Kebangkitan Silat Tradisional di Solsel


Kamis,04 Mei 2017 - 09:56:37 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Kebangkitan Silat Tradisional di Solsel Dokumentasi Haluan

SOLSEL, HARIANHALUAN.COM—Suasana hening malam hari yang biasa melingkupi Jorong Sungai Kapur, Nagari Paka Rabaa, Solok Selatan (Solsel), pada Sabtu (29/4) tiba-tiba riuh.

 

Para lelaki, perempuan, anak kecil hingga dewasa, menuju rumah orang tua Hendri Yadi, yang merupakan Pembina Tauhid di Pahimpunan Tuo Silek Tradisi Minangkabau Solsel.

 

Kedatangan mereka ingin menyaksikan pagelaran silek (silat) tradisi yang selama ini jarang ditampilkan di muka umum, selain pada acara-acara resmi dan adat.

 

Mereka memenuhi halaman rumah yang tidak terlalu luas di bawah naungan tenda pernikahan, bahkan mereka harus berdesak-desakan di halaman pendidikan anak usia dini (PAUD) yang berada di depan rumah.

 

Di teras rumah, duduk berjajar para tuo silat (tetua) dan pengurus Pahimpunan Tuo Silek Minangkabau Solsel. Terlihat hadir Wakil Bupati Solsel, Abdul Rahman, yang didaulat sebagai pembina utama Pahimpunan Tuo Silek Minangkabau Solsel.

 

Di hadapan para pengurus dan tuo silat, para murid dari berbagai usia dari setiap sasaran duduk bersila membentuk huruf U. Ruang yang kosong bagian tengah digunakan sebagai gelanggang.

 

Mempelajari silat tradisi tidak membatasi gender. Para murid perempuan juga tampak hadir. Mereka duduk bersimpuh secara terpisah di hadapan murid lelaki.

 

Kehadiran para pesilat tradisi yang terhimpun para Pahimpunan Tuo Silek Tradisi Minangkabau Solsel tersebut atas undangan Hendri Yadi. Pada acara tersebut, sekaligus diagendakan pertemuan rutin Pahimpunan Tuo Silek Tradisi Minangkabau Solsel yang dilaksanakan sebulan sekali.

 

Tampuak/Ketua Pahimpunan Tuo Silek Minangkabau Solsel, A Rahman Rajo Bungsu, menyebutkan baralek (pesta) dimanfaatkan sebagai media dalam upaya menghidupkan dan memperkenalkan kembali silat-silat tradisi di Solsel.

 

Pada perhelatan itu, setiap sasaran (perguruan) silat diberi kesempatan untuk menampilkan seni "ilmu kanuragan" dalam iringan "gandang tasa" dan "saluang".

 

Sebelum setiap sasaran memperlihatkan jurus-jurusnya, dilakukan ritual silat yang didahului dengan pemotongan ayam dengan "urai nan ampek" atau setelah disembelih darah ayam ditetes sebanyak empat kali di gelanggang.

 


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: harianhaluan@yahoo.co.id
APP HARIANHALUAN.COM