NTB Jadi Provinsi dengan Angka Kesakitan Paling Tinggi


Jumat, 18 September 2020 - 06:25:13 WIB
NTB Jadi Provinsi dengan Angka Kesakitan Paling Tinggi Ilustrasi orang sakit.

HARIANHALUAN.COM - Tingkat morbiditas (kesakitan) tertinggi di Indonesia ternyata dicatatkan oleh Nusa Tenggara Barat (NTB). Tingkat morbiditas di provinsi ini mencapai 22,69%.

Di bawah NTB, ada Gorontalo dengan persentase 22,22%, dan Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan angka 21,90%.

Meski demikian, jumlah warga yang menolak berobat jalan karena tidak punya biaya di ketiga provinsi itu tidaklah banyak. Persentasenya hanya 1,40% untuk NTB, 0,11% untuk Gorontalo, dan 1,28% untuk NTT, angka ini jelas berada di bawah rata-rata nasional, yakni 1,42%

Papua menjadi provinsi dengan tingkat morbiditas terendah, yakni hanya 8,03% saja. Papua diikuti oleh Kepulauan Riau dengan tingkat morbiditas 9,14%.

Persentase warga di Papua yang kesulitan berobat jalan karena tidak punya biaya juga cukup rendah dan masih di bawah rata-rata, yaitu 0,40%. Sementara itu, di Kepulauan Riau persentasenya 1,05%.

Seperti disebutkan di atas, semakin tinggi tingkat morbiditas maka semakin buruk derajat kesehatan masyarakat. Yang artinya, jika semakin rendah nilainya, maka semakin baik derajat kesehatan masyarakat di daerah tersebut.

Tingkat morbiditas yang tinggi di suatu provinsi menandakan banyaknya keluhan kesehatan yang dialami penduduk di provinsi tersebut. Namun, persentase penduduk yang tidak berobat jalan karena ketiadaan biaya ternyata tidak langsung mempengaruhi tingkat morbiditas.

Betul sekali bahwasannya, biaya kesehatan memang terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Oleh sebab itu, seorang memang disarankan memiliki jaminan kesehatan seperti BPJS atau asuransi kesehatan swasta.

Namun faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan suatu masyarakat di suatu provinsi, bukan hanya lantaran ketiadaan materi, dalam hal ini uang. Menurut teori seorang pakar di University of California, Berkeley, sekaligus reformator Hendrik H.L. Blum yang seringkali disebut sebagai Bapak Perencanaan Kesehatan, faktor-faktor yang dimaksud adalah faktor lingkungan, perilaku, kesehatan, dan keturunan.

Faktor lingkungan bisa berupa kualitas air minum, akses terhadap sumber air minum, akses pembuangan tinja layak, dan sebagainya. (*)

loading...
 Sumber : Relis /  Editor : Milna Miana

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]