Derita Kasbon Menggali Minyak di Negeri Orang, Kini Dipasung di Kampung Halaman


Selasa,21 Februari 2017 - 13:12:18 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Derita Kasbon Menggali Minyak di Negeri Orang, Kini Dipasung di Kampung Halaman KASBON, YANG TERPAKSA DIPASUNG OLEH KELUARGANYA KARENA KERAP MENGAMUK DAN MENGGANGGU. MANTAN PAHLAWAN DEVISA NEGARA INI HIDUP MIRIS DAN TERASING DIKAMARNYA SENDIRI (ANGGA)

LAPORAN : HAJRAFIV SATYA NUGRAHA

 

PAYAKUMBUH, HALUAN – Kasbon (36), jauh renungan mata yang menjalak bak burung hantu mencari mangsa. Tangan kirinya terantai dan tangan kanannya memegang sebatang rokok sambil menikmati dunia khayalan yang menghabiskan waktu nan terung tergulung dalam sepi.

 

Kamarnya hanya berisi sebuah karpet berwarna hijau untuk tidur dan sarung sebagai selimut nan sekedar menghalau serangan nyamuk nan bertubi.

 

Nasib pria kelahiran 2 Desember 1979 bertulis bisu di masa dewasanya. Sebuah pemandangan yang berbeda jikala 16 tahun silam. Berbadan tegap dan besar, Kasbon bak lelaki idaman para wanita dengan penghasilan melimpah.

 

Kenapa tidak, selepas tamat di STM Negeri Payakumbuh (Sekarang SMK 2 Negeri Payakumbuh–red), ia mendapat tawaran kerja di PT Chevron Indonesia, Duri, Provinsi Riau tahun 1997.

 

Kemauan yang mantap dan niat untuk sang ibunda tercinta, Kasbon melangkah ke perantauan. Nasibnya baik dan rejeki mengalir deras. Sang ibu yang hanya petani upahan yang dapek pagi abih patang bangga memiliki anak seperti Kasbon.

 

Lelaki asal desa Pulai, Kelurahan Talang, Payakumbuh Barat ini mampu mengangkat taraf ekonomi dan marwah keluarga. Kasbon hadir menjadi kebanggan keluarga.

 

Bahkan di tahun 2003, Kasbon mendapat tawaran dari PT Chevron Pasific Malaysia menjadi teknisi pengeboran minyak bawah tanah. Dua tahun melalang di negeri Jiran, pamornya di mata di tengah desa Pulai semakin menggeliat. Tak lupa sama kawan, ia membawa beberapa sejawat sedari kecil bekerja di Malaysia. Anak ke 4 dari 5 bersaudara buah rahim Roslaini (66), bak pahlawan di kampungnya.

 

Kisah Kasbon yang sejak puber di tinggal oleh ayahnya ini begitu berbekas di sanubari Roslaini. Kenapa tidak, hasil keringatnya selama bekerja sebagai teknisi pengeboran minyak bumi menghasilkan 2 hektar tanah. Tapi sayang, tanah itu sudah berpindah tangah karena membiayai kejiwaan Kasbon.

 

Lain dulu, lain sekarang. Drama kehidupan Kasbon berubah total entah sejak kapan. Sejak masih di Malaysia keluarga sudah mendengar Kasbon mengalami gangguan jiwa. sering berbicara sendiri dan mengamuk. Sampai akhirnya, ia harus dipulangkan oleh perusahaan tahun 2006.

 

Sejak pulang, Kasbon tak lagi bekerja sebagai orang besar. Kejiwaannya tak begitu terganggu kala itu. Masih bisa bekerja ke ladang dan mengojek. Hanya saja, ada sekali waktu penyakitnya kambuh dan mengamuk. Jika sudah seperti ini, warga kampung sulit menenangkannya karena Badan dan kekuatan Kasbon yang cukup besar.

 

Saat Haluan mengajaknya berbicara, Senin (20/2) raut wajahnya langsung terang dan ceria. Sorot matanya pun bersahabat layaknya orang yang sedang mempresentasikan hasil penelitiannya di depan umum.

 

Bahkan nada suaranya juga lembut dan begitu pede. Sekilas, tak ada alasan bagi keluarga untuk memasung lelaki ini. Hanya saja, lama berbicara lambat laun Kasbon tak lagi fokus. Dunia khayalannya mulai bermain dan sesekali mengenang masa jayanya sebagai teknisi perusahaan minyak ternama Amerika itu.

 

Pengakuan Roslaini, Sejak pulang ke kampung tahun 2006 – 2010 jarang sekali ia kambuh. Hanya sekali-kali saja. Karena itulah, ia sempat berpacaran dengan seorang gadis asal Koto Nan IV, Kota Payakumbuh dan melangsungkan pernikahan tahun 2008.

 

Sayangnya, pernikahan ini tak berlangsung lama karena setelah menikah, Kasbon pernah kambuh dan menyerang istrinya di rumah mertua. Malang tak dapat ditolak, pernikahannya hanya berumur tiga bulan.

 

Karena Kasbon sudah mulai mengganggu, tahun 2010 ia dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa HB. Sa’Anin, Gadut Padang beberapa saat dengan biaya pribadi. Setelah lumayan sembuh, ia pun keluar. Namun, dimasukkan lagi ke RSJ tahun 2016. Tetap dengan biaya sendiri.

 

Hari ini, Kasbon tak lagi dirujuk oleh keluarganya ke RSJ HB. Sa’Anin Padang karena ketiadaan biaya. Tapi dipasung ruangan kecil dan berbau sejak 6 bulan terakhir. Untuk buang air, kasbon diberi kaleng, apalagi untuk mandi. Dirinya tak lagi pernah menikmati segarnya pagi dengan siraman air jernih.

 

“Saya terpaksa memasung Kasbon. Kalau sudah mengamuk susah. Bisa mati saya dipukuli dan dicekik dia. Ini saja mujur saya bisa hidup karena pernah dua kali dia mengejar dan memukuli saya. Bahkan yang terakhir ia memegang pisau,” kata Roslaini dalam linangan air mata kepada Haluan.

 

Lurah Talang, Gusmardi mengaku lama mengetahui kondisi Kasbon dan selalu mengusahakan agar Ibon (panggilan Akrab Kasbon-red) untuk diobati ke Rumah Sakit Jiwa di Padang. Termasuk penganiayaan terhadap ibunya.

 

“Saya sudah lama tahu kondisi Ibon seperti itu. Apalagi penganiayaan yang dilakukan kepada ibunya. Saat itu, jalan di depan rumah Ibon sedang diaspal. Orang yang mengaspal itulah yang melepaskan Ibunya yang sedang dicekik Ibon,” kata Gusmardi.

 

Menurut rencana, dalam waktu dekat pihak Dinas Kesehatan bakal membawa Ibon ke Padang untuk kembali menjalani pengobatan.

 

” Tadi sudah datang petugas medis dari Puskesmas Payolansek, menurut rencana besok (hari ini-Red) Ibon akan dibawa ke Padang. Namun tetap menunggu persetujuan pihak keluarga”. sebutnya.

 

 


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Sabtu,09 April 2016 - 05:14:51 WIB

    Tabahnya Ibu Penderita Bayi Cacat Tengkorak Kepala

    Tabahnya Ibu Penderita Bayi Cacat Tengkorak Kepala Bayi Perempuan bernama Siti Aisyah yang lahir 18 Januari 2016 dan mengalami cacat sejak lahir itu terkulai di pangkuan ibunya, Sukarmi (30). Berbagai cara ditempuh Sukarmi bersama sang suami, Udin (31) untuk membawa buah cint.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM