Mencari Hingga ke Payakumbuh, Pria Ini Bertemu Ibunya di Lampung Selatan


Minggu,02 Juli 2017 - 20:49:45 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Mencari Hingga ke Payakumbuh, Pria Ini Bertemu Ibunya di Lampung Selatan Ikang berfoto bersama ibunya

PAYAKUMBUH, HALUAN – Masih ingat dengan pemuda asal desa Muara Saling, Kecamatan Muara Saling, Kabupaten Empat Lawang, Provinsi Sumatera Selatan, Ikang Pangestu (20) yang nekat ke Kota Payakumbuh untuk mencari ibu kandungnya yang telah terpisah selama 19 tahun pada 23 Mei 2017 silam.

Saat ini ia sudah berkumpul dengan ibu kandungnya, Tuty Melinda Surya Ningsih di Kelurahan Ratu, RT 03 RW 01 Kecamatan Katibung, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Perjuangan dan kisah Ikang sempat menyita banyak perhatian masyarakat Payakumbuh saat ia nekat berangkat dari desanya yang ditemani seorang teman, Hendri (20) dengan modal Rp 500 ribu.

Di Payakumbuh, Ikang mencari informasi terkait keberadaan Ibunya berdasarkan informasi dari sang paman (kakak ayah Ikang-red) yang konon berasal dari Kubu Gadang, Kota Payakumbuh. Di sini, ia mendapatkan data orang yang sama persis dengan ibunya dari Disdukcapil Kota Payakumbuh. Namun, alamat orang tersebut bukan di Payakumbuh, melainkan di Lampung Selatan.

Untuk memastikan data dan informasi dari Disdukcapil, ia tetap berkeliling di Payakumbuh mencari informasi tambahan selama tiga hari. Setelah yakin orang yang didata Disdukcapil adalah ibu kandungnya, Ikang akhirnya pulang ke Muara Saling tanggal 25 Mei 2017 untuk berkonsultasi dengan pamannya. Sebelum pulang, ia sempat meminta wartawan di Payakumbuh untuk menyebarkan informasi perjalanannya baik di media cetak, sosial dan online.

Hal inilah yang membuat informasi pencarian Ikang akan ibu kandungnya didengar oleh salah seorang anggota DPRD Kabupaten Lampung Selatan dan turut membantu Ikang.

Ikang yang dihubungi Haluan melalui seluler mengisahkan di awal bulan Ramadhan, ia telah berada di Lampung Selatan dan dipertemukan dengan ibu kandungnya oleh pihak kelurahan Tanjung Ratu, Lampung Selatan. Namun saat itu, ibunya tidak mengakui Ikang sebagai anaknya. Hal ini dikarenakan traumatic masa lalu yang dialami oleh Tuti.

“Berdasarkan beberapa informasi yang valid dari masyarakat Tanjung Ratu dan Paman saya, ia adalah ibu kandung saya. kami dipertemukan oleh pihak kelurahan Tanjung Ratu di kantor Lurah. Tapi saat itu, ia belum mau mengakui saya sebagai anaknya,” kata Ikang, Minggu (2/7).

Dijelaskan Ikang, dari pengakuan ibunya ia memang benar berasal dari Payakumbuh dan memiliki adik bernama Wira. Hal ini sama dengan penuturan Paman Ikang, Marjohan yang sekarang berdomisili di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Karena belum diakui, akhirnya Ikang memutuskan untuk menetap sementara waktu di rumah ketua RT dekat ibunya tinggal dan meminta pamannya datang ke Tanjung Ratu.

Sesampai Marjohan di Tanjung Ratu, untuk kedua kalinya Ikang dipertemukan dengan Tuty. Disini sempat Marjohan menggunakan bahasa Lubuk Linggau berbicara dan Tuty menyahut dengan bahasa Lubuk Linggau juga. Namun, tetap saja Tuty menolak mengakui Ikang sebagai anaknya. Sampai akhirnya, Ikang meminta untuk dijadikan anak angkatnya saja dan diperbolehkan berbakti kepada Tuty. Tapi tetap ditolak.

Merasa ditolak menjadi anak kandungnya, akhirnya Ikang pulang ke Muara Saling bersama Pamannya. Sejak ia meninggalkan Tanjung Ratu, dirinya tetap berdoa agar sang ibu mengakuinya sebagai anak. Pasalnya, Ikang sangat yakin Tuty adalah ibu kandungnya. Di pertengahan bulan Ramadhan, akhirnya doa Ikang diijabah oleh Allah SWT. Tuty akhirnya menelpon Ikang yang sudah di Muara Saling dan meminta maaf karena telah menolak untuk mengakuinya sebagai anak.

“Alhamdulillah doa saya dikabulkan oleh Allah SWT di pertengahan Ramadhan. Ibu nelpon saya dan minta maaf karena sempat menolak untuk mengakui sebagai anak. Keesokan harinya, saya langsung ke Tanjung Ratu lagi dan berkumpul bersama ibu,” kata Ikang.

Di hari Raya Idul Fitri 1438 H, pertama kali bagi Ikang merasakan hangatnya sebuah hari kemenangan bersama keluarga. Pasalnya, sejak dirinya di tinggal oleh ibu diusia 9 bulan, Ikang tak pernah berlebaran bersama keluarga. Hari-hari Idul Fitri hanya dilewati dengan sepi. Pasalnya, Ayah Ikang juga telah tiada saat ia berusia 1,5 tahun.

“Lebaran kali ini sangat indah. Pertama kalinya berkumpul dengan keluarga saya setelah 19 tahun berpisah. Inilah kemenangan bagi saya bisa merayakan hari besar Idul Fitri bersama ibu dan memiliki keluarga lagi,” tuturnya.

Dalam waktu dekat, Ikang berencana untuk mengunjungi Payakumbuh untuk mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Payakumbuh yang telah banyak membantu dan mendukungnya dalam mencari ibu kandungnya ini.

“Terima kasih banyak kepada  masyarakat Payakumbuh yang banyak membantu saya baik saat di Payakumbuh maupun setelah berangkat ke Muara Saling dan Lampung ini. Dukungan dan bantuan selama ini sangat luar biasa dan susah rasanya untuk membalas. Insya Allah dalam waktu dekat saya akan ke Payakumbuh,” kata Ikang. (h/ang)


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM