FENOMENA LBGT DI SUMBAR (BAGIAN KEDUA)

Iming-iming Uang dan Harta yang Menggoda


Kamis,29 Desember 2016 - 00:37:53 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Iming-iming Uang dan Harta  yang Menggoda Ilustrasi.

Seorang pelajar pria di SMP di sebuah kota di Sumbar, pernah mengalami peristiwa yang tak akan terlupakan baginya seumur hidupnya. Baru pertamakali melakukan hubungan seksual, ternyata itupun dengan sesama jenisnya.

Amir –sebut saja begitu namanya– mengenal seorang pria –kita sebut saja Donni – yang seusia ayahnya dalam suatu perkenalan oleh ka­wan­nya. Donni yang ramah dan kocak serta paham berbagai hal tentang teknologi yang juga sangat disukai Amir. Mereka terlibat pembicaraan seru ten­tang teknologi dan akhirnya saling tukar nomor kontak serta saling invite di media sosial.

 Beda kota tak masalah buat mereka, komunikasi tetap ber­lanjut. Umum­nya saat tengah malam saat keluarganya telah tidur pulas, Amir sibuk chatting dengan Donni. Obrolan mereka seputar hobi dan tentu saja diiringi sedikit canda yang masih wajar.

 Hingga suatu saat Amir berkunjung ke kota tempat Donni berada. Merekapun berjanji untuk bertemu. Donni membawanya ke rumahnya, disu­guhi film porno hingga akhirnya pa­kaian­nya dilucuti Donni, yang merayunya untuk berhubungan intim.

 ”Saya menyesal. Saya tobat. Tak mau lagi melakukan itu. Saya masih normal,” kata Amir dalam pengakuannya kepada kel­uarganya.

 Pengakuan Amir dilontar­kannya, ketika secara tak sengaja orangtuanya membuka chat di HP anaknya itu. “Saya terkejut mem­baca ini semua. Mau saya apakan orang ini? Apakah diadukan polisi atas tuduhan pelecehan seksual? Atau saya telepon dan maki-maki dia,” kata orangtua Amir kepada Haluan, baru-baru ini.

 Ia betul-betul shock, anak lelaki satu-satunya dari tiga ber­saudara itu mengalami kejadian tersebut. “Untunglah si Amir kami bekali agama yang kuat. Nomor kontaknya langsung diha­pus dan kami tak mau lagi ber­temu orang tersebut. Amir pun berjanji tak akan mengulangi hal tersebut, walau mana tahu kelak bertemu lagi dengan si penderita LGBT itu,” kata ibu Amir.

 Lain hal nya dengan Agung. Mahasiswa sebuah PTN di Pa­dang ini, berkenalan dengan seorang om-om saat liburan ke Jakarta. Tampang Agung yang ganteng, membuat si om jatuh cinta. Dasar agama yang kurang, diiming-imingi tambahan uang jajan bulanan dalam angka ju­taan, membuat Agung tergoda. Ia pun mulai menikmati hubungan sejenis tersebut.

 Hingga akhirnya liburannya habis, Agung balik ke Padang. Tak dinyana, si om menyusulnya dan mencarinya. Agung diberi kamar kos khusus, sehingga bila si om ke Padang, mereka akan menginap di sana berdua.

 Nasehat orangtuanya yang berpenghasilan pas-pasan tak dihiraukan Agung. “Akhirnya saya memilih keluar dari rumah dan tinggal di kosan dengan biaya hidup dari si om tiap bulan,” cerita Agung.

 Lewat si om pula lah, Agung akhirnya berkenalan dengan ko­mu­nitas gay di Padang. Di sana semua hasratnya terpenuhi. “Ka­mi suka ngumpul tengah malam, usai karaokean atau main biliar atau juga sekadar duduk-duduk di pinggir pantai, Tempatnya, biasa­nya kafe-kafe yang buka sampai pagi. Pulang menjelang subuh sudah jadi kebiasaan kelompok kami,” cerita Agung.

 Hingga kini, Agung tetap menjalani hubungan terlarang tersebut, meski tak lagi diakui anak dan diusir dari rumah orang tuanya. “Beginilah hidup saya. Saya suka,” katanya tanpa beban.

Lain Amir dan Agung, lain pula cerita Siti. Istri seorang karyawan swasta ini sebetulnya sudah memiliki satu anak dari hasil pernikahan dengan suami­nya. Namun, pernikahan Siti tak bahagaia, ia harus menderita lahir batin karena suaminya yang menyukai sesama pria. Ya, suami­nya adalah seorang biseksual!

“Ada beberapa pria lain yang sering jalan dan tidur bareng suami saya. Saya jijik dengan sikapnya. Mau minta cerai, malu dengan keluarga dan lingkungan kerja saya. Terpaksalah saya tahan ini semua. Entah sampai kapan,” katanya penuh sesak.

Suami Siti, — kita sebut saja Deddy – juga terang-terangan tentang hubungan sesama jenis­nya kepada istrinya. Namun, ia juga tak mau menceraikan sang istri karena memerlukan status me­nikah resmi dengan seorang pe­rempuan. “Lagipula, kalau saya bercerai, rumah dan segala macam fasilitas dari mertua bisa hilang dong,” kata Deddy tanpa sungkan.

Semua kejadian di atas, adalah kisah nyata di Sumbar. Entah berapa banyak lagi, yang jelas keberadaan kaum LGBT di Sum­bar memang semakin meluas.

Kaum LGBT  ini beraktivitas sama seperti manusia normal lainnya. Mereka bekerja, beriba­dah, sama seperti manusia normal. Yang membedakannya, adalah kecenderungan hasrat seksual mereka yang menyimpang. (bersambung)

 

ATVIARNI
(Wartawan Madya)


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM