Harian Haluan

Harianhaluan.com

HJK ke-12 Solsel

Daerah Kaya SDA Terus Berbenah

Daerah  Kaya SDA Terus Berbenah
PJ Bupati Solsel, Erizal bersama Ny. Sri Arnetti Erizal saat pemotongan pita pembukaan pameran dan promosi produk, serta potensi Solsel dalam rangka HJK ke-12. 

Daerah yang kaya akan Sumber Daya Alam (SDA) ini, terus berbenah untuk mewujudkan masyarakat Solsel  yang religius, ten­tram dan sejahtera, serta bisa sejajar dengan daerah lain di Sumbar dari segi pengem­bangan bidang pertanian, infrastruktur, kesehatan, pariwisata serta bidang pen­didikan. 

Sejak pemekaran dari Kabupaten Solok pada 2004, Solsel telah dipimpin dua kepala daerah defenitif, periode 2005-2010 di­pim­pin Drs Syafrizal. J-Nur­firmanwansyah, Apt MM dan periode 2010-2015 di­pimpin H Muzni Zakaria, M Eng–Abdurrahman, SH MH. Daerah ini telah sukses mewujudkan keberhasilan diberbagai bidang.

Terhitung 20 Agustus 2015, Kepala Inspektorat Sumbar, Erizal dilantik Penjabat (Pj) Gubernur Sumbar, Reydonnyzar Moe­nek sebagai Pj Bupati Solsel. Hampir lima bulan Pj Bupati Erizal memimpin Solsel.

Erizal mengharapkan Solsel ke depan mampu meningkatkan kehar­moni­san hubungan antara ekse­kutif dan legislatif di daerah Seribu Rumah Gadang itu. Selain itu, Aparatur Sipil Negara (ASN) juga dapat meningkatkan profesional kerja dan disiplin kerja. Kemudian, terkait capaian penggunaan anggaran dae­rah sudah terealisasi.

“Alhamdulilah, dengan kerja sama semua pihak realisasi anggaran 2015 tercapai lebih dari 90 per­sen,” kata Erizal.

Terkait pembangunan di bidang infrastruktur ja­lan. Solsel tengah mengem­bangan jalan tembus ke Kabupaten Dharmasraya dari Solsel sekitar 80 kilo­meter dan terdiri dari dua arah, yaitu Solok Selatan-Sungai Rumbai, Solok Sela­tan-Pulau Punjung, telah dialokasikan dari APBD Solsel, APBD Sumbar dan APBN.

Diyakini pengembangan infrastruktur jalan tersebut mampu menggenjot pere­konomian masyarakat, serta membebaskan nagari dari ketertinggalan. Bahkan, pe­ningkatan status jalan pro­vinsi ke nasional dari Lubuk Selasih sampai perbatasan Jambi sepanjang 170 km, akan segera terwujud pada 2016.

Anggota DPRD Pro­vin­si Sumbar asal Solsel, Irwan Afriadi berharap tidak ada permasalahan yang terjadi terkait ganti-rugi lahan dan tanaman saat pelebaran ja­lan Padang lewat jalur Lu­buk Selasih menuju Solsel. Sebab, katanya, dapat meng­hambat pembangunan yang direncanakan akan direa­lisasikan pada April 2016 nanti.

Di bidang kesehatan, Solsel berhasil mencapai program MdGS, seperti pemberantasan kemiskinan dan kelaparan, penurunan angka kematian balita, pe­ning­katan kesehatan ibu hamil, pemberantasan pe­nya­kit HIV/AIDS, malaria dan penyakit infeksi lain­nya. Kemudian meles­tari­kan kesehatan lingkungan.

Sementara Kepala Di­nas Kesehatan Solsel, Dr Novirman, SKM MM me­nye­butkan, sesuai tar­get kesehatan ibu dan bayi pada 2015. Indikator angka kematian ibu dengan target 102 persen dari 100.000 keluarga harapan (KH). Untuk capaian hingga Sep­tember, tercatat 134 persen dengan lima kasus. Sedang­kan angka kematian bayi dengan target 23 persen dari 1.000 KH. Hingga Septem­ber, capaian enam persen dengan 23 kasus.

Sementara masyarakat yang mendapatkan perawa­tan yang mengalami gizi buruk tercatat enam kasus hingga September. Untuk akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dasar dan posyandu, terdapat de­la­pan puskesmas dari tujuh kecamatan. Bahkan, penam­bahan puskesmas telah dila­kukan di Kecamatan Sangir Batang Hari.

“Pada 2016, puskesmas yang dapat difungsikan seba­nyak sembilan. Sedangkan, untuk posyandu aktif ber­jumlah 269 di masing-ma­sing jorong di Solsel,” tam­bah Novirman.

Ditambahkannya, pada 2014 Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dari 153. 100 penduduk telah terea­lisasi 102.947 orang atau 67 persen yang memanfaatkan program BPJS Kesehatan. Dengan rincian, penggguna Jamkesmas 47.947 orang dan pengguna Jamkesda 55.000 orang.

Sedangkan pada 2015 hingga September, tercatat dari jumlah 159.796 pen­duduk telah terealisasi 102. 617 atau 64 persen. Dengan rincian, pengguna Jam­kes­mas 47.947 dan Jamkesda 54.670 orang.

Di bidang Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sol­sel berhasil mengurangi angka kemiskinan sebanyak 4.251 jiwa dari 2010 hingga 2013. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka kemiskinan di Solsel terus berkurang dari tahun ke tahun. Pada 2010, angka kemiskinan menca­pai 9.484 jiwa. Pada 2011 berkurang menjadi 8.709 jiwa, tahun 2012 sebanyak 7.849 dan pada 2013 tersisa 5.203 orang.

Kepala Dinsosnaker­trans Solsel, Zulkarnaini mengatakan, dengan kerja sama berbagai pihak ia terus berupaya menekan angka kemiskinan di Solsel dengan berbagai program, seperti pelatihan keterampilan te­naga kerja bagi masyarakat yang masih menganggur, seperti menjahit, otomotif, las dan lainnya.

“Berkat adanya kete­ram­pilan masyarakat de­ngan sendirinya memiliki pekerjaan, sehingga bisa menekan angka kemis­ki­nan,” katanya.

Bidang Pendidikan, Sol­sel juga terus berupaya me­ningkatkan perluasan akses pendidikan melalui instansi informal. Yaitu, melalui program pendidikan terha­dap masyarakat biasa. Di­wu­judkan dengan mem­ben­tuk Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Mas­yarakat yang masih buta huruf, bisa belajar dengan gratis di PKBM dan me­ngasah minat keahlian yang diminati. Seperti masya­rakat yang mempunyai hobi perbengkelan.

Selain itu, perhatian serius juga ditujukan bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Pada November 2015 lalu, Pemkab Solsel mendeklarasikan pendi­dikan inklusif bagi ABK. Acara yang dihadiri Kasu­bib Dikdasmen Ke­men­terian Pendidi­kan Nasional, Sanusi beserta jajaran.

Kepala Dinas Pendi­dikan Solsel, Fidel Effendi mengatakan, ABK pada se­tiap jenjang pendidikan di Solsel berjumlah 473 orang. Keberadaanya berdasarkan data pada tingkat sekolah dasar 172 orang, SMP 145 orang, SMA 60 orang, SMK 16 orang dan SLB 80 orang.

ABK tersebut terdiri dari tuna netra, tunarungu, tuna grahita, tuna daksa dan tuna laras. Pendidi­kan in­klusif di Solsel, sebe­lumnya telah dimulai semenjak ta­hun ajaran 2014/2015, di mana anak berkebutuhan khusus sudah diberi kesem­patan untuk mengi­ku­ti pendidikan di sekolah reguler dengan pendam­pingan dari guru SLB yang di Solsel.

Untuk menun­jang pendidikan inklusif, Ke­mendikbud telah meleng­kapi sarana dan prasarana standar minimal dari pendidikan inklusif. Selain itu, sebagai bentuk komit­men dan dukungan peme­rintah daerah melalui APBD 2015 telah menye­diakan dana untuk pen­dukung susksesnya pendi­dikan inklusif tersebut. (*)

Loading...
Ikuti kami di
Loading...
Loading...