk dalam kategori swing voters dan undecided voters pada Pilkada Sumbar 2020? 

Flashback pada media luar ruang yang digunakan oleh bapaslon dalam memperkuat identitas pada calon pemilih 19 kota kabupaten di Sumbar, mulai dari nama bapaslon, foto dan pakaian khas, tipografi yang digunakan, warna yang mencerminkan partai pengusung, layout yang dikemas semenarik mungkin dan disempurnakan dengan jargon sebagai posisi tawar bagi yang melihat. 

Sejauh mata memandang “condong mato ka nan rancak”, apakah ini dapat mempengaruhi minat pemilih untuk menentukan? Dalam kajian personal branding, jargon menjadi platform komunikasi yang efektif dari bapaslon kepada calon pemilih. Jargon hadir karena kesepakatan, ada yang berangkat dari survey terkait kebutuhan calon pemilih, ada juga berdasarkan keinginan dan harapan yang ingin ditawarkan kepada calon pemilih. 

Hal ini sah-sah saja, tapi sebelum jargon dilempar melalui APK (Alat Peraga Kampanye) pada media luar ruang, sebaiknya dikaji ulang oleh tim kreatif bapaslon, agar pesannya sampai. Jargon dan paslon ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan, saling terhubung saling terkait. Adapun hal penting yang perlu diperhatikan dalam penetapan jargon, pertama “mewakili visi bapaslon secara utuh”, kedua “menggunakan bahasa yang komunikatif”, ketiga “singkat dan jelas pada goals yang ingin dicapai”. 

Jargon sebagai part of branding tidak dapat dihasilkan pada waktu yang singkat, karena ada sebuah nilai yang ingin disampaikan. Jika ini sudah dipersiapkan, media sebagai platform komunikasi dapat dirancang (by design). Pada tanggal 23 september mendatang, KPU Sumbar akan menginformasikan penetapan paslon kepala daerah, dan tanggal 24 september akan dilaksanakan pengundian nomor urut.

Dalam buku personal branding, confusius pernah berkata “Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan”, karena setiap jargon merupakan bagian terpenting bagi bapaslon. (*)

loading...
 Editor : Agoes Embun

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]