Kasus Pembunuhan di Purus, Dodiar Tangisi Pakaian Terakhir Anaknya


Selasa,16 Mei 2017 - 23:56:41 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Kasus Pembunuhan di Purus, Dodiar Tangisi Pakaian Terakhir Anaknya Tiga orang saksi kasus pembunuhan di Puruih Kabun, saat diperlihatkan Barang Bukti oleh jaksa di PN Padang, Selasa (16/5) Yuhendra

 

Oleh Yuhendra

 

Air mata Dodiar (54) tak terbendung saat Jaksa Penutut Umum (JPU) memperlihatkan barang bukti (BB) pakaian terakhir yang dikenakan Rizki Afdal, remaja 14 tahun yang tewas di tangan Arwin (49) dan Bayu Satrya (21) di rumahnya, di Kawasan Puruih Kabun 24 Desember lalu. Dodiar sendiri, bersama suaminya Maisiruddin (64) dan Deni, hadir member kesaksian atas kasus tersebut di Pengadilan Negeri (PN) Padang, Selasa (16/5).

 

Sebelumnya, Nazif Firdaus selaku JPU terlebih dulu memeriksa Maisiruddin (64) alias Men. Dijelaskannya, tewasnya Rizki Afdal bermula saat Ia melihat anak perempuan terdakwa Arwin bernama Mutia, membawa seorang lelaki yang diduga pacarnya  ke dalam rumah, tanpa membuka pintu depan.

 

“Sekitar pukul 13.00 WIB, teman lelaki Mutia datang. Baru keluar setelah Pukul 17.30. saya sebagai tetangga tentu merasa punya kewajiban mengingatkan. Lalu, setelah teman lelakinya itu pergi, saya tegur Mutia, tapi dia menjawab dengan lontaran kata-kata kasar. Katanya, tidak mau membuka pintu karena silau oleh keramik rumah saya,” kata Men.

 

Mendapat jawaban seperti itu, lanjut Men, istrinya Dodiar datang dan mengingatkan kepada Mutia agar sopan terhadap orang tua. Namun, keduanya malah terlibat cek-cok hingga Mutia masuk ke rumahnya.

 

Saksi Dodiar kemudian melanjutkan, sekitar pukul 18.00 WIB, ia mendengar terdakwa Arwin dan Bayu mendatangi rumahnya, dan memanggil Maisiruddin dengan kata-kata kasar. “Kata Arwin: Men, kamu jangan berani dengan anak kecil saja,” kata Dodiar menirukan.

 

Mendengar hal itu, Dodiar yang sedang berada di ruang tengah rumahnya, meminta kedua pelaku berlaku sopan, tapi permintaan tersebut dijawab dengan tindakan pemukulan ke wajahnya oleh terdakwa Bayu, sehingga Dodiar tersungkur ke lantai.

 

Melihat istrinya mendapat perlakuan kasar, Men lantas mengambil sebilah golok dan mengacungkannya kepada kedua terdakwa. “Saya bertujuan menggertak saja, pak hakim. Karena saya lihat situasi sudah tidak aman,” kata Men menjelaskan alasannya mengambil golok.

 

Setelah itu, sambung Men, Arwin dan Bayu berlari meninggalkan rumahnya. Namun, beberapa saat kemudian, keduanya kembali lagi dengan masing-masing membawa sebilah pipa besi. “Mereka masuk lagi ke rumah dan mengancam akan membunuh anak dan istri saya,” kata Men.

 

Dodiar menambah keterangan, setelah Arwin dan Bayu datang membawa besi, Arwin langsung memukulkan besi ke kepalanya, sehingga ia tersungkur dan bersimbah darah. Saat itulah, anaknya Rizki Afdal datang untuk melindungi dirinya. Sedangkan suaminya kembali mencari parang.

 


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: harianhaluan@yahoo.co.id
APP HARIANHALUAN.COM