REFLEKSI HARI PERS NASIONAL

Pers, Tameng Terakhir Melawan Hoax


Kamis,09 Februari 2017 - 00:41:50 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Pers, Tameng Terakhir Melawan Hoax Wiztian Yoetri

Media massa memiliki arti dan peran yang sangat penting bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Media massa tak hanya menjadi pengawal demokrasi, tapi juga menjaga keutuhan negeri. Di Hari Pers Nasional, yang jatuh hari ini, 9 Februari, bagaimana pers di mata Wiztian Yoetri, Komisaris Semen Padang, yang namanya harum semasa jadi wartawan? Berikut wawancara singkat Editor Harian Haluan, Bhenz Maharajo dengan Wiztian Yoetri, mantan wartawan Haluan tahun 80-an.

 

Bagaimana bapak melihat pers hari ini?

 

Peranan pers dari dulu sampai kini belum berubah. Selain mencerdaskan kehidupan bangsa, juga menjadi referensi bagi masyarakat. Itulah sebabnya, bisnis pers adalah bisnis kepercayaan. Orang membaca atau mendengar media karena percaya bahwa informasi yang disampaikan media tersebut  sesuatu yang penting dan benar. Bagi media yang mengemas informasi  tanpa mempertimbangkan apa yang dibutuhkan pembaca atau pendengar, media tersebut akan ditinggalkan. Marwah pers, sejatinya ada di tangan  pembaca.

 

Acap media terjebak dalam pradigma bisnis semata, dan lebih mendahulukan omzet ketimbang konten. Sebagai orang nan lama bergelut di dunia kewartawanan, bagaimana pandangan bapak terkait fenomena ini?  

 

Hari ini, yang terasa pers lebih bersemangat ke omzet ketimbang informasi penting dan strategis. Tak banyak lagi masyarakat disuguhi berita-berita analisis maupun liputan investigasi. Bagaimana dengan omzet, yang kadang menjadi perburuan tersendiri bagi media? Menurut saya, omzet akan mengalir dengan sendirinya, sepanjang media bisa menjaga mutunya. Perburuan omzet harus sejalan dengan kualitas informasi media. Sebab, dasar orang berlangganan karena media itu dipercaya informasinya. Media yang dipercayai tersebut pastilah banyak pembaca dan pemirsanya. Dengan demikian media tersebut tepat untuk dibaca dan untuk tempat beriklan. Media yang tidak peduli akan kebutuhan informasi masyarakat, siap-siaplah untuk ditinggalkan.

 

Jalan apa yang mesti dilalui wartawan dalam menjaga marwah pers?

 

Pertama, wartawan harus terus upgrade diri. Di tengah masyarakat, wartawan dianggap orang pandai. Sebab itu, dituntut tahu segala hal. Tidak ada jalan lain bagi wartawan, kecuali belajar. Wartawan tak boleh berpuas diri dengan apa yang diraihnya. Harus senantiasa belajar. Zaman terus berubah, perkembangan pesat terjadi, dan wartawan tidak boleh ketinggalan.

 

Di sisi pemberitaan, penting bagi seorang wartawan untuk melakukan pekerjaan analisis berita dan investigative. Khusus untuk media cetak, wartawannya tak boleh terjebak hanya membuat peristiwa semata, karena semua itu sudah tuntas di media online, atau televisi. Cara pandang wartawan cetak mesti diperluas. Berita peristiwa yang dibuat, mestilah dengan analisis yang tajam. Tidak hanya sekadar laporan apa yang terjadi semata. Wartawan juga harus tetap menjaga akurasinya. Selain itu, dalam pergolakan zaman dewasa ini, pers harus tetap tunduk dan taat kepada Kode Etik Jurnalistik.

 

Berita-berita analisis dan liputan investigasi menjadi referensi bagi masyarakat. Bagi teman-teman wartawan sendiri, dua hal di atas adalah kerja jurnalistik yang menantang. Belum sempura seorang menjadi wartawan, bila belum pernah melakukan tugas-tugas investigasi. Liputan investigasi itu hasil karya jurnalistiknya  terukur, pasti menarik dan ditunggu pembaca. Sementara, berita-berita analisis, adalah upaya mempertajam berita-berita yang telah disiarkan. Hal ini, belakangan kurang menjadi perhatian wartawan. Banyak berita setelah dijadikan headline, setelah itu hilang. Padahal masyarakat masih menginginkan  informasinya sampai tuntas.

 

Sejalan dengan ucapan, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran. Kewajiban para jurnalis adalah menyampaikan kebenaran, sehingga masyarakat bisa memperoleh informasi yang mereka butuhkan untuk berdaulat. Bentuk kebenaran jurnalistik yang ingin dicapai ini bukan sekadar akurasi, namun merupakan bentuk kebenaran yang praktis dan fungsional.

 

Setiap hari, masyarakat disuguhi berita hoax nan parahnya malah dipercaya. Jadi referensi. Tidak hanya oleh masyarakat awam, tapi juga orang bertitel. Sikap dan langkah seperti apa yang semestinya dilakukan pers?

 

Media sosial marak dengan berita atau informasi yang sulit dibendung arus ketidakvalidannya. Bersamaan juga muncul hoax. Tapi, bukan berarti pers harus diam. Media mainstream mesti mampu mengkoreksi dengan akurasi dan fakta yang dapat dipertanggungjawaban. Pers mesti jadi penyejuk di tengah kepungan informasi hoax yang menyesatkan masyarakat. Pers menjadi tameng dalam melawan hoax. Pers harus menjadi bagian dari comunition of hope. Pers harus membawa pencerahan bagi masyarakat. Tidak ikut pula menyebar hoax. (*)

 

*Wiztian Yoetri, akrab disapa Pak Cici sudah  malang melintang di dunia pers. Kala muda, lelaki yang kini menjabat sebagai Komisaris Semen Padang pernah menjadi wartawan Haluan tahun 1982 – 1985. Sempat bertugas di Pariaman, Wiztian melanglang buana ke Haluan Pekanbaru yang saat itu kepala bironya dijabat Uzmil Argan. Bersama Akmal Famajra dan Harmen Milano, Wiztian membesarkan Haluan di tanah Lancang Kuning. Pria kelahiran Pariaman, 30 Mei 1962 ini pernah menjabat Pemimpin Redaksi Harian Padang Ekspres, dan Pemimpin Umum Posmetro Padang. Pada 11 Mei 2016, Wiztian Yoetri ditetapkan sebagai Komisaris PT Semen Padang.


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERKINI Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM