Tentang Nama


Senin,19 Juni 2017 - 17:13:16 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Tentang Nama Ilustasi.NET

 

Oleh: Agus Sri Danardana (Kepala Balai Bahasa Sumatera Barat)

 

Sekalipun Shakespeare (melalui Juliet dalam lakon Romeo and Juliet) mengatakan, “Apalah arti sebuah nama,” bagi banyak orang (muslim utamanya), nama adalah doa. Nama merupakan sumber energi bagi setiap orang. Bahkan, menurut ahli metafisika(Arkand Bodhana Zeshaprajna, doktor dari University of Metaphysics International Los Angeles, California, Amerika Serikat), melalui nama itulah obyek dikenal dan kekuatan laten dalam nama itu diaktifkan. Sebaliknya, jika obyek tidak dinamai, obyek itu tidak memiliki kekuatan. Oleh karena itu, nama memiliki kekuatan lebih besar daripada obyek yang dinamai (Tempo, 18 Februari 2014). Nama Amir, Suharto, dan Naratungga, misalnya, termaktub harapan (doa) agar (kelak) penyandangnya menjadi pemimpin, kaya, dan terpilih. Ketiga nama itu, bahkan, juga dapat merujuk pada identitas/jati diri: Amir (Islam), Suharto (Jawa), dan Naratungga (Indonesia).

Belakangan ini, persoalan nama kembali marak diperbincangkan di Sumatra Barat, Padang khususnya. Pemantiknya adalah (pe)nama(an) salah satu gedung/bangunandi Universitas Negeri Padang (UNP) yang akan diresmikan oleh Wakil Presiden RI dalam waktu dekat ini. “Rectorate and Research Center,” begitulah nama gedung/bangunan itu ditulis (dengan huruf kapital semuanya). Sebagai lembaga pendidikan, UNP diharapkan memberi nama gedung itu dalam bahasa Indonesia atau dengan nama tokoh.

            Di banyak tempat, gedung/bangunan sering menjadi sangat monumental.Bukan karena gedung/bangunan itu semata-mata dapat menjadi pengingat (memorial), melainkan karena gedung/bangunan itu juga sering menjadi kebanggaan dan menjadi ciri khas (landmark) sebuah kota/negara tertentu. Monas, misalnya, menjadi ciri khas kotaJakarta. Begitu pun Patung Liberty, Menara Eifel, Lapangan Merah, Piramida, Tembok Besar Tiongkok, dan Kabah, masing-masing, mengingatkan orang pada kota New York (USA), Paris (Perancis), Moskow (Rusia), Kairo (Mesir), Tiongkok (Cina), dan Mekah (Arab). 

Meskipun dapat menjadi pengingat (memorial), kebanggaan, bahkan ciri khas sebuah kota/negara, gedung/bangunan juga sering menimbulkan kontroversi: perbalahan antara yang pro dan yang kontra. Bagi yang pro, keberadaannya sangat dipuja-puji. Sebaliknya, bagi yang kontra, keberadaannya akan dicaci-maki. Itulah sebabnya, untuk membuat/mendirikan monumen, dibutuhkan kajian yang komprehensif.

Tulisan ini tak hendak mengabarkan ulang berita penamaan gedung itu, tetapi ingin berbagi ihwal pembakuan nama rupabumi.

Rupabumi dapat dibedakan dalam dua kelompok: alami dan buatan (manusia). Nama rupabumi alami, dengan demikian, diberikan pada unsur-unsur rupabumi seperti gunung, bukit, sungai, teluk, selat, pulau, laut, dan danau. Sementara itu, nama rupabumi buatan diberikan pada unsur-unsur rupabumi seperti bandara, pelabuhan, bendungan, jalan raya, gedung, jalan tol, kawasan pemukiman, dan kawasan administrasi (provinsi, kabupaten, kecamatan, kota, desa), kawasan cagar alam, kawasan konservasi, dan taman nasional. Keduanya (baik yang alami maupun yang buatan) terdiri atas dua bagian: nama generik dan nama spesifik.

Pembakuan nama rupabumibertujuan untuk (1) mewujudkan tertib administrasi di bidang pembakuan nama rupabumi di Indonesia; (2) menjamin tertib administrasi wilayah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI); (3) mewujudkan adanya gasetir nasional sehingga ada kesamaan mengenai nama rupabumi di Indonesia; dan (4) mewujudkan data dan informasi akurat mengenai nama rupabumi di seluruh wilayah NKRI, baik untuk kepentingan pembangunan nasional maupun internasional. Pembakuan nama rupabumi, dengan demikian, semakindirasakan sangat penting karena belakangan ini banyak bermunculan penamaan rupabumi yang tidak mengikuti aturan. Penamaan perumahan dan tempat-tempat perbelanjaan, misalnya, di samping banyak yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, juga banyak yang menggunakan bahasa asing. Kenyataan itu, jika tidak segera ditangani, tentu akan dapat mengancam keberadaan bahasa Indonesia dan sekaligus dapat mereduksi budaya daerah.

Dalam Permendagri Nomor 39 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pembakuan Nama Rupabumi, antara lain, disebutkan bahwa pembakuan nama rupabumi meliputi proses penetapan dan pengesahan nama, pengejaan, penulisan, dan pengucapan. Proses tersebut harus berdasarkan prinsip-prinsip (1) menggunakan abjad romawi; (2) satu unsur rupabumi satu nama; (3) menggunakan nama lokal; (4) berdasarkan peraturan perundang-undangan; (5) menghormati keberadaan suku, agama, ras dan golongan; (6) menghindari penggunaan nama diri atau nama orang yang masih hidup; (7) menggunakan bahasa lndonesia dan/atau bahasa daerah; dan (8) paling banyak tiga kata.

Atas dasar Permendagri itu, dapat diketahui bahwa pembakuan nama rupabumi ternyata bukan sekadar menetapkan dan mengesahkan nama, melainkan juga menetapkan dan mengesahkan (peng)ejaan, (pen)tulisan, dan (peng)ucapannya. Bahkan, nama pun ternyata tidak dapat diambil dari bahasa asing, tetapi harus dari bahasa Indonesia dan/atau daerah. Di samping itu, nama juga tidak boleh menyinggung SARA dan tidak boleh lebih dari tiga kata. Dengan demikian, pembakuan nama rupabumi tidak dapat dilakukan secara sembarangan.

Sesungguhnya, mengutamakan penggunaan bahasa daerah/Indonesia di atas bahasa asing mencerminkan pandangan hidup dan sikap budaya masyarakat. Sikap seperti itulah yang akan membuat bangsa Indonesia berdiri tegak di dunia ini dengan tetap dapat mengaku sebagai bangsa yang berdaulat, menjadi tuan di tanahnya sendiri, karena mampu menggunakan bahasa nasionalnya sendiri untuk semua keperluan modern. Untuk penamaan kawasan dan bangunan, misalnya, bahasa Indonesia memiliki segudang kosakata: pondok, wisma, gedung, menara, mercu, pura(i), taman, bustan, wastu, grama, dsb. Begitu pun kosakata/istilah lainnya telah terhimpun dalam Glosarium Bidang Ilmu (1—6), di samping KBBI.

Globalisasi tidak hanya melanda Indonesia. Seluruh kawasan di dunia ini tidak ada yang tidak terkena arus globalisasi. Namun, negara-negara yang rakyatnya tidak berbahasa Inggris (seperti Jerman, Perancis, Italia, Jepang, Cina, dan Korea) tidak mengalami proses penginggrisan yang memprihatinkan seperti Indonesia.

 


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Jumat,23 Juni 2017 - 17:50:33 WIB
    Catatan Tentang Penjaga Muruah Minang di Perantauan (Bag-1)

    Memaknai Jalan Pikir Dony Oskaria: Tentang Minang dan Perjuangan Mambangkik Batang Tarandam

    Memaknai Jalan Pikir Dony Oskaria: Tentang Minang dan Perjuangan Mambangkik Batang Tarandam Dony adalah orang pertama yang berdiri kala Minang disebut buruk oleh orang diperantauan. Telinganya panas, saat tanah yang dicintainya semati-matinya cinta dianggap sebagai tempat orang-orang yang tak mampu lagi bangkit dar.
  • Rabu,17 Februari 2016 - 03:45:52 WIB

    Tentang Kartu Identitas Anak

    Tentang Kartu Identitas Anak Kementerian Dalam Negeri membuat kebijakan baru di awal 2016. Melalui Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 2 Tahun 2016, semua anak berusia di bawah 17 tahun diwajibkan memiliki Kartu Identitas Anak (KIA)..
  • Jumat,22 Januari 2016 - 03:53:26 WIB

    Tentang Gafatar

    Tentang Gafatar Heboh organisasi massa Ga­­fatar (Ge­rakan Fajar Nu­san­­tara) cukup menyedot per­ha­tian kita belakangan ini. Pem­­beritaannya bersaing de­ngan heboh terbunuhnya Mir­na oleh racun sianida, teror Thamrin, meradang.

BERITA TERKINI Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM