Tentang Nama


Senin,19 Juni 2017 - 17:13:16 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Tentang Nama Ilustasi.NET
Kaidah Bahasa

Setidaknya ada dua kaidah bahasa yang dapat dijadikan pedoman pembakuan nama rupabumi, yakni kaidah tata tulis (ejaan) dan kaidah tata kata. Kaidah tata tulis dapat mengacu pada Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (EBI), sedangkan kaidah tata kata dapat mengacu pada Pedoman Pembentukan Istilah, Pedoman Pengindonesiaan Nama dan Kata Asing, dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Keempat buku acuan, yang disusun oleh Badan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu, sudah diterbitkan dan dapat ditemukan dengan mudah di perpustakaan-perpustakaan atau di toko-toko buku.

 

Tata Tulis/Ejaan

Pada dasarnya, semua nama rupabumi alami: baik nama generik maupun nama spesifiknya ditulis dalam dua kata terpisah, masing-masing berawal dengan huruf kapital (besar). Misalnya: Gunung Sitoli, Gunung Kerinci, Tanjung Priok, Tanjung Pinang, Sungai Apit, dan Sungai Siak.

Nama-nama rupabumi alami itu jika digunakan sebagai nama spesifik oleh nama generik rupabumi lain (buatan) ditulis serangkai dalam satu kata.Misalnya:Kota Gunungsitoli,Kota Tanjungpinang, Kabupaten Kepulauanmentawai,dan Kecamatan Sungaiapit.Kota, pelabuhan, kabupaten, dan kecamatan adalah nama generik rupabumi, sedangkan Gunungsitoli, Tanjungpinang, Kepulauanmentawai, danSungaiapit adalah nama spesifiknya.

Penyerangkaian nama rupabumi yang digunakan sebagai nama spesifik olehnama generik rupabumi lain dalam satu kata bermanfaat untuk menghindari penamaan rupabumi yang lebih dari tiga kata. Di Kota Padang, misalnya, terdapat Kelurahan Telukkabung Selatan, dan Kelurahan Telukkabung Tengah. Andai Telukkabung tidak diserangkaikan dalam satu kata, nama-nama kelurahan itu pasti akan lebih dari tiga kata. Artinya, penulisan nama rupabumi: Kelurahan Teluk Kabung Selatandan Kelurahan Teluk Kabung Selatan bertentangan dengan salah satu prinsip pembakuan nama rupabumi yang telah ditetapkan: paling banyak tiga kata.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa penggunaan huruf kapital (besar) sebagai huruf pertama hanya diwajibkan dalam penulisan nama rupabumi. Artinya, rupabumi yang tidak menjadi nama ditulis dengan huruf kecil (tidak perlu ditulis dengan huruf kapital). Misalnya: berlayar ke teluk, mandi di sungai, menyeberangi selat, dan menuju laut.Hal yang sama berlaku juga pada penulisan nama rupabumi yang digunakan sebagai nama jenis. Misalnya: garam inggris, gula jawa, kacang bogor, dan pisang ambon. Nama rupabumi: Inggris, Jawa, Bogor, dan Ambon pada contoh itu, karena sudah menjadi nama jenis, huruf pertamanya tidak perlu ditulis dengan huruf kapital.

Bagaimana dengan penulisan nama rupabumi yang berupa bilangan dan kata ulang, seperti IV Koto, Simpang III, dan Bagansiapiapi? Pada dasarnya, nama rupabumi tidak boleh ditulis menggunakan angka, kecuali bilangan yang menunjukkan urutan. Sementara itu, nama rupabumi yang berupa kata ulang ditulis penuh sesuai dengan kaidah penulisan kata ulang: dengan tanda hubung (-). Dengan demikian, nama-nama itu seharusnya ditulis Ampekoto,  Simpangtiga, dan Bagansiapi-api. Begitu pun yang lainnya, seperti Limapuluhkoto, Duokalisabaleh Anamlingkung, Jembatanlima, Kambingtujuh, Kotonanampek, Tanahseratusataupun Sigura-gura, Muko-Muko, Toli-Toli, dan Dalu-Dalu.

 

Tata Kata

Ada dua hal yang dapat dibicarakan dalam tata kata: pembentukan kata dan pemilihan kata. Pembentukan kata berkaitan dengan ihwal membentuk kata, sedang pemilihan kata berkaitan dengan ihwal memilih kata.

Dalam membentuk kata, ada empat cara yang dapat dilakukan: memberi imbuhan, mengulang, menggabungkan, dan mengakronimkan. Berkaitan dengan penamaan rupabumi, hal yang paling penting adalah penggabungan kata. Dalam bahasa Indonesia, penggabungan kata mengikuti hukum DM (diterangkan-menerangkan), bukan MD (menerangkan-diterangkan).Misalnya:Hotel Pangeran, Salon Prigel, Restoran Ratu, dan Pusat (Belanja) Wijaya (bukan Pangeran Hotel, Prigel Salon, Ratu Restaurant, dan Wijaya Centre).

Di samping itu, dalam Pedoman Pembentukan Istilah (2008:3—21) disebutkan bahwa bahan istilah (dalam hal ini nama) sedapat mungkin diambil dari bahasa Indonesia. Jika tidak memungkinkan, barulah dicarikan dalam bahasa daerah dan/atau asing melalui pemadanan dengan cara penyerapan, penerjemahan, atau gabungan penerjemahan dan penyerapan. Contoh: supermarketmenjadi     pasar swalayan; skyscrapemenjadipencakar langit; master of ceremoniesmenjadipengatur (pembawa) acara; department storemenjaditoko serba ada/ pasaraya; filemenjadifail; photocopymenjadifotokopi; dan villamenjadivila.

Atas dasar itu, sangatlah disayangkan jika di Kota Padang (khususnya) dan Provinsi Sumatra Barat (umumnya) masih terdapat penamaan rupabumi yang tidak mengikuti kaidah pembakuan. Konon, nama sepuluh gedung tertinggi di Padang pun masih berbau asing, kecuali Gedung Perpustakaan Universitas Andalas. PT Semen Padang, misalnya, masih menamai rumah sakitnya dengan Semen Padang Hospital.Begitupula nama delapan gedung (hotel) tertinggi di Padang lainnya, semua masih ditulis mengikuti struktur asing (Inggris): Ibis Hotel, Kyriad Bumiminang Hotel, Basko Hotel, Mercure Hotel, Rocky Hotel, Fave Hotel, Grand Zuri Hotel, dan HW Hotel.Aneh bukan?

Sebagai penutup, penulis memberi apresiasi tinggi kepada pengurus salah satu masjid di Jalan Andalas, Padang, atas keberaniannya memberi nama masjid dalam bahasa Indonesia. Luar biasa, masjid itu diberi nama Masjid Kebenaran.

Salam.


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Jumat,23 Juni 2017 - 17:50:33 WIB
    Catatan Tentang Penjaga Muruah Minang di Perantauan (Bag-1)

    Memaknai Jalan Pikir Dony Oskaria: Tentang Minang dan Perjuangan Mambangkik Batang Tarandam

    Memaknai Jalan Pikir Dony Oskaria: Tentang Minang dan Perjuangan Mambangkik Batang Tarandam Dony adalah orang pertama yang berdiri kala Minang disebut buruk oleh orang diperantauan. Telinganya panas, saat tanah yang dicintainya semati-matinya cinta dianggap sebagai tempat orang-orang yang tak mampu lagi bangkit dar.
  • Rabu,17 Februari 2016 - 03:45:52 WIB

    Tentang Kartu Identitas Anak

    Tentang Kartu Identitas Anak Kementerian Dalam Negeri membuat kebijakan baru di awal 2016. Melalui Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 2 Tahun 2016, semua anak berusia di bawah 17 tahun diwajibkan memiliki Kartu Identitas Anak (KIA)..
  • Jumat,22 Januari 2016 - 03:53:26 WIB

    Tentang Gafatar

    Tentang Gafatar Heboh organisasi massa Ga­­fatar (Ge­rakan Fajar Nu­san­­tara) cukup menyedot per­ha­tian kita belakangan ini. Pem­­beritaannya bersaing de­ngan heboh terbunuhnya Mir­na oleh racun sianida, teror Thamrin, meradang.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: harianhaluan@yahoo.co.id
APP HARIANHALUAN.COM