Deki, Remaja Tegar yang Tak Mudah Menyerah Menggapai Mimpi


Minggu,02 Juli 2017 - 10:43:53 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Deki, Remaja Tegar yang Tak Mudah Menyerah Menggapai Mimpi Deki dan ibunya Asrida saat dikunjungi tim UGM Juni lalu. IST/DOK. UGM

Deki Putra Ananda (19) mencuci piring, menyapu lantai, mengantarkan makanan, dan melakukan apa yang bisa ia bantu di rumah makan yang dikelola kakaknya di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara. Setamat sekolah, Deki rela beranjak sesaat dari kampung halamannya di Jorong Tiga Batur, Nagari Sungai Tarab, Tanah Datar sana, demi rupiah yang akan ia jadikan modal awal untuk kuliah di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.  Rencananya, akhir Juli ini, ia akan memulai pengembaraannya di Kota Gudeg itu, demi mimpi mengenyam pendidikan tinggi.

Laporan : Holy Adib

Demikian Deki menceritakan bagian upayanya untuk kuliah di UGM sebagai siswa undangan. Kepada Haluan melalui sambungan telepon, Sabtu (1/7), ia mengisahkan usahanya mengumpulkan uang dan mencari penghasilan tambahan untuk kuliah.

Deki merupakan siswa lulusan SMA 1 Batusangkar. Mei lalu, ia diterima sebagai mahasiswa Program Studi (Prodi) Elektronika dan Instrumentasi (ELINS) FMIPA UGM melalui jalur SNMPTN. Ia mendapatkan beasiswa bidikmisi sehingga dibebaskan dari biaya kuliah hingga delapan semester. Beasiswa bidikmisi itu diberikan kepada pelajar berprestasi dari keluarga kurang mampu.

Meskipun dari keluarga kurang mampu, Deki memiliki semangat yang kuat untuk bisa kuliah. Sejak kecil, ia menabung untuk mewujudkan keinginannya itu.

“Saya diajari Ibu menabung sejak kecil. Kata beliau, apa pun yang kita inginkan akan kita dapatkan dengan menabung,” tutur laki-laki yang dilahirkan pada 15 Juni 1998 itu.

Uang yang ditabungnya itu adalah uang jajan, beasiswa, dana bantuan anak yatim dari masjid, dan uang pemberian dari orang. Sejak kelas III SMA, ia mendapatkan uang tambahan Rp300 ribu dari hasil bekerja menjaga kebersihan musala. Ia pun menabung uang itu.

Perihal menabung ini, Deki punya kisah menarik. Uang tabungannya dicuri orang. Sejak SD sampai SMP, ia menyimpan uang di rumah. Ketika SD, ia menyimpan uang di celengan. Celengan itu dicuri orang. Setelah kejadian itu, ia menabung di banyak tempat, misalnya di dalam Alquran yang telah tua, di buku, di dalam sarung bantal, dan di dalam tas. Mulai SMA, ia memindahkan tabungannya ke bank. Dari uang tabungan itu, ia membeli laptop pada akhir kelas I SMA. Namun, spesifikasi laptop itu, menurutnya, tidak cocok untuk jurusan kuliahnya di UGM.

Deki juga menabungkan beasiswa yang diperoleh dari Baznas Tanah Datar. Terakhir, ia diberi beasiswa oleh Baznas Tanah Datar sebesar Rp2 juta.

“Saya juga mendapatkan beasiswa bulanan dari Rumah Santunan Raudhah,” ucapnya.

Ketua Rumah Santunan Raudhah, Emrizal, mengatakan, Deki adalah salah seorang dari 14 orang anak asuhnya. Pihaknya memberikan beasiswa sebanyak Rp250 ribu sampai Rp400 ribu per bulan kepada tiap anak.

“Kami memberikan beasiswa bulanan kepada pelajar dari keluarga kurang mampu dan anak yatim dan piatu, khususnya untuk anak-anak yang tinggal di Jorong Tiga Batur. Kami juga memberikan beasiswa bulanan kepada siswa berprestasi pada SLTA dan perguruan tinggi. Jadi, beasiswa untuk Deki dilanjutkan pada saat dia kuliah nanti,” ujar Wali Nagari Sungai Tarab itu.

Dari semua uang yang diperolehnya, Deki menabungnya hanya untuk satu tujuan yang telah lama dipikirkannya: kuliah.

“Saya punya keinginan kuat untuk kuliah agar bisa mengubah nasib keluarga, membahagiakan Ibu. Saya ingin membuatkan rumah untuk Ibu karena rumah yang kami tempati kini sudah usang. Saya tidak ingin melihat Ibu kesusahan waktu tua nanti,” tuturnya. Mereka tinggal di sebuah pondok kayu berukuran 4x6 meter di Jorong Tiga Batur, Nagari Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat.

Ibu Deki, Asrida (57), merupakan juru masak dan pencuci piring di Pondok Flora, rumah makan di Sungai Tarab. Saat ini gajinya di rumah makan itu Rp175 ribu seminggu. Dengan bekerja di rumah makan itulah ia membesarkan keempat anaknya sejak suaminya meninggal 19 tahun silam, ketika Deki berumur 6 bulan.

Dengan pekerjaannya itu, Asrida tidak memiliki kekuatan untuk menyekolahkan anaknya di perguruan tinggi. Anak pertamanya hanya lulusan SD, anak kedua lulusan SMP, dan anak ketiganya lulusan SMA.

Ketika mengetahui Deki, anak bungsunya, lulus SNMPTN, Asrida menangis saking senangnya. Hari itu, Rabu (26/5), ia diberi tahu oleh Deki perihal kelulusan itu. Asrida pun bercucuran air mata mendengar kabar itu karena akhirnya ada juga anaknya yang kuliah. Selama ini, tidak terpikirkan olehnya untuk menguliahkan anaknya.

“Ibu gembira sekaligus sedih: gembira karena saya bisa kuliah, sedih karena saya akan jauh dari beliau, dan membayangkan bagaimana saya bertahan hidup di rantau,” tutur Deki.

Untuk bertahan hidup di Yogyakarta nanti, kata Deki, ia akan mengandalkan semua uang tabungannya yang ditabungnya sejak kecil itu. Saat ditanya, apakah uang itu cukup biaya hidup selama empat tahun, ia tidak tahu, apalagi tidak tahu jumlah pengeluaran saat kuliah.

“Setidaknya saya tidak memikirkan tempat tinggal sehingga saya tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membayar kosan. Humas UGM mencarikan saya tempat tinggal. Ada orang Yogya yang sukarela mengizinkan saya tinggal di kosannya tanpa harus membayar. Sebenarnya, siswa undangan di UGM bisa pilih tinggal asrama atau tidak. Saya tidak pilih asrama karena jauh dari kampus,” tuturnya.

Mengenai jurusan Prodi ELINS, Deki mengatakan, alasannya memilih jurusan itu untuk mewujudkan cita-citanya menjadi insinyur karena ingin seperti B.J. Habibie, yang merupakan tokoh idolanya.

“Saya ingin menjadi insinyur karena Indonesia kekurangan insinyur. Indonesia ketinggalan di bidang teknologi. Saya ingin memajukan Indonesia di bidang teknologi agar tidak tertinggal daripada negara lain. Dengan mengambil Prodi ELINS, saya ingin memajukan teknologi di bidang elektronika agar Indonesia bisa memproduksi teknologi elektronika, tidak hanya memakai saja,” tuturnya.

Soal pekerjaan, setelah lulus kuliah nanti, Deki ingin berwirausaha pada bidang teknologi elektronika sehingga bisa memproduksi alat kebutuhan dari teknologi itu, seperti ponsel, televisi, mesin cuci, dan laptop. Bahkan, ia ingin menciptakan teknologi elektronika terbaru.

“Itulah alasan saya mengambil Prodi ELINS. Saya ingin menjadi Habibie dari UGM. Habibie kan dari ITB,” katanya.

Kisah mengharukan Deki itu diketahui oleh Masmimar Mangiang, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Karena tertarik dengan cerita kegigihan Deki ingin kuliah, Masmimar berinisiatif mengumpulkan dana melalui rekening pribadinya dengan nomor rekening BNI 0010201875.

“Motivasi saya mengumpulkan dana untuk Deki karena dia anak yatim sejak bayi, dan sepertinya dia anak yang ulet. Sebenarnya, saya dan teman-teman SMA saya punya dana beasiswa, tetapi hanya untuk murid sekolah kami dulu di SMAN 1 Bukittinggi. Dana beasiswa itu tidak mungkin kami berikan kepada Deki. Karena itu, saya ajak beberapa kawan dekat untuk urunan membantu dia. Untuk kuliah sekarang tidak mungkin tanpa punya laptop. Dana saya himpun untuk membantu dia menyiapkan masa kuliahnya, dan uang transportasi ke Yogya,” tutur wartawan senior dan pakar ilmu komunikasi itu. (*)


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERKINI Index »

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM