SUAMI WAFAT, ANAK PUTUS SEKOLAH

Linda, Jurnalis Buta Berkelindan Duka


Selasa,13 Juni 2017 - 04:58:44 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Linda, Jurnalis Buta Berkelindan Duka Linda (pakai mukena) duduk bersama adik iparnya.

Sofa lusuh itu berderik ketika perempuan bermukena duduk di atasnya. Perempuan kurus, dengan wajah penuh kerutan. Dia meraba-raba alas sofa yang sebagian sudah robek, sebelum menghempaskan tubuhnya. Dia lama mematung. “Saya dulu seorang wartawan. Jurnalis,” ujarnya memulai cerita tentang hidupnya yang pahit.

Ya, yang duduk di depan penulis adalah Yusherlinda, perempuan tangguh, mantan wartawan yang bermukim di Tanah Datar. Namanya harum di masa aktif sebagai seorang penulis. Barangkali, 10 tahun aktif sebagai wartawan, tak ada pejabat tinggi Tanah Datar yang tidak kenal perempuan 53 tahun itu. Dia kesohor, karena tulisan dan sikap kerasnya terhadap ketimpangan sosial. Linda dulunya tidak sekadar wartawan, tapi juga pejuang kemanusian.

Namun, Linda – panggilannya –, sudah lama menghilang. Menyurukkan diri dari riuh dunia kewartawanan. Linda undur diri dari profesi yang sangat dicintai serta dijalani dengan penuh ketulusan. Karirnya tamat, dengan cara yang tragis: Linda tak bisa lagi menulis, dia kini buta. Penyakit glukoma menyerang mata dan merenggut penglihatannya sejak 6,5 tahun yang lalu. Pandangannya perlahan kabur, dan akhirnya buta total. Nan dilihatnya hanya ruang-ruang hitam. Gelap.

Sejak berhenti sebagai wartawan, kehidupannya jungkir balik. Linda sekarang terkungkung kemelaratan. Tersuruk dengan kebutaannya di rumah buruk, Jorong Bukik Gombak, Nagari Baringin, Kecamatan Lima Kaum, Tanah Datar. Tanpa tanda jasa, dan minim perhatian, dari orang-orang yang dulu dibesarkannya lewat tulisan. Dia kesepian. Suaminya sudah tiada. Wafat, karena penyakit yang tak terobati. Anak pertamanya putus sekolah. Anak kedua, barangkali juga akan senasib dengan kakaknya. Berhenti mendapat ilmu secara formal.

Jumat (9/6) sore, penulis sengaja menemui Linda di rumah adiknya, tempat dia menumpang hidup. Selama 10 tahun menjadi wartawan, Linda memang tak mampu membangun rumah. Sebab itu, dia menumpang saja. Beruntung, adik tempatnya menumpang baik hati, dan merawat sang kakak. Di dalam rumah, Linda hidup bersama dua orang anak dan lima orang anggota keluarga yang lain. Mereka bersempit-sempit di sana. “Begini hidup saya sekarang. Jauh dari hiruk pikuk di luar sana,” ujarnya lirih. Suaranya parau, menahan sesak.

Ketika bersua dengan penulis, bibir Linda bergetar-getar. Dia mencoba tegar ketika diminta merawikan ulang kisah pahit hidupnya. Jika dulu dia mewawancarai orang, kini posisinya terbalik. Linda jadi objek wawancara. Perempuan mana yang tidak akan sesak dadanya, ketika diminta bercerita tentang segala kesedihan yang dirasa?

Perlahan, dipegangnya ujung mukena. Linda mencoba mencari ketenangan, dan baginya berserah diri pada Yang Kuasa adalah sumber ketenangan dan kekuatan. Memang, sejak mengalami kebutaan, kesehariannya Linda seringkali hanya di kamar. Dia salat, melantunkan ayat suci, serta bertasbih. Kondisi yang terbatas membuatnya terhalang beraktivitas. Untuk memakai baju saja, dia tak bisa dan harus dibantu adik iparnya.

Dengus panjang nafas menjadi pembuka simpul kenangan


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: harianhaluan@yahoo.co.id
APP HARIANHALUAN.COM