Optimis, Sumbar Bisa Bangkit


Sabtu,20 Mei 2017 - 13:42:30 WIB
Reporter : Tim Redaksi

PADANG, HALUAN--Sumatera Barat yang identik dengan Minangkabau, hari ini menghadapi tantangan yang berat dan kondisinya sangat mengkhawatirkan. Kendati begitu, daerah ini masih punya peluang untuk bisa bangkit dan maju sebagai sebuah negeri pemenang.

Demikian inti pandangan dan pemikiran sejumlah nara sumber yang diwawancarai Haluan secara terpisah terkait momentum Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2017, yang jatuh hari ini.

“Berat, sangat berat. Bangsa ini, negeri ini, saya lihat sudah mengalami dis-orientasi. Tidak jelas lagi arahnya. Kalau ditanya, apakah bisa bangkit, saya termasuk yang pesimistis. Tapi, meski pesimis bukan berarti buntu. Celah atau alternatif masih tetap ada,” kata Mestika Zed, Guru Besar Sejarah Universitas Negeri Padang kepada Haluan di Padang.

Dalam penerapan nilai-nilai adat dan agama di tengah-tengah masyarakat, Puti Reno Raudha Thaib, Ketua Umum Bundo Kanduang Sumatera Barat  mengibaratkan Ranah Minang sebagai tanaman yang sudah kehilangan urat tunggangnya.

“Tidak ada lagi akar Minang-nya yang kokoh. Rapuh dan nyaris tercerabut. Lihatlah kenyataan di tengah-tengah masyarakat. Anak-anak Minang ke luar rumah dengan pakaian yang tidak pantas dan nyaris terbuka, sudah dianggap biasa. Bila ditemukan perilaku tidak elok di tempat-tempat umum, warga membiarkannya saja. Tidak ada yang menegur. Tidak ada yang marah.  Paling-paling melihat dan kemudian dalam hatinya berkata,”ooo, bukan anak saya, bukan keluarga saya,”  dan berlalu, tanpa ada upaya untuk mencegahnya,” kata Guru Besar Pertanian Unand, ini.

Filosofi adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah (ABS-SBK) yang dulu menjadi sikap hidup orang Minang, sekarang dalam kehidupan nyata, terlihat semakin  memudar. ABS-SBK, hari ini hanya indah di tataran konsep dan kata-kata.

Data yang dilansir Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Sumbar akhir tahun lalu, mengonfirmasi bahwa nilai adat dan agama sudah kian jauh dalam kehidupan masyarakatnya. Bayangkan,  di negeri ABS-SBK ini, jumlah penderita Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) mencapai 1.192 orang tersebar di seluruh kota dan kabupaten di Sumatera Barat.

Menurut Sekretaris KPA Sumbar Efrida Aziz, selama empat tahun terakhir, penderita penyakit mematikan yang sebagian besar dipicu seks bebas itu, meningkat sampai 30 persen. Angka ini, menempatkan Sumbar masuk dalam 10 besar provinsi penderita HIV/AIDS terbanyak di Indonesia. 

Belum lagi munculnya kaum lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) di sejumlah daerah di Sumbar, terasa menampar wajah Ranah Minang.  Dari survey yang dilakukan Lembaga Garis Pantai yang dipimpin Ari Nurkomari, di Pesisir Selatan saja jumlah LGBT tahun awal 2016 lalu, mencapai 500 orang. Duh, mikir!

Tidak hanya itu. Pada 2015, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Sumatera Barat merupakan provinsi dengan jumlah kejadian kejahatan kesusilaan terbanyak di Indonesia, yaitu sebanyak 369 kejadian.

Data Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebutkan,  pengguna narkoba di Sumbar saat ini sudah mencapai 63 ribu orang. Jumlah terbesar penggunanya terdiri dari pelajar dan mahasiswa. Diikuti dengan kelompok rumahtangga. Ini sudah darurat dan perlu penanganan serius.

Ketua MUI Sumbar Buya Gusrizal Gazahar yang diwawancarai di Bukittinggi hingga dinihari Rabu (17/5), menarik nafas panjang ketika ditanya tentang fenomena yang terjadi di Ranah Minang, dewasa ini.

“Dua pilar masyarakat Minang, sudah rebah. Ninik mamak dan ulama, nyaris tidak berperan dan berfungsi lagi sebagaimana mestinya. ABS-SBK, syara’ mangato, adaik mamakai, hanya banyak tersua di dokumen visi-misi, RPJP dan RPJMD.  Tigo tali sapilin, tigo tungku sajarangan,  tidak lagi utuh. Pemerintah, representasi dari tali atau tungku cerdik pandai, kini hanya jalan dan berpilin-pilin sendiri. Sementara ninik mamak dan ulama, sudah rebah, tidak berdaya lagi,” kata lulusan Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, ini.

Kendati tantangan berat dan kondisi hari ini sangat merisaukan, pengasuh An Nadwah Li ‘Izzati Islam di Surau Buya Gusrizal Gazahar, Bukittinggi ini, tetap percaya, masih ada jalan dan cara untuk membangkitkan kembali filosofi dan nilai-nilai dasar orang Minang.

“Caranya, ulama dan ninik mamak harus bangkit dari rebahnya dan memperbaiki pola pembinaan umat dan anak kemenakan.  Ulama, ninik mamak, bundo kanduang dan semua tokoh Minang dari berbagai bidang dan dimana pun berada, baik di kampung atau di rantau, mesti bangkit membangun potensi umat, potensi anak kemenakan, potensi masyarakat kita,” ujar Ketua MUI termuda di Indonesia ini.  

Bumikan ABS-SBK

Secara terpisah, Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar M Sayuti Dt Rajo Pangulu, mengakui berbagai kasus moral yang terjadi belakangan ini, karena ABS-SBK tidak lagi dipahami sebagai sebuah pegangan hidup orang Minang.

Karenanya, kata Sayuti    yang didampingi Ibrani, Ketua Bidang Pertimbangan Hukum LKAAM Sumbar, membumikan kembali ABS-SBK adalah sebuah kemestian. Sudah pada level teramat dibutuhkan, dan menjadi program inti pada Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar.

Bagaimana pun, agar usaha membumikan ABS-SBK bisa tercapai, perlu ditempuh jalur kelembagaan, dan dalam hal ini pemerintah sebagai pemangku kepentingan dan pemegang anggaran, mesti memberi perhatian lebih.

Menghidupkan  fungsi penghulu dalam nagari, dan fungsi mamak di dalam kaum adalah sebuah kemestian. Sebab, fungsi-fungsi itu saat ini makin tergerus, tanpa ada usaha untuk mengatasi penggerusan tersebut. Sehingga, Minangkabau dan Sumbar semakin menepi ke jurang ketidakjelasan dan degradasi moral yang  amat memprihatinkan.

Dalam kacamata pemerintah, Pemprov Sumbar saat ini mengklaim tengah gencar melakukan pembangunan di bidang spiritual dan mental. Karena memang pembangunan di dua aspek ini dinilai akan butuh proses yang lama untuk membangunnya.

Kepala Biro Humas Setdaprov Sumbar, Jasman Rizal, mengatakan, pembangunan Sumbar itu memang tidak bisa dilihat dari yang kasat mata saja serupa infrastruktur, namun ada pembangunan yang memang jalannya pelan. Pelan di sini katanya, membangun mental tidak lah semudah membangun fisik serupa jembatan, jalan, gedung, atau yang lainnya.

“Kalau membangun infrastruktur itu kalau ada uang langsung bisa. Tapi kalau mental dan spiritual itu tidak bisa instan dan memang butuh yang namanya proses,” ungkapnya kepada Haluan Jumat (19/5), malam di Padang.(h/isq/isr/deb/tot/ze)


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM