*PDRI, Chatib Sulaiman, dan Peristiwa Situjuah Batur*


Jumat,14 April 2017 - 21:33:47 WIB
Reporter : Tim Redaksi
*PDRI, Chatib Sulaiman, dan Peristiwa Situjuah Batur* chatib sulaiman

Oleh: Uun Lionar (Awardee Beasiswa LPDP Pendidikan Sejarah (S2) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung)

 

Dalam lembaran sejarah Indonesia, Sumatra Barat diposisikan sebagai daerah yang banyak melahirkan para pemikir dan penggegas kemerdekaan, sebut saja diantaranya Mohammad Hatta, Haji Agus Salim, Tan Malaka, Sutan Syahrir, Muhammad Yamin, Buya Hamka, Mohammad Natsir, Abdul Moeis, Rasuna Said, dan lain sebagainya. Pada harian Kompas, tanggal 7 Maret 2017 sebuah tulisan memaparkan mengenai keterlibatan tokoh asal Sumatra Barat tersebut dalam pergerakan kebangsaan Indonesia, hal menarik dari tulisan tersebut adalah mengenai judulnya yakni Minangkabau “Rumah” Para Pendiri Bangsa. Adalah suatu yang tidak berlebihan untuk dipaparkan karena memang pada kenyataannya Sumatra Barat telah banyak melahirkan tokoh yang sangat berperan dalam mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia, baik yang berperan di tingkat lokal Sumatra Barat maupun pada tingkat nasional.

 

Bukan sekadar itu, menurut sejarawan Amerika Audrey Kahin Sumatra Barat pun pernah sebagai benteng terakhir dalam menentukan nasib Republik, atau menurut istilah Sejarawan Sartono Kartodirdjo to be or not to be (hidup atau mati selamanya) ketika Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) diproklamirkan di daerah ini oleh Syafruddin Prawiranegara.

 

Sebagai bentuk penghargaan atas perjuangan para tokoh tersebut, pasca kemerdekaan nama mereka diabadikan sebagai nama bangunan dan jalan di berbagai tempat di Sumatra Barat, terutama di Kota Padang, sebut saja GOR Haji Agus Salim, Jalan Prof. Dr. Hamka, Jalan Mr. Muhammad Yamin, Taman Hutan Raya Mohammad Hatta, dan lain sebagainya. Selain nama-nama tokoh di atas, pada beberapa tempat juga disematkan nama-nama tokoh lokal, seperti Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. M. Djamil dan Jalan Chatib Sulaiman.

 

Dinamakan tokoh lokal bukan berarti mereka tidak mampu berperan lebih pada tingkat yang lebih tinggi, melainkan peran mereka lebih strategis sebagai ujung tombak perjuangan di Sumatra Barat bilamana perjuangan nasional berada pada titik nadir, seperti pada masa PDRI. Sejarawan UNP Mestika Zed dalam buku PDRI: Sebuah Mata Rantai Sejarah yang Terlupakan mengatakan bahwa “PDRI yang terjadi di Sumatra Barat pada tahun 1948-1949 merupakan periode ketika partisipasi lokal tidak hanya sekedar pengakuan formal sebagai bagian inheren dalam perjuangan nasional, melainkan sekaligus sebagai prime mover yang menentukan dalam menghadapi krisis nasional”. Dengan demikian kekuatan ketika itu tidak lagi mengandalkan kekuatan pusat melainkan sangat bertumpu pada peran tokoh lokal dalam upaya menghimpun kekuatan rakyat menghadapi serangan Belanda yang bertubi-tubi itu, sebagai mana yang terjadi di Payakumbuh dan Bukittinggi. 

 

Salah satu tokoh lokal yang sangat berpengaruh dalam periode ini adalah Chatib Sulaiman. Ia seorang aktivis muda kenamaan Sumatra Barat terutama pada masa awal kemerdekaan hingga berlangsungnya PDRI. Bukanlah sesuatu yang berlebihan jika namanya disematkan pada salah satu jalan utama di Kota Padang, mengingat perjuangan yang telah dilakukannya, hingga akhir hayatnya ia pun tetap berjuang untuk republik dengan mengorbankan jiwa raganya dalam peristiwa berdarah Situjuah Batur pada tanggal 15 Januari 1949. Namun, dengan berjalannya waktu, adakah perjuangan Chatib Sulaiman ini dikenang oleh generasi muda Minangkabau? atau dengan kata lain adakah mereka mengambil pelajaran dari perjuangan Chatib Sulaiman, seperti yang dikatakan filsuf Romawi Cicero Historia Magistra Vitae, sejarah adalah guru terbaik kehidupan.

 

Chatib Sulaiman adalah putra asli Minangkabau yang lahir di Sumpur Kudus pada tahun 1906. Di usia 6 tahun ia mendapat pendidikan di Governement Benteng Padang (Sekolah Dasar), kemudian dilanjutkan di Hollandsh Inlandsche School (HIS) Adabiah, semacam sekolah dasar berbahasa Belanda, dan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Padang, semacam Sekolah Menengah Atas. Namun ia tidak menamatkan MULO lantaran ketertarikannya pada dunia pergerakan dan seni. Awal karirnya dimulai sejak menjadi guru di salah satu Madrasah di Padang Panjang pada tahun 1930, di tahun 1932 ia bergabung dengan organisasi bentukan Mohammad Hatta yakni Pendidikan Nasional Indonesia atau PNI-Baru, di organisasi ini Chatib Sulaiman menjabat sebagai pengurus cabang Padang Panjang. Sejak tahun 1933 Chatib Sulaiman bersama Leon Salim memimpin redaksi koran Pemberi Sinar, melalui tulisan-tulisan yang tajam mengenai masalah politik dan ekonomi membuat mereka dikenal banyak kalangan, terutama kelompok pemuda pergerakan di Sumatra Barat. Sekitar tahun 1942, masa akhir kekuasaan Belanda di Indonesia, Chatib Sulaiman sempat mendapat hukuman pembuangan ke Kota Cane (Aceh).

 

Pembuangan ini dilakukan Belanda lantaran Chatib Sulaiman terlibat dalam memprovokasi pemuda Padang Panjang untuk melakukan demonstrasi agar Belanda tidak menyerahkan kekuasaan mereka kepada pihak Jepang. Memasuki zaman Jepang, ia dikenal sebagai tokoh pemuda yang gigih menganjurkan pemuda Sumatra Barat untuk masuk Giyugun (suatu pelatihan militer Jepang), atas anjurannya ia mendapat pertentangan dari berbagai pihak yang menganggapnya bekerjasama dengan Jepang. 

 

Awal proklamasi merupakan langkah baru Chatib Sulaiman untuk berkiprah di dunia politik, ia terpilih sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) utusan Sumatra Barat. Memasuki masa PDRI, Chatib Sulaiman bersama Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), Rasuna Said, dan Karim Halimi diamanahkan oleh Mohammad Hatta untuk memimpin Badan Pengawal Nagari dan Kota (BPNK), badan ini adalah organisasi tingkat lokal yang dibentuk pada tahun 1948 dengan tujuan menghimpun pemuda untuk diberi latihan militer agar siap menghadapi pasukan Belanda jika suatu saat terjadi pertempuran. Kehadiran BPNK menurut Sejarawan Audrey Kahin tidak terlepas dari peran Chatib Sulaiman yang telah memprakarsainya sejak tahun 1947 sebelum ia berangkat untuk menghadiri rapat Komite Nasional mengenai Perjanjian Linggarjati di pulau Jawa.

 

Selain dikenal sebagai tokoh muda yang berkiprah di dunia pergerakan dan politik, Chatib Sulaiman juga dikenal sebagai seorang yang memiliki hobi dalam bidang seni, terutama kepiawaiannya dalam bermain biola, dan karena hobi itulah ia memutuskan untuk berhenti sekolah ketika di MULO. Namun, dalam aktivitas politiknya Chatib Sulaiman juga dikenal sebagai seorang pemikir. Buya Hamka dalam buku Kenang-kenangan Hidup mengatakan bahwa “Chatib Sulaiman adalah orang jujur. Jika orang mengingat jiwanya, di sana berkumpul cintanya kepada tanah air, pengetahuan sosialis, kepercayaan terhadap Islam, dan jiwa Minangkabau. Taat kepada itu semua, setia kepada teman-temannya dan keras hati. Dia kaya dengan teori.

 

Dia ahli menyusun program dan rencana. Hanya diperlukan orang yang akan melaksanakannya. Dikatakan orang banyak program-program Mr. Rasjid (Gubernur Sumatra Barat) lahir dari otak Chatib Sulaiman. Dan dia bersedia melupakan keuntungan sepanjang ada yang melaksanakannya”. Sebagai generasi yang hidup di alam kemerdekaan sudah sewajarnya kita kembali membuka lembaran sejarah, kembali belajar dari sejarah para tokoh yang telah berjuang untuk kehidupan kita hari ini, maka dengan itu kita akan mengerti betapa pentingnya penghargaan atas perjuangan para pendiri bangsa.(*)

 


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: harianhaluan@yahoo.co.id
APP HARIANHALUAN.COM