Kue Kering Rose Diserbu Pelanggan


Senin,19 Juni 2017 - 15:49:29 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Kue Kering Rose Diserbu Pelanggan Roslaini, owner Kue Rose foto bersama para pelanggannya yang langsung datang ke rumahnya untuk membeli kue Rose. Setiap tahun jelang Lebaran, permintaan Kue Rose meningkat. ATVIARNI

PADANG, HARIANHALUAN.COM – Memasuki pekan terakhir Ramadan 1438 H, kue kering Rose kewalahan memenuhi permintaan pelanggannya.

“Berapapun kue kering yang kami produksi tiap hari, selalu habis diserbu pelanggan,” kata Roslaini, 86, owner kue Rose didampingi putrinya Linda, kepada Haluan, kemarin.

Kue Rose yang mereka produksi di kediamannya, Jl. HOS Cokroaminto No.75 sejak awal hingga akhir Ramadan, selain dijual langsung di rumahnya, juga bisa didapatkan di berbagai toko kue yang memasarkannya di Kota Padang hingga Pekanbaru.

“Selain memasarkan sendiri di rumah, kue Rose juga dipasarkan ke berbagai toko yang menjual P&D serta oleh-oleh khas dari Padang. Misalnya di Toko Ayu, Christine Hakim, Tiki (Jl. Nipah), Sherly, Nan Salero, Toko Ida dan Toko On. Mereka juga banyak menerima pesanan kue hingga ke Pekanbaru dan Sungai Penuh,” papar Linda.

Tak heran jika produksi mereka mencapai 300 kg/hari atau jika ditotal sekitar 9 ton/bulan untuk memenuhi kebutuhan selama Ramadan dan Lebaran saja. Dan semuanya laris diburu pelanggan untuk berlebaran.

Karena itu, momen Idul Fitri, selalu menjadi momen paling sibuk oleh Roslaini. Kondisi seperti itu sudah lebih dari 50 tahun dirasakannya.

“Sudah lebih 50 tahun saya membuat kue kering ini. Momen yang paling besar adalah untuk lebaran Idul Fitri, kemudian momen Natal dan Imlek,” kata Roslaini.

Bertahan dengan resep kue asli selama lebih dari setengah abad, memang tidak mudah. Namun, dengan menjaga kualitas bahan yang dipakai, serta cita rasa kue yang lezat, ternyata bisa dibuktikan oleh Roslaini.

“Kuncinya ada pada bahan-bahan berkualitas yang kami pakai. Selain itu, cara pembakaran dengan menggunakan perno (tungku batu) membuat kue yang dihasilkan matang sempurna, renyah dan tahan lama. Tidak perlu pakai pengawet,” papar Roslaini.

Ditambahkan Linda, sejak subuh, oven batu (perno) untuk tempat pembakaran kue, sudah dipanaskan. Paginya, 30 karyawan sibuk membuat adonan dan mencetak kue, yang kemudian dibakar dengan hawa panas dari oven batu tersebut.

Bahan baku yang digunakan, menurut Linda, juga merupakan bahan-bahan pilihan dan tanpa bahan pengawet. Misalnya untuk margarine dipakai Blue Band, untuk butter menggunakan wisman, tepung, susu serta coklat yang berkualitas.

“Setiap hari kami mampu memproduksi 300 kg kue kering,” tambah Linda.

Kue yang diberi merk dagang ‘Rose’ itu kebanyakan adalah jenis kue yang sudah sangat lama, bahkan saat ini jarang dijumpai lagi di pasaran. Namun, dengan mempertahankan resep asli yang diperoleh Roslaini dari zaman Belanda serta menjaga kualitas dan cita rasa melalui bahan baku yang berkualitas, membuat kue Rose selalu dicari dan bertahan hingga lebih dari 50 tahun.

“Jenis kue yang diproduksi di sini tidaklah terlalu banyak. Yakni, kue semprit, kacang tumbuk, kue benang, kue dahlia, nastar, keju, skippy, cornflakes, spekulas, kue cherry, coklat chip dan kue koya,” katanya.

Meski menggunakan bahan-bahan berkualitas, namun harga jual kue Rose sangat terjangkau oleh berbagai kalangan. Dengan kemasan plastik, kue Rose dijual dengan harga kisaran Rp30 ribu hingga Rp60 ribu per kotak isi seperempat kg. Sedangkan untuk kemasan toples ukuran setengah kilogram dijual dengan harga Rp110 ribu hingga Rp130 ribu per stoples. (h/atv)

 

Editor: Rivo Septi Andries


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERKINI Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM