Sikap Negatif Perguruan Tinggi terhadap Bahasa Indonesia


Jumat,09 Juni 2017 - 19:32:10 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Sikap Negatif Perguruan Tinggi terhadap Bahasa Indonesia Holy Adib

Oleh Holy Adib (Wartawan)

 

Baru-baru ini Universitas Negeri Padang (UNP) menamai salah satu gedung barunya dengan bahasa Inggris, yakni RECTORATE AND RESEARCH CENTER. Kasus ini membuka ingatan saya terhadap fenomena sikap negatif perguruan tinggi terhadap bahasa Indonesia.

 

Sebelum UNP, sejumlah perguruan tinggi di dalam dan di luar Sumatra Barat sudah menamai gedungnya dengan bahasa Inggris. Di Sumbar, Universitas Andalas (Unand) menamai gedung pertemuannya dengan Convention Hall, Universitas Putra Indonesia(UPI) dengan UPI Convention Center, dan STKIP dengan STKIP Convention Center. Sementara itu, di Jawa ada gedung MBA Business Research Center Institut Teknologi Bandung, gedung Science Park Universitas Indonesia, dan gedung Gajah Mada University Club.

 

Bagaimana membuktikan perguruan-perguruan tinggi itu memiliki sikap negatif terhadap bahasa Indonesia? Sebelum membuktikan tuduhan itu, kita mesti mengetahui dulu definisi sikap negatif.

 

Pada definisi ketiga di dalam KBBIsikap adalah perbuatan dan sebagainya yang berdasarkan pada pendirian, keyakinan. Sementara itu, pengertian negatif tak perlu disebutkan lagi karena sudah pasti artinya kebalikan dari sesuatu yang baik.

 

Menurut W.E Lambert di dalam A Social Psychology of Bilingualism (Journal of Social Issue, 1967)—pada kasus ini saya hanya mengambil satu komponen dari tiga komponen sikap menurut Lambert—komponen afektif menyangkut masalah penilaian baik, suka atau tidak suka, terhadap sesuatu atau suatu keadaan.

 

Jika seseorang memiliki nilai rasa baik atau suka terhadap suatu keadaan, orang itu dikatakan memiliki sikap positif. Jika sebaliknya, disebut memiliki sikap negatif (dikutip dariSosiolinguistik: Perkenalan Awal susunan Abdul Chaer dan Leonie Agustina terbitan Rineka Cipta, 2010).

 

Mengenai sikap bahasa, ada pandangan yang menarik dari Edmund A. Anderson dalam Language Attitudes, Beliefs and Value: A Study in Linguistic Cognitive Frameworks (disertasinya di Georgetown University, 1974). Ia membagi sikap menjadi dua, yakni sikap kebahasaan; dan sikap nonkebahasaan, seperti sikap politik, sosial, estetis, dan keagamaan, dapat menyangkut keyakinan atau kognisi mengenai bahasa.

 


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa,09 Agustus 2016 - 03:59:06 WIB

    Sikap Menteri Pendidikan

    Hal yang abadi dan akan tetap ber­langsung di dunia adalah peru­ba­han. Perubahan terjadi karena perkem­ba­ngan peradaban manusianya itu sendiri. Be­gitu pula perkembangan kurikulum pen­didikan di Indonesia yang selalu.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: harianhaluan@yahoo.co.id
APP HARIANHALUAN.COM