FENOMENA LGBT DI SUMBAR (BAGIAN PERTAMA)

ABG jadi Mangsa yang Menarik


Rabu,28 Desember 2016 - 02:09:42 WIB
Reporter : Tim Redaksi
ABG jadi Mangsa yang Menarik Ilustrasi.

Fenomena keberadaan kaum LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender) semakin hari semakin berkembang di tengah masyarakat. Di tengah tuntutan agar manusia menjalani kehidupan sebagaimana kodratnya, ternyata, keberadaan perilaku seks menyimpang ini terus tumbuh dan berkembang. Bahkan secara terang-terangan dan telah menjadi gaya hidup bagi sejumlah orang.

Di Sumatera Ba­rat, khu­susnya Kota Padang, ke­beradaan ka­um LGBT me­mang nyata ada­nya. Meski mereka tidak te­rang-tera­ngan mengung­kap­kan jati­diri mereka kepada umum, tapi dalam perilaku sehari-hari, mereka cenderung un­tuk lebih banyak berin­te­raksi dengan ‘kaum’nya.

Keberadaan mereka sa­ngat jelas terlihat di kafe-kafe atau resto siap saji yang buka hingga pagi. Saat orang-orang tertidur pulas, mereka baru selesai dari kegiatan nongkrong bersama ‘kaum’ nya dan singgah ke kafe-kafe tersebut untuk sekedar mi­num. Di sini, mereka tak malu dan ragu untuk saling ber­pelukan atau berpega­ngan ta­ngan sambil berpan­dangan mesra.

Bah­kan, di media so­sial lebih je­las lagi. Ada akun facebook yang khu­sus dibuat untuk kaum gay mau­pun lesbian ini. Dalam grup tertutup tersebut itulah, mereka sa­ling kontak sesa­manya, mem­­buat acara atau juga mempromosikan dirinya pada yang lain.

 Anggotanya? Jangan dita­nya. Jika Anda  suka berse­lancar di dunia maya, coba saja cari ka­ta kunci gay padang atau lesbian di sana. Tak lama setelah Anda enter, akan ber­mu­n­cu­lan s­e­jumlah akun grup ataupun pribadi yang terang-terangan me­ngung­kapkan kecen­dru­ngan hasrat seksual mereka yang me­nyimpang itu.

 Di Kota Padang, ada pasa­ngan lesbian yang nya­ris meni­kah di Kecamatan Pauh sekitar Februari 2016 lalu. Sepasang calon pengantin yang ternyata keduanya adalah wanita ber­hasil mengelabui Kantor Urus­

an Agama (KUA) Padang Timur dan KUA Pauh. Namun, untung segera ketahuan sehingga per­nikahan itu urung digelar.

 Yang paling gress adalah seorang wanita yang dibunuh oleh pasangan kekasih lesbiannya di Solok akhir November lalu. Neli Agustin (19) warga Payo, Kelurahan Tanah Garam, Solok diduga tewas di tangan kekasih sesama jenis (lesbi) Ayu (23). Ia ditemukan terkubur di dalam kamar pelaku, Selasa (29/11). Pengakuan Ayu, ia membunuh pacarnya, karena terbakar api cemburu.

 Serupa namun tak sama, juga dialami kaum lelaki yang me­nyukai sesamanya alias gay. Di Padang Panjang, kasus ini di­alami seorang pria YN (30), bulan mei 2016 lalu. Warga Padang Panjang Barat ini, tak sadar masuk dalam perangkap seorang anggo­ta TNI, setelah berkomunikasi melalui media sosial WeChat.

 YN, tak sadar jika pria yang diajaknya berbicara dan berhu­bungan “mesra” itu adalah aparat TNI yang bertugas di Secata B Rindam I Bukit Barisan, Pa­dangpanjang, Prada Nur Sahidin. Prada ini jugalah yang sebe­lumnya berhasil menangkap se­orang penganut Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender (LGBT), beberapa waktu lalu.

 Di Padang, keberadaan kaum gay ini mudah sekali ditemukan. Pada umumnya mereka ber­ke­lompok-kelompok di suatu tempat.

Komunikasi mereka, biasanya terjalin di media sosial ataupun berupa chat pribadi. Bagi yang belum punya pasangan, biasanya memposting diri mereka dengan segala kelebihannya. Tentu saja dilengkapi nomor kontak yang bisa dihubungi, berikut layanan mereka. Setelah itu, mereka bisa copy darat dan tentunya dilan­jutkan dengan acara kencan berdua.

 Ada juga yang jomblo dan tengah mengincar seseorang. Meski yang diincarnya bukanlah dari kalangan LGBT, tapi dengan berbagai upaya mereka akan menariknya supaya bisa masuk ke dunia tersebut. Biasanya, yang diincar adalah anak-anak baru gede (ABG) usia SMP atau SMA, bahkan sampai kuliah. Mereka mengiming-imingi calon kor­bannya dengan sesuatu yang disukai sang korban. Tentunya, mereka bisa mengetahui ini, setelah mengamati beberapa lama kebiasaan maupun kebiasaan calon korban tersebut.

 Ketika komunikasi dengan si mangsa sudah terjalin, mereka berupaya  untuk menarik mang­sanya dengan cara sehalus mung­kin. Mulai dari mengajak jalan-jalan, mengajak ke rumah, kemu­dian disuguhi adegan pornografi dari laptop (baik adegan pasangan sejenis maupun lawan jenis). Dan saat sang calon mangsa sedang asyik menonton, mereka mulai melepas satu per satu pakaiannya hingga telanjang (maaf).

 Saat itulah, mereka mulai merayu calon korbannya untuk ikut melepas pakaiannya, sambil bercerita tentang fantasi seksual ataupun kisah-kisah mereka ter­dahulu. Selanjutnya, jika sang korban tak kuat iman, mudah ditebak yang kemudian terjadi.

 Inilah awal petaka tersebut!

 Jika sang korban tak kuat iman, dan tak dibentengi latar belakang pengetahuan agama yang kuat, mereka pastinya akan kembali terbuai dengan aneka bujuk rayu untuk kembali mela­kukan hal serupa di kemudian hari.  (bersambung)

 

ATVIARNI
(Wartawan Madya)


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERKINI Index »

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM