REFLEKSI 2016 DAN RESOLUSI 2017

Meneguhkan Revolusi


Rabu,28 Desember 2016 - 01:48:57 WIB
Reporter : Tim Redaksi

Penutup tahun ini penulis sengaja me­­ngangkat judul Refleksi 2016 dan Resolusi 2017  dengan me­ngu­­na­kan kata revolusi. Kata re­volusi yang dipilih bukan bermaksud untuk meng­ga­lang kekuatan merebut pe­nga­ruh, apalagi merebut ke­ku­a­saan dari pemerintah yang sah, sama sekali tidak. Revo­lusi dimaksudkan ada­lah me­nggugah dan meneguh­kan ke­sadaran kolektif anak ba­ng­sa tentang berbagai catatan penting yang menyentak dan mengagetkan yang terjadi se­panjang tahun 2016 ini. Re­volusi juga ditujukan un­tuk menyatakan bahwa telah nya­ta sekali tidaklah semua ana­li­sa, pembahasan talk show, laporan intelijen dan pan­dangan ahli dapat dipe­do­mani sebagai kebenaran tung­gal, artinya orang harus pa­ham bahwa kebenaran itu ba­nyak sumbernya. Sungguh di luar dugaan betapa hebat, he­roik, dan mengagumkan seka­li jumlah kehadiran umat dan akhlak muslim yang ditun­juk­kan dalam dua kali unjuk rasa dan Jumat berkah, yang di­kenal sebutannya aksi 411, 212 dan 1212. 

Revolusi yang dituju da­lam artikel ini adalah usaha dan kerja super keras untuk membalikkan cara berfikir, bergerak dan bekerja dalam menghadapi kondisi peru­bahan bangsa yang tengah berlari begitu kencang. Men­dorong diri dan anak bangsa untuk terus menerus berikhi­tiar dan merumuskan gaga­san, strategi dan program menyesuaikan dengan revo­lu­si ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang begitu cepat dan dahsyat pengaruhnya.

Adanya perkembangan luar biasa cepat dan luas da­lam hal sosial keumatan, hubungan sesama umat bera­gama, umat beragama dengan negara baik dipicu meluasnya pengaruh media maupun karena memang mening­katnya kesadaran kolektif umat. Menetapkan  rumusan yang tepat terhadap makna dan aktualisasi keumatan, ke­bangsaan, keindonesiaan, kemajemukan dan kerukunan adalah agenda yang harus diseriusi semua pihak.

Penyebutan kata revolusi juga untuk mengingatkan bahwa tuntutan dunia global yang serba digital adalah tuntutan pada kecepatan, ketepatan dan ketersam­bu­ngan. Mereka yang lambat akan ditinggal dan menjadi penonton di rumah dan tanah air sendiri, lihat saja bangsa ini karena lamban merebut peluang dalam ekonomi digi­las ekonomi raksasa, seperti Alfa Mart, Indo Mart dan bis­nis retail lainnya yang me­ngurita mengulung usaha rak­yat yang lambat dalam me­nyesuaikan sistim dan pola bisnis era digital. Begitu pula dalam lapangan pendidikan, kesehatan dan teknologi tanpa diketahui bangsa lain dengan cepat memanfaatkan kelambatan bangsa Indonesia dengan memasukkan tenaga kerja kasar asing, dan aseng dalam jumlah banyak. Sung­guh memiriskan hati, anak bangsa terlunta-lunta, dan terseret nasib malang menja­di TKW di negara orang, sementara  orang asing difa­silitasi.

Revolusi tentang ketepatan dan akuratan juga menjadi ciri era kompetitif, pesawat udara, jet super canggih dan pesawat ulang alik ke angkasa luar ada­lah produk modernisasi deng­an kecepatan dan keakuratan yang luar biasa jelimetnya. Hal yang tak kalah cepat dan aku­ratnya sarana transaksi keu­angan, jasa perbankan, dan se­mua bentuk perdagangan super maju. Bank berjalan, peng­ambilan uang dengan ATM, kartu belanja dengan kredit, PIN (personality indenty num­ber) pada kartu yang rahasi­anya dapat saja dibobol oleh hecker, tiket elektronik, pulsa han­dphone melalui listrik dan jasa keuangan lainnya adalah reali­tas yang akrab sejak dari ma­syarakat kampung sampai kota metropolitan dengan tingkat kemudahan yang cukup, na­mun sekaligus juga bisa dihan­curkan dengan mudah oleh mereka yang memiliki kemam­puan lebih dalam hal itu.  Di­samping juga menyuburkan pri­laku dan gaya hidup boros, hedonisme dan konsumerisme yang mematikan daya nalar cerdasnya.

Revolusi Medsos

Revolusi media sosial (med­ sos) dalam kehidupan luar bia­sa pengaruhnya. Ketersambu­ng­an melalui jaringan teleko­munikasi super canggih, tele­pon pintar, gadget yang multi­fungsi, photo selfi dengan se­gala kemudahannya, What­shaap, Focebook, Twitter, Insta­gram dan media sosial lainnya adalah  menu harian dan telah menjadi kebutuhan hidup le­bih separoh bangsa Indonesia.  Media sosial telah dengan nya­ta meruntuhkan hegemoni me­dia cetak, elektronik dalam me­ngubah, mempengaruhi dan menentukan arah dan arus informasi. Topic trending, viral di medsos dan istilah keren la­in­nya yang dilansir media so­sial telah memasuki sumsum pi­kir anak-anak muda, ibu rumah tangga, buruh pabrik, orang desa dan hampir semua segmen masyarakat, yang pada akhirnya membentuk gaya hidup (life style) yang melebihi dari tingkat ekonomi mereka. Penghasilan pas-pasan, tapi tampilan wah-wahan. Dampak­nya besar pasak dari tiang.

Revolusi media sosial juga merembet jauh ke dalam hu­bungan kemanusiaan disadari betul bahwa di berbagai bidang kehidupan dan komunitas te­ngah terjadi disharmoni, dis­trust, miskomunikasi dan gese­kan yang menimbulkan kece­ma­san, konflik, rusuh,  menge­jo­laknya api perpecahan dan perperangan. Siapapun tiap saat terpapar oleh informasi medsos, sebahagian besarnya sulit dicerna oleh akal sehat, sayangnya orang terus ingin mengudate dan mengupload­nya. Aneh tapi nyata, sebenar­nya orang tahu informasi ini hoax, namun tetap juga dibaca, dikomen dan kadang kala di­sebar pula pada jaringan teman WA, Facebook, Twitter dan me­dsos lainnya.

Ekses yang tidak mudah men­deteksi dari dampak media sosial adalah munculnya tin­da­kan kekerasan, mulai kekera­san dalam rumah tangga, ke­kerasan terhadap anak dan pe­rempuan, sampai kepada keke­rasan terhadap negara dan bang­sa, seperti tindakan teror yang dilakukan para teroris yang sering kali mengunakan simbol-simbol dan norma aga­ma Islam.

Lebih dahsyat lagi jasa dan sekali waktu  mudaratnya media sosial adalah tergang­gunya kerukunan, keharmoni­san dan kebhinikaan  hidup antar eleman bangsa yang awalnya dipicu kekasaran mu­lut dan atau gaya bicara yang kurang filter seorang pejabat negara, Ahok, lalu disebar melalui media sosial, akhirnya berujung unjuk rasa 411 dan 212,  belum dapat diketahui se­cara pasti bagaimana akhir per­jalanan kasus penodaan aga­ma yang super mengheboh­kan dan menguras energi bang­sanya. Sulit juga memastikan bagaimana ujung kasus ini. 

Benar-benar nyata adanya revolusi medsos telah men­jungkir balikkan situasi, me­dia cetak dan elektronikpun sulit membendung banjir med­ sos, alih-alih malah menjadi­kan medsos sumber informa­sinya. “asam makan jeruk”, begitu kata yang pas untuk tamsilan bagi media mains­treim yang mengutip medsos.

Bersamaan terjadinya pen­jungkirbalikan keadaan, nyata sekali bahwa informasi medsos juga dapat menjadi ancaman bagi keamanan dan kenyama­nan hidup, tidak bisa pula dipungkiri bahwa kemajuan medsos juga membawa manfa­at yang cukup besar. Survey calon kepala daerah yang dilakukan oleh lembaga sur­vey melalui media sosial dapat dijadikan indikasi kondisi terkini satu pasangan calon. Sur­vey di media sosial juga dapat dijadi referensi bagi pemilih pemula dan sekaligus juga menjadikan pemilihan kepemimpinan lebih terbuka dan tentu akan meningkatkan kualitas pemimpin yang diha­silkannya. Walaupun survey tidak bisa jadi ukuran.

Revolusi Darurat

Revolusi darurat adalah un­tuk menegaskan pengunaan kata darurat oleh kepala negara dan atau publik figur lalu di­ku­tip media.  Kata-kata daru­rat lazimnya didengar untuk menunjukkan keadaan gen­ting ketika perang, bencana yang mencemaskan atau tem­pat di rumah sakit yang ditu­lis­kan dengan warna hijau unit gawat darurat (UGD), akan te­tapi tahun 2016 ini kata darurat banyak dipakai di luar konteks di atas. Darurat narkoba, da­rurat anak, darurat maksiat, da­rurat teroris dan darurat lain­nya yang belum begitu popu­ler. Penekanan kata darurat di sini menunjukkan sudah begi­tu kritis, mencemaskan dan pada tingkat membahayakan.

Mengatasi darurat narkoba pemerintan telah berkerja melalui badan khusus yang dibentuknya dengan nama Badan Nasional Narkoba (BN­N). Tidak pula dapat disang­kal BNN tidak mudah pula membebaskan dirinya dari efek buruk yang diinfuskan sel-sel jaringan narkoba. Kasus ter­pina Fery Budiman yang menyatakan adanya keterli­batan aparat adalah buktinya, pawang ma macah timbo, tung­kek mambao rabah.

Darurat perlindungan ter­ha­dap anak dan kaum perem­paun juga cukup kuat gema­nya selama tahun 2016, jika tidak mau dikatakan mening­kat. Kasus pembunuhan anak, penelantar anak oleh orang terdidik, suami isteri dosen, pembunuhan perempuan dengan penyiksaan di luar batas kema­nusian, memasukkan pacul ke vagina karena cemburu dan sakit hati, pembunuhan anak sekolah SMP, terakhir penikaman anak-anak SD  di Nusa Tenggara Timur  adalah bentuk-bentuk nyata darurat anak dan perlindungan anak yang mengenaskan dan mengkhawatir semua orang tua dan orang sehat jiwanya.

Revolusi Heboh

Heboh kasus kopi Vietnam yang menelan korban Mirna adalah fenomena sidang ­yang ditayangkan langsung media elektronik terlama dan mendapat ulasan segala macam keahlian. Energi publik disedot oleh media untuk menonton kasus yang begitu penuh lika liku adalah bentuk kehebohan yang belum pernah ada. Figur Basuki Cahaya Purnama yang dipanggil Ahok adalah pemicu kehebohan luar biasa di tahun 2016 ini. Revolusi sosial yang dipantik Ahok, adalah terjadi unjuk rasa damai tanggal 4 November 2016 yang disebut aksi 411 dan kemudian ditambah lagi dengan aksi tanggal 2 Desem ber 2016 atau aksi 212, lalu ada lagi gerakan untuk salat subuh berjamaah tanggal 12 Desember 2016 dikenal dengan gerakan 1212.  Kehebohan yang dibawa oleh tiga gerakan umat Islam yang dikenal damai, sejak dan tidak ada kejadiaan yang meresahkan betul, kecuali adanya pembu­ba­ran yang menimbulkan sua­sana kacau di malam hari 4 November 2016, bukanlah ke­he­bohan dalam artian keke­cauan, akan tetapi heboh da­lam makna begitu luas, massif, ramai dan terkomunikasi mung­kin oleh semua media. Dalam hitungan sederhana saja entah berapa biaya, energi dan pikiran yang terkuras untuk mensukseskan dan atau menga­wasi kegiatan tersebut.

Gerakan kehebohan yang terjadi pada 411, 212 dan 1212 adalah bentuk baru dari gerakan yang melibatkan semua elemen, segmen dan komponen umat dalam satu tujuan dan keinginan yang sama, namun terkawal dalam satu komando. Tidak berlebihan bila dikatakan gerakan akhir tahun 2016 ini adalah wujud dari revolusi sosial religius nan damai, tanpa ada yang dirusak, tidak terganggunya jalan pemerintah, tidak pula ada keluhan masyarakat bahwa ia mengalami gangguan dan kecemasan karena berkum pulnya manusia dalam jumlah yang diyakini lebih dari satu juta orang.

Gebrakan Hukum

Dalam lapangan hukum dan penyelamatan asset negara tahun 2016 ini, masyarakat disuguhi oleh berita kinerja Komisi Pem­berantasan Korupsi (KPK) yang me­lakukan operasi tangkap ta­ngan (OTT) dan terakhir muncul pula gerakan Sapu Bersih Pungu­tan Liar (Saber Pungli) dan beri­ta eksekusi hukuman mati ter­ha­dap gembong narkoba ada­lah prestasi aparat hukum dan kesungguhan aparatur negara untuk menyelamatkan bangsa dari drakula korupsi, virus nar­koba dan prilaku jahat, buruk dan sangat tercela yang dilaku­kan aparat negara, dan tidak pula absen pejabat negara dan orang-orang terpandang di negara ini.

Gebrakan hukum yang cepat, keras dan oleh sementa­ra pihak masih dipertanyakan akurasinya adalah pengerebe­kan, penembakan mati, dan penangkapan terhadap mere­ka yang diduga teroris di ber­bagai tempat, terakhir 3 jelang natal bersamaan pada tiga dae­rah, sehingga membawa korban tiga orang tewas didor densus 88. Dari luar negeri beberapa ke­jadian yang melibatkan aparat hukum Indonesia ada­lah peyenderaan anak buah kapal oleh tentara pimpinan Abu Sayyaf di Filipina, yang kemudian dapat dibebaskan aparat keamanan Indonesia. Peristiwa perang saudara di Suriah, pelanggaran hak-hak azazi manusia di Allepo, juga soal hukum dan kemanusiaan yang cukup menyita perhatian umat, disamping Palestina yang masih bergejolak.

Resolusi

Kegalauan informasi yang disajikan medsos, kecemasan terhadap prilaku buruk dan menyimpang yang dikono­tasikan sebagai “darurat” diu­las di media cetak dan dita­yangkan di media elekronik adalah pemahaman yang se­gera mengendap di alam bawah sadar, pada saatnya mudah meledak dan mengancam kese­lamatan bersama. Patut juga diperhatikan bahwa era de­mokrasi dan kebebasan dalam semua sistim bukanlah se­muanya membawa rahmat, dalam banyak kejadian justru demokrasi menenggelamkan kearifan, kesantunan, kesaba­ran dan sifat terpuji lain.

Mencermati arah peru­bahan sistim demokrasi, dam­pak media dan pengaruh ling­kungan srategis, maka ada beberapa resolusi yang hen­dak­nya menjadi perhatian se­mua pihak yang memiliki tanggung jawab dalam peru­bahan dan pihak mana saja yang diberikan kemampuan le­bih sebagai faktor dalam peru­bahan. Kematangan leadership pemimpin, kesantunan bicara figur publik, ketepatan dalam mengirim sinyal informasi sang komandan,  dan kearifan umara’ dalam semua levelnya adalah prasyarat utama untuk menyelasaikan masalah-ma­salah sesulit apapun. Kesa­baran, keistiqamahan, ketela­danan dan keteguhan ulama, tokoh umat dan pengerak masyarakat dalam memegang prinsip kebenaran, dan kea­dilan adalah resep mujarab untuk menyelamatkan bangsa dari kerusakan yang tidak diinginkan.

Konstitusi, regulasi, aturan tertulis dan konvensi yang sudah disepakati bersama adalah rambu-rambu yang mengarahkan semua pihak harus terus meneruskan di rawat, dipelihara dan dilak­sana­kan secara konsisten dan sepenuh hati. Pengingkaran, pengabaian apalagi tindakan melawan hukum adalah bahaya nyata yang harus dicegah tanpa pandang bulu. Pembungkusan kebusukan, pencideraan cita-cita perjuangan bangsa, kepi­cikan dan pengkhiatan yang disembunyikan oleh aparat, pejabat dan pemimpin bangsa adalah musuh bersama yang harus dilawan, dihabiskan dengan segala potensi yang dimiliki.  Kejelasan, dan ketaa­tan pada regulasi dan konsis­tensi penegakkannya adalah amanah Allah SWT  dan keper­cayaan bangsa yang harus di­suarakan dan ditegakkan de­ngan konsisten. Hukum wajib ditegakkan, walaupun langit akan runtuh, begitu kata filo­sof.

Resolusi yang tidak boleh diabaikan adalah kendali in­for­masi. Revolusi tekhnologi informasi, luasnya cakupan, massifnya konten dan sulitnya mengontrol informasi mesti disikapi dengan pencerdasan, pencerahan dan pengawasan yang kontinu. Bangsa cerdas dan melek informasi adalah indikasi kemajuan dan perada­bannya.  Menutup refleksi ini patut diingatkan bahwa cata­tan masa lalu adalah sejarah untuk jadi bahan ‘itibar bagi merumuskan masa depan yang lebih baik. Menyusun reso­lusi, saran, dan rencana kerja untuk dilakukan di tahun depan adalah separuh dari kebaikan yang akan diraih. SELAMAT JALAN 2016 DAN SELAMAT DATANG 2017. Fastabiqul khairat. Amin.

 

DUSKI SAMAD
(Guru Besar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Imam Bonjol Padang)


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Jumat,08 Januari 2016 - 03:26:05 WIB
    (Refleksi HAB Kemenag ke-70)

    Meneguhkan Revolusi Mental

    Meneguhkan Revolusi Mental Tahun baru selalu me­lahirkan reso­lu­si baru bagi se­tiap individu mau­pun institusi. Sebab, ber­gan­tinya waktu, menan­da­kan usia semakin bertam­bah. Tan­tangan serta hara­pan ke­hidupan semakin besar, de­mi.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: harianhaluan@yahoo.co.id
APP HARIANHALUAN.COM