Suami-Istri Ini Hidupi 14 Anaknya Dengan Penuh Keterbatasan


Kamis,27 April 2017 - 11:45:30 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Suami-Istri Ini Hidupi 14 Anaknya Dengan Penuh Keterbatasan Jetri Murni mengendong anaknya yang masih berumur 23 hari foto bersama dengan sembilan anaknya lagi, sedangkan yang paling besar merantau dan tiga orangnya lagi sedang bermain di luar rumah, dan foto ini diambil Rabu (26/4) di Guguak, Sawah Tuko, Nagari Kampuang Tanjuang Koto Mambang Sungai Durian, Kecamatan Patamuan, Padang Pariaman. Bustanul Arifin

Pasangan suami istri Tardi (51) dengan Jetri Murni (40) bersama empat belas orang anaknya tinggal di rumah tanpa dinding, dan rumah itupun baru dibangun sesudah gempa 2009 yang silam dengan adanya bantuan. Akan tetapi, sampai sekarang ini rumah tersebut hanya bisa diatap saja dengan dana bantuan itu, namun pasangan suami istri itu tinggal bersama anak-anaknya tanpa penerangan lampu listrik.

LAPORAN : BUSTANUL ARIFIN

Rumah warga kurang mampu itu terletak di Guguak, Korong Sawah Tuko, Kenagarian Kampuang Tanjuang Koto Mambang Sungai Durian, Kecamatan Patamuan, Kabupaten Padang Pariaman.

Kondisi rumah itu sekarang ini hanya sampai pondasi dan diberi tiang kayu di sekeliling tanpa dinding, untuk saat ini hanya pakai terpal sebagai dinding rumah tersebut. Untuk menuju rumah itu, harus berjalan kaki sekitar dua puluh menit dan jangankan kendaraan roda dua atau roda empat berjalan kaki saja sangat susah untuk melewati jalan itu, karena harus melalui pematang sawah masyarakat.

Jetri Murni yang sehari-hari sebagai ibu rumah tangga itu hanya mengasuh anak-anak dirumah, sedangkan sang suami Tardi bekerja sebagai buruh tani. Saat Haluan berkunjung Rabu (26/4) kerumah itu, Jetri Murni menceritakan dengan kata yang sangat menyentuh hati dan sangat menyedihkan, karena setiap hari ia harus memasak nasi sebanyak lima liter untuk satu hari. "Untuk satu hari harus memasak nasi sebanyak lima liter beras, dan untuk sambal serta lauk pauknya menghabiskan uang sebanyak Rp 50 ribu," ujar Jetri Murni.

Katanya lagi, untuk mencari biaya sehari-hari sang suami harus membanting tulang sebagai buruh tani atau kerja lainnya, yang jelas dapat uang untuk biaya keperluan keluarga meskipun tidak mencukupi. "Yang jelas kami bersama anak-anak bisa makan, kalau tidak ada beras kami bersama anak-anak memakan pisang rebus dan ubi sebagai penganti makanan, kalau tidak begitu tentu anak-anak akan kelaparan dan bisa pula mengalami sakit," terang Jetri Murni.

Dan anak yang paling besar katanya, sudah tidak tinggal bersamanya, karena ia pergi merantau ke Pekan Baru, Riau untuk mencari nafkah. "Anak saya yang paling besar bernama Masrizal (23), dan ia hanya tamat sekolah dasar, yang kedua Ratna Juita (20), ketiga Yumelda (19) anak kedua dan ketiga itu tamat sekolah menengah pertama, dan keempat Syaiful Anwar (17), kelima Tri Delfa Yeni (15) anak keempat dan kelima ini masih belajar di SMPN 1 Patamuan di Kabun Pondok Duo, dan anak keenam Alpa Rozi (13) mengalami ideot, ketujuh Ronaldi (10) anak keenam dan ketujuh tidak sekolah," katanya.

Sedangkan anak kedelapan katanya, bernama Sri Mulyani Indrawati (9) anak kesembilan Achmat Iwan Syahputra (8) dan anak kedelapan dan kesembilan ini masih duduk dibangku kelas satu di SDN 15 Patamuan. Kesepuluh Fajar Insanul Kamil (6), kesebelas Arif Perdana Putra (5), kedua belas Fikri Haikal (3), ketiga belas Abid Aqila Pranaja (2). "Sedangkan yang keempat belas berjenis lelaki masih berumur dua puluh tiga hari, dan kami belum memberikan nama untuk anak itu, karena belum ditentukan nama yang terbaik untuk anak tersebut," ucap Jetri Murni yang didampingi suaminya Tardi.

Diceritakannya, ia menikah dengan suaminya itu pada tahun 1993 yang silam, setelah menikah ia mencoba untuk mengadu nasib mencari rezki dan mengontrak dirumah warga di Koto Mambang yang tidak begitu jauh dari rumahnya. Akan tetapi, nasib belum beruntung dan itu hanya bertahan sekitar lima tahun. "Setelah itu, kami memutuskan untuk tinggal disebuah pondok didekat rumah orang tua, dan pada gempa tahun 2009 itu pondok itu roboh dan tidak bisa untuk ditempati. Dan akhirnya ada bantuan gempa tahun 2009 itu dan dicoba untuk membuat rumah yang jelas bisa melindungi anak-anak dari terik matahari dan basah dari air hujan," ulasnya.

Sampai saat ini, selain bantuan gempa itu juga pernah mendapatkan bantuan beras raskin. "Akan tetapi, dari lima bulan terakir sampai saat ini tidak ada lagi menerima bantuan beras raskin, dan lagi tidak ada perhatian dari pemerintah nagari maupun kecamatan bahkan pemerintah kabupaten. Untuk memberikan makan dan biaya anak-anak terpaksa diusahakan sendiri, yaitu dengan cara mengerjakan sawah masyarakat dengan cara bagi hasil, karena kita tidak memiliki sawah maupun kebun," tambahnya.

Sementara itu Bendahara Komunitas Facebook Peduli Duafa, Titik Sandora langsung memberikan bantuan berupa bahan untuk mendinding rumah dan pintu rumah Jetri Murni dan Tardi. "Setelah kami mendapatkan informasi tentang keluarga miskin ini, kami langsung melihat dan di sebarkan foto-foto rumah yang tidak layak huni itu di media sosial facebook, dengan begitu anggota komunitas itu memberikan bantuan melalui rekening 1110006716241 atas nama saya sendiri," ujar Titik Sandora.

Katanya, selain memberikan bantuan untuk rumah Jetri Murni ini, Komunitas Facebook Peduli Duafa juga telah memberikan bantuan empat rumah masyarakat yang tidak layak huni. "Di Kecamatan Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman sudah ada dua rumah yang dibantu, masing-masing dibantu dengan nilai Rp 45, dan satu lagi di Kecamatan Ulakan dengan nilai bantuan Rp 25 juta, di Kota Padang satu rumah Rp 25 juta. Sedangkan untuk rumah Jetri Murni, baru terkumpul 11 juta dan diperkirakan sampai siap mendinding rumah dan pintu serta jendela akan diberikan bantuan sebanyak 22 juta juta, jadi ada sekitar Rp 11 juta akan dicari," terangnya.

Dan komunitas kami katanya, akan selalu memberikan bantuan kepada masyarakat yang tidak memiliki rumah atau masyarakat memiliki rumah yang tidak layak huni. "Kami terus melanjutkan perjuangan untuk memberikan bantuan untuk masyarakat yang memiliki rumah yang tidak layak huni," ulas Titik Sandora. (*)


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM