TIGA JAM MENYUSURI KAWASAN WISATA MANDEH

Jadi Ledekan Bule, Bikin Resah Warga


Rabu,19 April 2017 - 09:52:29 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Jadi Ledekan Bule, Bikin Resah Warga Kondisi kawasan mandeh yang dirusak oleh oknum pejabat, Kamis (13/4). TIM HALUAN

DERU boat dengan mesin tempel yang  membawa tim liputan Haluan dari Dermaga Carocok Tarusan, Pesisir Selatan tak memecah konsentrasi kami untuk mengungkap sosok-sosok di belakang rusaknya hutan di sekitar kawasan wisata Mandeh, yang digadang-gadang sebagai Raja Ampat dari Indonesia Barat.

 

Laporan: Rakhmatul Akbar
 

Perjalanan menuju Mandeh kami lakukan pada Kamis pekan lalu. Penasaran rasanya untuk bisa melihat langsung spot di Mandeh yang dihebohkan banyak orang. Untung, ada rekan yang warga sekitar, berkenan memandu.

 

Lepas dari dermaga, perjalanan kami disambut cuaca yang tak begitu baik. Angin, cukup mengguncang boat berwarna biru yang dikemudikan tiga remaja lokal. Lima menit melaut, belum tampak tanda-tanda kerusakan tersebut. Semua masih hijau. Dari kejauhan, Pulau Cubadak yang dikelola seorang bule Perancis tampak elok, teduh dan damai, termasuk gugusan pulau lainnya di sisi barat.
 

Begitu melewati masa lima menit, barulah tampak kerusakan itu. Barisan hutan bakau yang awalnya masih tertata hijau saat boat lepas dari dermaga, mulai tampak rusak. Belum lagi kawasan hutan yang dibabat. Ironsinya, ada sebuah bukit yang gundul akibat pembakaran.
“Sebagian hutan yang dibabat itu, untuk jalan bang. Tapi coba lihat itu, rusaknya karena ada yang ambil lahan tersebut,” kata pemandu kami, Rudi –sebut saja namanya demikian- sambil menunjuk ke arah timur.

 

Dia begitu fasih menunjuk spot-spot yang dirusak sambil menyebutkan nama orang yang disebutnya memiliki areal tersebut. Nama pejabat daerah, baik Sumbar maupun Pessel ia ucap saja. Belum lagi nama aparat. Ada juga nama pengusaha lokal.
 

Sambil terus mengorek cerita, boat yang kami tumpangi terus melaju ke tengah. Saat itu, makin tampak jelas kondisi kawasan yang sebelumnya disebut Haluan porak poranda. “Coba lihat hutan bakau itu bang,” katanya sambil menunjuk gugusan bakai yang mati dan rusak.

 

Spot-spot itu menjadi “makanan” tim kami untuk difoto. Rasa tanggung jawab akan lingkungan membuat hasrat untuk merekam kawasan itu melalui foto terus melimpah. Kami minta agar boat terus mendekat untuk melihat dari dekat kondisi kerusakan tersebut.
“Nanti dulu, kita lanjutkan perjalanan bang. Saat pulang, semoga cuaca membaik dan kita bisa perlahan meniti pinggiran,” katanya menawarkan solusi.
 

Sepakat, akhirnya perjalanan kami teruskan ke arah Sungai Nyalo . Tujuan kami, sebuat cottage yang tampak baru dibangun.  Di tempat ini, kami disambut pengelola cottage, Randi (39) yang warga Sungai Nyalo. Cottage ini berdiri di atas lahan yang luasnya nyaris sama dengan ukuran satu lapangan bola.
Ia kembali bercerita soal kondisi kawasan mandeh. Ia mengeluh lagi, sama dengan Iman, si pemandu kami.  Bakau yang rusak, lalu kondisi air laut yang tak lagi biru atau hijau karena keruh dikhawatirkan akan membuat Mandeh tinggal kenangan.

 

“Harusnya mereka menjaga kondisi yang alami. Disiasati tanpa mengubah bentuk asli. Wisatawan itu, terutama bule, mau datang ke sini karena ingin melihat Mandeh yang asli dan asri. Bukan Mandeh yang dibuat modern. Kalau hitung-hitung modern, ngapain mereka ke sini. Mending mereka ke Ibiza Spanyol sana karena di sana jelas sangat modern,” katanya panjang lebar sambil melihatkan foto-foto sebuah kawasan wisata dengan spot hutan bakau yang dibangun dermaga kayu tanpa merusak bakau itu sendiri.
 

Randi, mengaku tak habis pikir kenapa para pihak yang sudah “mematok” kawasan Mandeh untuk kepentingan pribadi, tak berperilaku menjaga alam. Di cottage yang tengah dirampungkan itu, ia meminta pekerja untuk tidak menebang pohon. Pengelola sebelumnya, kata Randi, tak demikian. Ia menyebut, hendaknya posisi pohon yang ada di kawasan cottage tersebut dioptimalkan.

 

Kan bisa saja pohon-pohon tadi disulap jadi rumah pohon. Lebih menarik kan. Bangunan home stay yang ada di cottage inipun saya upayakan sealami mungkin. Atapnya, dengan rumbio, bukan seng,” katanya memberi contoh.
 

Randi terus bertutur. Dalam sebuah kesempatan, katanya lagi, ia justru diledek oleh Bule asal Prancis, Marco yang mengelola Pulau Cubadak. Si bule, sebut Randi, menilai perilaku para tokoh yang membabat hutan dan kawasan hutan bakau itu sebagai memalukan. Menurut Randi, di pulau yang dikelola Marco itu si bule justru mempertahankan keasrian pulau itu. Dan itu yang dijualnya. Selain itu, si bule juga melengkapi kawasan yang dikelolanya  kebutuhan seperti listrik dan jaringan
internet.
 


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com
Baca Juga Topik #Nasib Mandeh

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa,11 Juli 2017 - 10:41:52 WIB

    Menjadikan Nagari sebagai Lembaga Koperasi Syariah

    Menjadikan Nagari sebagai Lembaga Koperasi Syariah Dalam mempersiapkan masa depan yang penuh tantangan, di mana kelompok konglomerat dan kapitalis asing lainnya makin menguasai ekonomi Indonesia di semua bidang dan lapisan usaha, dari hulu sampai ke muara, baik di darat, laut.
  • Rabu,28 Desember 2016 - 02:09:42 WIB
    FENOMENA LGBT DI SUMBAR (BAGIAN PERTAMA)

    ABG jadi Mangsa yang Menarik

    ABG jadi Mangsa yang Menarik Fenomena keberadaan kaum LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender) semakin hari semakin berkembang di tengah masyarakat. Di tengah tuntutan agar manusia menjalani kehidupan sebagaimana kodratnya, ternyata, keberadaan per.
  • Sabtu,12 November 2016 - 19:57:30 WIB

    Mengujungi Nagari yang Pernah Menjadi Pusat Negara Masa PDRI

    Mengujungi Nagari yang Pernah Menjadi Pusat Negara Masa PDRI Hawa dingin dan sejuk begitulah yang terasa pertama kali ketika akan memasuki Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Gunuang Omeh. Suhu di utara Kabupaten Limapuluh Kota itu, berbeda dengan suhu di kecamatan lainnya didaerah penghasil.
  • Rabu,24 Agustus 2016 - 09:45:13 WIB
    RANGKAIAN BUMN HADIR UNTUK NEGERI

    GM PLN Sumbar Jadi Guru Sehari di SMK

    GM PLN Sumbar Jadi Guru Sehari di SMK PADANG, HALUAN – Siswa SMK 1 Padang mendapat materi pelajaran berharga, khususnya bidang kelistrikan dan lingkungan yang diberikan oleh unsur pimpinan PLN Wilayah Sumatera Barat (WSB), kemarin. Program pejabat PLN jadi guru.
  • Kamis,04 Agustus 2016 - 04:45:38 WIB

    Mencegah Terjadinya (Kembali) Kabut Asap

    Mencegah Terjadinya (Kembali) Kabut Asap Masih segar di ingatan kita semua bencana kabut asap tahun 2015 yang lalu. Riau dan Sumsel menjadi daerah yang paling banyak di temukan titik api di pulau Sumatera. Akibatnya, selama hampir berbulan-bulan pulau andalas diseli.

BERITA TERKINI Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM