Pusingnya Menghadapi Gempuran Medsos


Rabu,28 Desember 2016 - 01:46:45 WIB
Reporter : Tim Redaksi

Melihat dunia dari dalam kamar. Kalimat ini semakin sering kita dengar sejalan dengan semakin berkuasanya media sosial (med­sos). Dia (medsos, red) telah menguasai seluruh aktivitas kehidupan kita. Bila tak hati-hati menyikapinya, medos justru bisa merusak cara berpikir kita. Parahnya, merusak mmorla anak bangsa.

Dapat kita bayangkan, betapa pusingnya pemegang kuasa menghadapi gempuran medsos. Terpeleset sedikit saja, dibully habis-habis di medsos bahkan jadi viral. Ada langkah sedikit, isu ini-itu bertebaran. Tudingan sana-sini muncul berentetan. Jadilah bukan cuma orang-orang di atas saja yang tak pernah nyenyak tidurnya. Kaum jelata pun tak beda.

Namun, tak mengapa. Biarlah itu jadi takdir karakter wajah bumi di zaman gadget ini. Kita sebagai masyarakat awam yang ber­juang agar tetap waras, mestinya cuma bisa berusaha agar ikut arus, tapi tidak terhanyut. Karena itulah dalam segenap keterbatasan, yang bisa kita lakukan cuma berhati-hati dan tekun menyimak hingga tuntas setiap per­kembangan. Sebab dari situlah kita bisa me­ne­mukan banyak kesempatan untuk belajar.

Mari ambil contoh. Baru saja ada keri­cuhan di medsos terkait uang baru yang dikeluarkan Bank Indonesia. Ada sebagian pihak (ah, sebenarnya cuma itu-itu saja sih) yang tiba-tiba menyatakan bahwa eksistensi umat Islam dipinggirkan melalui pemilihan tokoh pahlawan yang dipajang di lembar-lembar uang tersebut. Sontak, “tafsir kreatif” semacam itu segera disambut oleh publik galau, misalnya dengan ungkapan-ungkapan tak pantas dan rasis yang ditujukan kepada sosok yang terpampang di uang Rp 10.000.

Untunglah, segera muncul beberapa orang yang dengan gamblang, pelan-pelan, dan sederhana, menjelaskan tentang siapa itu Frans Kaisiepo, pahlawan nasional Indonesia dari Tanah Papua. Bahwa ia menjadi wakil Papua dalam Konferensi Malino tahun 1946 saat pembentukan Republik Indonesia Serikat, bahwa ia tokoh yang mengusulkan nama Irian waktu itu, bahwa ia diangkat sebagai pahlawan nasional pada era Orde Baru.

Lalu dalam situasi ruwet tak berujung begitu, siapa yang pantas digugat? Para orang pintar, para elite pengetahuan yang aktif beraktualisasi di media sosial, namun lebih asyik berbincang riuh-rendah dengan kalangan kita sendiri.

Barangkali memang benar, para kelas menengah yang dicap sebagai pengejar kenyamanan itu memiliki bawah sadar neolib. Mereka menganggap bahwa kaum miskin tergusur di mana-mana semata karena kalah berkompetisi dalam realitas dunia yang semakin ketat, padahal kenyataannya kom petisi tidak dimulai dari garis start yang sama.

Namun para intelektual publik itu pun lupa, bahwa mereka tak kalah neolibnya. Apa dikiranya keberuntungan berupa kesempa­tan mengakses pengetahuan, takdir yang mempertemukan mereka dengan buku-buku hebat.

Kini, sudah saatnya kelas intelektual mulai bertobat, berendah hati, untuk memberikan pengajaran publik tentang setiap hal yang terjadi di tengah segala keributan ini. Dengan cara sederhana, dengan bahasa-bahasa orang awam, dengan melupakan keagungan posisi sebagai elite pengetahuan.

Medsos akan semakin bermakna dan bermanfaat bila digunakan secara positif. Banyak yang tiba-tiba jadi selebritis karena medsos. Jaid, semua ini tergantung cara kita menilai dan memperlakukannya. Medsos akan selalu ada dan terus berkembang teknologinya.***


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM