Harian Haluan

Harianhaluan.com

MENJUAL RASA DAN SELERA

Bakmi DKI Kini Hadir di Padang

Bakmi DKI Kini Hadir di Padang
Dedi Suryadi diapit Eko Yanche Edrie dan Hasril Chaniago, di depan outlet Bakmi DKI Cabang Padang, Jl. Veteran No.69.  

PADANG, HALUAN — Bagi Anda penggemar mie, ini saatnya berburu kuliner terbaru dengan rasa dan kualitas yang oke. Ya, Bak­mi DKI, demikian sang pemilik Dedi Suryadi, 55, memberi nama, kini hadir di Padang. Tepatnya di Jl. Veteran No.­69, Padang.

Saat soft opening outlet ke-13 di Indonesia ini, Ming­gu (28/8), Dedi yang putra Padangpanjang itu, hadir bersama dua saha­batnya yang kemudian jadi advisor Bakmi DKI Cabang Padang Hasril Chaniago, serta Komunikator Bakmi DKI Cabang Padang Eko Yanche Edrie.

Kepada Haluan, ia me­ngaku bangga jadi orang Minang, yang sukses de­ngan bisnis mie. Karena, dulunya, pemain bisnis mie sangat kental dengan bangsa chinese.

“Ini otlet ke-13, mudah-mudahan cocok dengan lidah urang awak  di kam­pung halaman,” kata Hasril Cha­niago yang juga  war­tawan senior itu.

Bakmi DKI dimulai dari kisah 14 tahun silam  saat itu, Dedi Suryadi (55) ber­sama istrinya Ima mulai mengadu peruntungan mem­bangun usaha bakmi. Padahal ketika itu sejumlah brand bakmi terkenal sudah duluan melaju di bisnis kuliner ibukota.

Bakmi DKI, nama yang muncul tak sengaja, akhir­nya menjadi salah satu bak­mi terkenal di Jakarta. “Tak banyak yang tahu kalau itu adalah milik urang awak. Padahal awalnya diberi nama Bakmi 511,” kata Dedi di­dampingi Hasril Chaniago.

Nama Bakmi DKI lahir setelah Bakmi 511 pertama dibuka di depan Bank DKI Pasar Slipi, Jakarta Barat. Ketika para penggemar bak­mi tahu bahwa ada bakmi yang ‘beda’ dari bakmi yang ada, pelanggan pun berda­tangan. Nama bakmi 511 ‘tenggelam’ oleh nama tem­patnya yang di depan Bank DKI. Sejak tu perlahan na­manya lebih dikenal dengan Bakmi DKI.

“Ya, sudah, kita paten­kan saja merk itu menjadi Bakmi DKI hingga jumlah outlet terus berkembang dan tum­buh,” ujar Dedi Suryadi.

Satu hal yang membe­dakan Bakmi DKI dengan yang lain, seluruh bahannya diproduksi sendiri. Mi dibu­at sendiri, bakso diolah sendiri.

“Mi kita produksi sen­diri dan hanya dipakai untuk sehari, setelah itu jika tak terpakai akan dibuang karena kita tak pakai bahan penga­wet, semuanya meng­gunakan bahan orisinil,” kata Dedi yang kini me­miliki sembilan karyawan untuk melayani pelanggan di tahap awal ini.

Selain Bakmi yang men­jadi core menu, nasi goreng kambing termasuk menu andalan di semua outlet Bak­mi DKI. Kebetulan di Padang nasi goreng kambing masih terbilang baru. Di tengah ramainya bisnis kuliner di Padang saat ini, Bakmi DKI berke­ya­kinan bahwa mereka tidak menjual ‘suasana’ me­la­inkan menjual ‘rasa dan selera’. Bakmi DKI buatan urang awak  tak hanya dinik­mati warga Jakarta, tapi juga warga Padang dan sekitarnya.

Seperti halnya kuliner mie lain, harga untuk se­porsi hidangan ini terbilang stan­dar.  Misalnya, seporsi mie ayam original Rp­15.­000, bakmi ayam pangsit Rp­18.000, bakmi ayam bak­so Rp19.000, bakmi ayam pang­sit goreng Rp­19.000, bakmi ayam kom­plit goreng Rp23.000 dan aneka hi­dangan mie lainnya.

Juga tersedia nasi goreng spesial Rp20.000, nasi goreng kambing Rp25.000, ayam cobek Rp25.000 dan soto betawi Rp25.000. Ane­ka minuman juga tersedia di sini dengan harga sangat terjang­kau.

“Kami buka tiap hari mulai pukul 11.00 WIB sam­pai pukul 22.00 WIB. Silah­kan datang dan nikmati hi­dangan spesial kami,” tutup Eko. (h/atv)

Loading...
Loading...
Loading...