Menghadapi Serbuan Tenaga Kerja Asing


Selasa,27 Desember 2016 - 00:52:14 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Menghadapi Serbuan Tenaga Kerja Asing Ilustrasi.

Baru-baru ini berhembus kabar bahwa­sanya akan didatang­kan juta-an tenaga kerja asing (TKA) ke Indonesia. Hal terse­but tentu menjadi kabar buruk ditelinga masyarakat Indonesia, karena masalah pengangguran hari ini pun menjadi masalah yang krusial dalam menumbuhkan pere­konomian. Bagaimana mungkin pemerintah mengundang TKA untuk berkerja di Indonesia padahal masih banyak Warga Indonesia tak menda­patkan kesempatan kerja di Tanah airnya sendiri?

Walau Dirjend Pembinaan dan Penempatan Tenaga Ker­ja dan Peluasan Kesempatan Kerja Kementrian Ketena­gakerjaan Hery Sudarmanto, membantah kabar ini, bukan tidak mungkin dikemudian hari jumlah para TKA akan menjadi berjuta jumlahnya di Indonesia, dikarenakan tinda­kan yang tidak serius dari pemerintah dalam menangani permasalahan ini. Saat ini tercatat, di Kementrian Kete­na­gakerjaan, per-november 2016 ada 74.183 orang TKA yang bekerja di Indonesia, 21.271 tenaga kerja berke­bangsaan cina. Angka terse­but belum termasuk jumlah pekerja asing berstatus ilegal yang sengaja didatangkan oleh investor untuk menger­jakan proyek berskala besar di negeri ini. Kebanyakan dari TKA tersebut menyalahgu­nakan izin kunjungan ke Indonesia untuk berkerja da­lam kurun waktu yang cukup lama.

Hukum perundang-un­dang­an sudah menyebutkan bahwasanya TKA yang diizin­kan bekerja di Indonesia ha­nyalah untuk mereka yang memiliki kompetisi atau keah­lian khusus yang tidak dapat disediakan oleh pekerja lokal. Namun fakta dilapangan bisa kita lihat kebanyakan TKA ini mendapat porsi sebagai per­kerja kasar bukan sebagai tim ahli di dalam proyek. Wa­laupun didalam definisi pe­ker­jaan di Kemenakertrans tercatat mereka bagian dari tim ahli. Pertanyaan besar bagi kita mengapa perusahaan dan in­vestor asing tersebut lebih memilih memperkerjakan TKA di Indonesia dari negara asal mereka seperti cina. Padahal upah yang dikeluarkan bagi tenaga kerja Indonesia setara dengan upah memperkejakan TKA untuk kelompok peker­jaan kasar. Mengapa mereka mau mengambil resiko penya­la­hgunaan perizinan dan me­nyelundupkan pekerja asal negeri mereka?

Maraknya investasi China dalam bentuk proyek pem­bangunan infrastrukstur di seluruh Indonesia mungkin bisa menjadi alasan penyer­buan tenaga kerja mereka ke Indonesia. China adalah ne­gara yang berinvestasi secara besar-besar ke negara asia terutama di Indonesia. Tujuan negara-negara ini berinvestasi ke Indonesia bukan lagi seke­dar bisnis belaka namun juga ikut untuk menyeimbangkan ekonomi makro negara-nya masing-masing.

Dapat kita lihat negara tersebut merupakan negara yang maju dibidang pereko­nomian secara pesat dalam kurun waktu dua dekade te­rakhir. Bahkan karena pemba­ngunan yang dilakukan di negara tersebut membuat har­ga komoditi seperti baja, besi dan semen diseluruh dunia turut naik. Tapi berbeda de­ngan apa yang terjadi sekarang, pertumbuhan mereka sedikit melemah atau malah bisa dika­takan stagnan. Para kontraktor beserta industri baja dan besi terancam bangkrut karna tidak ada lagi proyek-proyek raksasa di negara tersebut. Sehingga jalan satu-satunya untuk tidak terjerumus dalam krisis, peme­rintahnya berkalaborasi deng­an investor untuk berinvestasi di negara-negara yang sedang melakukan pembangunan se­perti Indonesia. Tanpa bantu­an negara asalanya sendiri para investor akan sulit melakukan investasi, maka mereka mene­rima tawaran bekerjasama ter­sebut dengan syarat para inves­tor memakai tenaga kerja dari negara asalnya demi keseim­bangan ekonomi negaranya. Hal ini nanti akan menjadi penguat ekonomi makro mere­ka karena angka peng­ang­guran mereka bisa ditekan oleh peluang bekerja di In­donesia.

Bisa kita ambil contoh kasus usaha perikanan PT Maritim Timur Jaya milik taipan Tomy Winata di Malu­ku. Perusahaan tersebut beker­ja sama dengan PT Fujian Anda Oceanic Fisheries yang berkantor pusat di China ini menyediakan anak buah kapal sekaligus membeli ikan tang­kapan PT Maritim untuk di­jual ke negara tersebut. Alhasil terbukti perusahaan ini ma­lakukan suap visa on arrival serta penyelundupan TKA tanpa izin yang terbongkar bulan agustus tahun lalu. Itu baru satu dari sekian banyak kasus TKA yang luput dari pengawas ketenagakerjaan.

Sungguh suatu peluang yang besar untuk mengurangi angka pengangguran di negara ini saat investor-investor mulai merangkak masuk. Walaupun angka dari Badan Pusat Statis­tik (BPS) menunjukan adanya penurunan yang signifikan pengangguran di Indonesia dari tahun 2010 tercatat 8.3 juta jiwa sampai dengan tahun 2016 terhitung hanya 7.0 juta jiwa, tak lantas meberikan peluang yang besar pula untuk negara asing bekerja di bumi pertiwi. Mempekerjakan TKA menepiskan keinginan untuk bisa menggenjot ekonomi makro masyarakat Indonesia. Apalagi mempekerjakan TKA ilegal, ini sama sekali tidak memberikan keuntungan bagi negara ini disamping dituding mengambil jatah kerja warga Indonesia mereka juga tidak menyetorkan pajak penda­patannya .

Kesiapan serta kematangan angkatan kerja untuk men­dapat kesempatan kerja men­jadi senjata ampuh yang harus dipersiapkan sedini mungkin agar tak kalah saing dengan TKA ini. Tak hanya kemam­puan dasar nilai lebih seperti integritas juga harus ditun­jukan oleh masyarakat Indone­sia agar investor asing tak lagi punya alasan memakai tenaga kerja asal negaranya. Kita tau pada umumnya pekerja China sangat teliti serta gigih dalam bekerja, mental inilah kiranya yang harus juga melekat pada angkatan kerja di Indonesia. 

Tindakan serius peme­rintah untuk memaksimalkan tenaga kerja lokal di Indonesia harus segera di realisasi serta regulasi dan sanksi harus be­nar-benar diterapkan. Para aktor jajaran pemerintahan terkait diharapkan tidak ikut melakukan kongkalikong serta juga harus memperbaiki sistem birokrasi berbelit yang dija­dikan alasan oleh investor asing memperkerjakan war­ganya. Dalam hal inipun di­har­pakan ketegasan pemerin­tah berupa sanksi yang real jika ditemukan pelanggaran dalam ketenagakerjaan agar investor lain ikut jera.

 

FADILA RAHMI
(Pegiat Economic Action (ECONACT) Indonesia)\


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Kamis,29 Desember 2016 - 00:24:30 WIB
    (TANGGAPAN TULISAN FADILA RAHMI)

    Menguatkan Regulasi Menghadapi Serbuan Tenaga Kerja Asing

    Menguatkan Regulasi Menghadapi Serbuan Tenaga Kerja Asing Salah satu tujuan negara Indonesia dalam pembukaan UUD 1945 alinea IV adalah untuk mening­katkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Untuk menca­pai tujuan tersebut, maka syaratnya rakyat harus bekerja guna memenuhi kebutu.
  • Rabu,28 Desember 2016 - 01:46:45 WIB

    Pusingnya Menghadapi Gempuran Medsos

    Melihat dunia dari dalam kamar. Kalimat ini semakin sering kita dengar sejalan dengan semakin berkuasanya media sosial (med­sos). Dia (medsos, red) telah menguasai seluruh aktivitas kehidupan kita. Bila tak hati-hati menyika.
  • Senin,04 April 2016 - 04:08:41 WIB

    Bekerja Sama Menghadapi Represi Pembajakan

    Bekerja Sama Menghadapi Represi Pembajakan Piracy atau yang lebih dikenal dengan pembajakan merupakan sebuah kejahatan internasional yang sudah ada sejak dulu hampir sama tuanya dengan peradaban manusia itu sendiri. Catatan sejarah tertua menunjukkan bahwa tindakan pe.
  • Selasa,29 Desember 2015 - 03:56:46 WIB
    Kaleidoskop 2015

    Sumbar Belum Siap Menghadapi MEA?

    Sumbar Belum Siap Menghadapi MEA? Dua hari lagi, atau tanggal 31 Desember 2015, konsep Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community /AEC) akan mulai diberlakukan. Sebagian besar rakyat Indonesia harap-harap cemas menyambut MEA. .
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM