Perusak Mandeh Orang Penting Sumbar


Senin,17 April 2017 - 11:16:58 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Perusak Mandeh Orang Penting Sumbar Tim liputan Haluan menunjuk sejumlah bangunan yang berdiri di atas lawan yang telah dibabat di kawasan Mandeh, Pesisir Selatan. Selain itu, juga tampak dermaga yang disusun dari batu karang, membelah hutan bakau, TIM

PESSEL, HALUAN – Kerusakan hutan Kawasan Wisata Terpadu (KWT) Mandeh, Kecamatan Koto XI Tarusan, Pesisir Selatan (Pessel) rupanya bukan isapan jempol semata. Penelusuran yang dilakukan Haluan, Kamis (13/4), hutan Mandeh sudah sedemikian parah.

 

Bukit-bukit dibakar, hutan bakau ditimbun untuk jalan ke villa pribadi. Lebih parahnya, terumbu karang Mandeh yang terkenal keindahannya, diambil untuk dijadikan landasan dermaga.

 

Mandeh centang-prenang. Warga di sana mendesak agar pihak kepolisian segera menangkapi pelaku pengerusakan simbol keindahan alam Pessel itu.

 

Kesal, Warga menyurati ke Gubernur Sumbar Irwan Prayitno cq Bupati Pessel Hendrajoni dan Ketua DPRD Pessel Dedi Rahmanto.

 

Dalam surat tertanggal 13  Februari 2017 yang ditandatangani 59 tokoh masyarakat Sungai Nyalo Mudiak Aia dijelaskan, telah terjadi perambahan hutan bakau pada tahun 2016 dengan luas lebih kurang 40 meter x 12 meter + 480 meter3. Peristiwa yang sama terjadi lagi pada 4 Februari 2017 dengan luas 50 meter x 15 meter = 750 meter3. Jumlah hutan bakau Sungai Nyalo Mudiak Aia yang habis ditebang lebih kurang 1.230 Meter3.

 

Selain penembangan bakau, dalam surat yang ditembuskan untuk Ketua DPRD Sumbar Hendra Irwan Rahim, juga disebutkan adanya pengambilan karang untuk dijadikan dermaga oleh pihak pengembang wisata, yang merupakan oknum pejabat Pessel dengan luas lebih kurang 18 Meter x 35 Meter = 630 Meter3. Hingga saat ini hutan bakau yang telah dirusak oknum pejabat sudah mencapai 1.860 Meter3.

 

Hutan bakau tersebut berfungsi menangkal abrasi pantai dan pengembangbiakan ikan. Kalau ini terus dibiarkan maka hutan bakau akan habis, tulis surat yang ditandatangani puluhan pemuka masyarakat Sungai Nyalo Mudiak Aia itu.

 

Namun, surat pengharapan yang dikirim ke Gubernur Sumbar itu tak pernah berbalas. Menurut masyarakat, tidak ada pejabat Pemprov yang turun ke lokasi, menemui masyarakat atau melakukan langkah penghentian pembabatan Mandeh. Padahal, masyarakat berharap, mereka dilindungi, hutan mereka dijaga, namun apa daya, semuanya tak berbalas. Malahan, Bupati Pessel Hendrajoni yang datang ke lokasi.

 

“Kalau dibiarkan, hutan kami akan habis, dan hidup kami juga terancam. Hutan itu penyanggah hidup kami,” tutur Musliadi, warga Sungai Nyalo yang ikut menandatangani surat ke Gubernur Sumbar.

 

Kondisi inilah yang membuat Bupati Pessel, Hendrajoni mengamuk. Mantan perwira polisi itu tak rela hutan di kampung halamannya dibabat habis. Bahkan, Hendrajoni memastikan untuk membawa permasalahan ini ke jalur hukum.

 

“Petani di Probolinggo saja hanya tiga batang menebang bakau, dijerat dengan hukuman dua  tahun penjara dan denda Rp2 miliar. Kalau seperti ini daya rusak hutan Mandeh, termasuk bakaunya, seharusnya aparat penegak hukum sudah turun tanpa saya harus lapor. Mereka seharusnya bisa lihat kenapa Bupati marah,” katanya, Kamis (13/4) sore.

 

Hendrajoni juga menegaskan tidak akan melindungi oknum yang terlibat dalam permasalahan itu. Ketika ditanya siapa pelakunya, Hendrajoni menyebut sudah mengantongi nama-nama orang itu. (h/isr)


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com
Baca Juga Topik #Nasib Mandeh

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERKINI Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM