Mana Lebih Akurat, Rapid Test atau Swab Test? Ini Kata Dokter


Sabtu, 25 Juli 2020 - 13:34:06 WIB
Mana Lebih Akurat, Rapid Test atau Swab Test? Ini Kata Dokter Pemain Persib Bandung jalani tes virus corona. Foto: VIVA/Dede Idrus

HARIANHALUAN.COM - Kini melakukan rapid test dan swab test merupakan suatu keharusan karena bisa mengetahui apakah seseorang itu terdampak virus Corona atau Covid-19 atau tidak. Lalu, mana yang lebih akurat, atau harus dilakukan keduanya. Simak penjelasan dokter.

Apalagi masa pandemi covid-19 yang masih belum diketahui sampai kapan, membuat penggunaan rapid test dan swab test sangat penting.

Spesialis Paru, dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K) menjelaskan bahwa sejak awal ditemukannya kasus COVID-19 di Indonesia pada Maret lalu, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) standar pemeriksaan diagnosis COVID-19 ini berbasis pada pemeriksaan PCR dari swab tenggorokan, swab hidung atau saluran napas dengan pemeriksaan RT PCR.

"Kalau ditemukan positif PCR-nya SARS-Cov-2 maka itu dikatakan COVID-19," kata dia dikutip dari Viva.co.id, Sabtu, 25 Juli 2020.

Selain, menggunakan PCR, Agus menyebut pemeriksaan untuk mendiagnosis COVID-19 juga bisa dilakukan dengan menggunakan PCR berbasis Tes Cepat Molekuler (TCM). Pemeriksaan pada TCM ini menggunakan dahak dengan amplifikasi asam nukleat berbasis cartridge. Tes ini akan mengidentifikasi RNA pada virus corona pada mesin yang menggunakan cartridge khusus yang bisa mendeteksi virus ini.

"Dengan PCR ini mendeteksi DNA virus tersebut untuk langsung tau komponen virus yang dideteksi itu. Jadi memang standarnya itu dan tidak bisa ditawar-tawar dari awal WHO statement kemudian keluar pedoman protokol organisasi profesi maupun Kementerian Kesehatan sebenarnya untuk diagnosis menggunakan PCR," kata dia.

Sedangkan rapid test, pada dasarnya berbeda dengan PCR. Pemeriksaan rapid test ini digunakan untuk mendeteksi antibodi yaitu lgM dan lgG, yang diproduksi tubuh untuk melawan virus corona. Agus menjelaskan, Rapid test yang biasa dipakai adalah rapid test berbasis antibodi yang sampelnya diambil dari darah. Sampel darah nantinya diperiksa untuk mengetahui antibodi seseorang terhadap virus COVID-19.

Namun, Agus menjelaskan, PDPI sendiri sejak awal tidak merekomendasikan penggunaan rapid test baik untuk skrining ataupun diagnostik. Karena, rapid test memiliki kelemahan, yakni bisa menghasilkan 'false negative' yakni ketika hasil tes tampak negatif meski sebenarnya positif. Ini terjadi jika rapid test dilakukan kurang dari 7 hari setelah terinfeksi.

"Padahal antibodi kan diperiksa belum tentu terbentuk atau bahkan tidak terbentuk sehingga tidak terdeteksi. Jadi bisa saja seseorang terinfeksi hari ini kemudian belum muncul gejala, kalau teorinya dia muncul antibodi muncul hari ke 7 hingga hari ke-10. Diantara hari ke 0 hingga ke 7 seseorang terinfeksi tidak akan terdeteksi antibodi sehingga menjadi false negatif itu kekurangannya," jelas dia. (*)

loading...
 Sumber : Viva.co.id /  Editor : Milna Miana

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]