Kasus Pembunuhan di Teluk Bayur Masuk Persidangan, Kuasa Hukum: Dilakukan Karena Bela Diri


Kamis, 23 Juli 2020 - 19:36:51 WIB
Kasus Pembunuhan di Teluk Bayur Masuk Persidangan, Kuasa Hukum: Dilakukan Karena Bela Diri Sidang kasus pembunuhan di Teluk Bayur.

HARIANHALUAN.COM - Kasus pembunuhan di Teluk Bayur sudah masuk di ranah persidangan. Kuasa hukum terdakwa perkara pembunuhan Teluk Bayur ini berpendapat tindakan kliennya Efendi Putra dan Eko Sulistiyono dalam tindak pidana pembunuhan yang menimpa Adek Firdaus itu karena terpaksa untuk membela diri. 

Pasalnya, nyawa kedua kliennya itu terancam lantaran korban diduga berupaya untuk membunuh dengan dua senjata tajam (sajam) yakni, pisau dapur dan parang yang dibawa saat memasuki kawasan dermaga Beton Teluk Bayur tanpa izin pada Rabu (1/1/2020) lalu sekitar pukul 04.00 dinihari. Dia menyebut, tidak ada maksud untuk mengintervensi hak prerogatif jaksa dan hakim. 

"Namun di satu sisi, secara hukum klien kami membela diri. Dengan keterpaksaan karena nyawa terancam," ungkap Kuasa Hukum Terdakwa Julaiddin Cs, Kamis (23/7/2020).

Berdasarkan reka ulang peristiwa pada 20 Februari lalu, saat korban memasuki kawasan Dermaga Beton menuju Derma Curah Teluk Bayur. Diketahui, kliennya yang bertugas sebagai sekuriti telah memberikan arahan secara baik-baik kepada korban. Kalau ada niat jahat Efendi dan Eko untuk menghabisi nyawa Adek, maka dari awal sudah dilakukan. 

"Nah, dari awal memang tidak ada niat jahat Efendi dan Eko untuk melakukan itu. Sesuai tugas, mereka hanya memberi pengarahan agar korban keluar dari kawasan Pelabuhan Teluk Bayur," imbuhnya.

Setelah diberi pengarahan, korban bukannya keluar tapi malah masuk kawasan mess karyawan. Karena tindakan itu, terdakwa Eko kembali mendatangi korban, sementara Efendi berjaga di pos jaga area pelabuhan. Saat mendatangi korban, Eko kembali menegur dengan baik agar korban keluar. Tapi korban malahan melawan dan mencaci maki. 

"Menanggapi itu, Eko memberikan pukulan peringatan pakai tongkat satpam. Korban melawan dan terjadi perkelahian," terangnya.

Ternyata, korban membawa dua pucuk senjata tajam, yaitu pisau dapur dan parang. Mengetahui hal itu, Terdakwa Eko memberi sinyal pakai senter kepada Efendi agar datang. Saat Efendi datang, korban mengeluarkan pisau dan berniat untuk menusuk Eko. Namun berhasil ditepis oleh Efendi sehingga pisau tersebut terjatuh ke tanah. Melihat kejadian itu, Eko mundur karena merasa tidak sanggup.

Setelah itu, kata Julaiddin, Efendi berusaha mengambil pisau. Saat menunduk, ternyata korban mengeluarkan parang dan berniat untuk menebas leher Efendi. Merasa terancam, Efendi mengelak dan terpaksa harus melumpuhkan korban dengan menusukkan pisau ke paha korban. Bukannya menyerah, ternyata korban kembali mengayunkan parang ke arah Efendi. 

Efendi juga kembali berusaha melumpuhkan korban dengan cara menusukkan pisau ke bagian paha, namun ditangkis oleh korban sehingga mengenai dadanya. Korban pertama sebenarnya sekuriti, namun pembelaan diri terpaksa harus dilakukan karena kalau tidak, nyawa mereka akan terancam. 

"Menurut pandangan hukum kami, ini terpaksa dilakukan, bukan kehendak atau keinginan untuk melakukan itu. Kalau ingin melakukan itu, dari awal sudah dilakukan," sebut Julaiddin.

Selain itu, dalam persidangan juga terungkap, korban memasuki kawasan Dermaga Beton sekitar pukul 03.00 WIB hingga 04.00 WIB. Dimana, saat itu masih jam istirahat karyawan. Diduga ada niat tidak baik yang akan dilakukan korban. Korban juga diduga selalu melakukan tindak pidana seperti pencurian barang milik orang lain di kawasan Pelabuhan Teluk Bayur dan di kapal 

"Dengan dugaan tersebut, sekuriti lebih waspada terhadap apa yang dilakukan korban. Langkah ini diambil untuk antisipasi, sebab sesuai tugas mereka digaji untuk menjaga pelabuhan," katanya.

Lebih lanjut Julaiddin menyatakan, berdasarkan rekonstruksi peristiwa, pihaknya selaku kuasa hukum menginginkan agar Efendi dan Eko dibebaskan demi hukum. Sebab, pembunuhan dilakukan murni atas dasar keterpaksaan untuk membela diri, bukan keinginan apalagi berencana. "Kami tidak bermaksud untuk mengintervensi, tapi kami meminta kepada jaksa dan hakim untuk melihat rangkaian peristiwa ini dengan sesungguhnya," tutup Julaiddin.

Sementara itu, JPU Kejari Padang yang menangani perkara, Irna mengatakan bahwa perkara ini telah masuk ke ranah pengadilan. Untuk itu, perlu dilihat terlebih dulu fakta persidangan melalui keterangan para saksi. "Nanti kita lihat fakta di persidangan. Masih ada beberapa saksi yang akan dimintai keterangan. Bagaimana faktanya, apakah membela diri atau bagaimana. Nah fakta persidangan itu nanti yang akan menjadi dasar pertimbangan majelis hakim untuk membuat putusan," katanya. (*)

loading...
Reporter : Buliza Rahmat /  Editor : Agoes Embun

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]