Catatan Ringan Bhenz Maharajo

Agar Pulang tak Sekadar Pulang


Kamis,22 Juni 2017 - 00:23:40 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Agar Pulang tak Sekadar Pulang Pusat pemerintahan Nagari Situjuah Banda Dalam, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota.

IDULFITRI tinggal menghitung hari. Seperti biasa, jika lebaran datang, Ranah Minang ini akan sesak oleh perantau. Kampung – kampung meriah. Orang-orang berwajah ceria memenuhi sudut-sudut lapau. Pitih badariak silih berganti bertukar tuannya. Mobil beragam merek berjejer di pasar kampung, yang jadi lokasi parkir dadakan. Saking ramainya yang pulang, sampai ada anekdot, “Jika seluruh perantau Minang pulang kampung, untuk tidur berdiri saja akan sulit”.

Pulang kampung saat lebaran, kata senior saya, Zelfemi Wimra, akan menjadi kuncup kenangan paling wangi di antara bertangkai ingatan lain, sebelum pada akhirnya waktu akan tetap membuatnya layu dan pasi. Maka, selamatkanlah kepulangan yang satu itu, menjelang roda-roda perjalanan menggiring engkau ke hamparan lain. Hamparan yang tidak beralamat dan mungkin tidak lagi mengenal kampung halaman.

Rahmat Hidayat, dosen Sosiologi Perkotaan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menyebut, makna kembali ke kampung halaman tidak hanya didefinisikan secara fisik, tetapi lebih menunjukkan kembali ke kampung halaman sebagai bagian kecintaan sosial kultural terhadap kampung halamannya. Faktor kedekatan emosi dengan kampung halaman mendeterminasi panggilan pulang kampung tersebut.

Relasi sosial, kultural, dan emosilah yang mengikat untuk melakukan mudik. Kampung halaman menjadi ruang otentik seseorang berasal. Sementara kota menjadi ruang abstrak bagi individu. Seseorang boleh bekerja keras dan banting tulang di kota untuk mencari nafkah, tapi kecintaan terhadap kampung halaman menunjukkan keterikatan kultural yang menjadi harga mati. Meminjam istilah Max Weber, pulang kampung halaman  menjadi 'panggilan' (calling).

Menguatnya tradisi mudik di masyarakat dikonstruksikan karena menguatnya kebersamaan dan keterikatan di masyarakat kita. Keterikatan horizontal masyarakat maupun keterikatan antara individu dan kampung halamannya. Keterikatan ini dalam perspektif sosiologi disebut dengan attachment total yang merujuk suatu keadaan di mana seorang individu melepas ego yang terdapat dalam dirinya diganti dengan rasa kebersamaan. Rasa kebersamaan inilah yang mendorong seseorang untuk selalu menaati nilai dan norma yang berkembang di masyarakat.

Mudik melepaskan ego pribadi, ego primordial, maupun ego ekonomi sosial. Warga berlomba-lomba dan berjuang untuk melaksanakan mudik. Keluarga, tetangga, maupun kerabat di kampung halaman menjelang Lebaran sudah menanti kehadiran para pemudik. Keluarga dan kerabat di kampung jauh hari sebelum Lebaran tiba sudah bertanya,”kapan mudik?” Ini bukan sekadar pertanyaan biasa.Tapi, menunjukkan sebuah ekspektasi sosial bagi perantau untuk merekatkan dirinya dengan kampung halaman.

Terlepas dari semua, apa sebenarnya yang dicari perantau saat pulang kampung? Apakah pulang sekadar pulang? Bersua keluarga, melepas rindu pada halaman rumah, lalu kembali ke perantauan. Atau, barangkali sekadar mamenggak kaya, memberi tahu orang kampung, tentang kesuksesan di rantau? Apa sekadar itu? Saya yakin, jawabannya tidak, karena saya meyakini, para perantau Minang adalah orang-orang berkepala, yang meletakkan kesakralan kampung halaman, di atas segalanya. Namun tentu ada hal-hal yang diutamakan. Selayaknya, perantau tidak menunjukkan egoisnya sebagai seorang yang pulang dan harus dilayani (kalau ada). Perantau semestinya menjadi orang pertama yang mengajak warga kampung untuk duduk bersama mencarikan solusi dari segala ketertinggalan. Ketertinggalan yang memang harus diakusi secara bersama-sama.


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa,11 Juli 2017 - 10:41:52 WIB

    Menjadikan Nagari sebagai Lembaga Koperasi Syariah

    Menjadikan Nagari sebagai Lembaga Koperasi Syariah Dalam mempersiapkan masa depan yang penuh tantangan, di mana kelompok konglomerat dan kapitalis asing lainnya makin menguasai ekonomi Indonesia di semua bidang dan lapisan usaha, dari hulu sampai ke muara, baik di darat, laut.
  • Sabtu,12 November 2016 - 19:57:30 WIB

    Mengujungi Nagari yang Pernah Menjadi Pusat Negara Masa PDRI

    Mengujungi Nagari yang Pernah Menjadi Pusat Negara Masa PDRI Hawa dingin dan sejuk begitulah yang terasa pertama kali ketika akan memasuki Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Gunuang Omeh. Suhu di utara Kabupaten Limapuluh Kota itu, berbeda dengan suhu di kecamatan lainnya didaerah penghasil.
  • Rabu,12 Oktober 2016 - 01:19:08 WIB

    Agar Nasi Padang Bisa Go International

    Agar Nasi Padang Bisa Go International Minggu lalu grup-grup whatsapp heboh dengan sebuah video. Ada sekelompok musisi Norwegia yang dipimpin oleh Au­dun Kvitlan meluncurkan videoklip berju­dul­kan “Nasi Padang”. Meskipun memiliki lirik yang agak konyol (Bi.
  • Selasa,27 September 2016 - 02:39:08 WIB

    Membangun Ekonomi Desa/Nagari

    Masyarakat desa yang selalu diper­sep­sikan sebagai masyarakat yang udik, miskin, kolot dan tidak maju harus segera dihapus. Desa memiliki potensi ekonomi, terutama di sektor pertanian. Desa harus kita bangun. Masyarakat de.
  • Jumat,23 September 2016 - 02:49:31 WIB

    Olahraga Mulai dari Nagari

    Olahraga bukan hanya milik orang kota. Olahraga adalah milik kita semua. Dengan olahraga tubuh kita menjadi sehat. Dari tubuh yang sehat akan lahir lah jiwa yang sehat..

BERITA TERKINI Index »

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM