Tata Kelola Seni dari Negeri Kiwi


Minggu,25 Desember 2016 - 12:51:03 WIB
Tata Kelola Seni dari Negeri Kiwi Foto Oleh Iman Fattah

Tata Kelola Seni dari Negeri Kiwi
Oleh Mahatma Muhammad

(Sutradara dan pemimpin Komunitas Seni Nan Tumpah)

Foto Oleh Iman Fattah

Direktorat Jendral Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengirim 49 pegiat budaya selama tiga minggu ke Selandia Baru,  13 November hingga 4 Desember 2016 lalu. Peserta dari program ini mengikuti pelatihan, pendidikan, serta membuka kesempatan untuk kerjasama proses kreatif dan tata kelola seni dalam kerangka pengembangan seni-budaya dan penelitian yang berkaitan dengan tradisi edukasi dan cakupan akademis. Kegiatan ini terpusat di kota Auckland dan Wellington, dengan Auckland University of Technology (AUT) sebagai mitra kerja Kemdikbud yang menyiapkan seluruh program budaya secara detil untuk para pegiat budaya Indonesia.

 

Peserta kegiatan ini adalah pegiat budaya terpilih, yang sebelumnya pada Juni 2016, lolos seleksi terbuka  yang diadakan Direktorat Jendral Kebudayaan. Peserta berasal dari berbagai daerah di Indonesia dengan berbagai profesi di bidang seni-budaya. Mulai dari seni rupa atau visual, manajer, kurator dari galeri dan museum, bidang film, hingga pegiat budaya di bidang historian dengan profesi sejarahwan, peneliti, dan arsiparis. Peserta terbanyak hadir dari bidang seni pertunjukan, yakni seniman muda usia di bidang teater, tari, serta musik.

 

Selain unjuk kemampuan dengan menampilkan beberapa pertunjukan, peserta pegiat budaya juga melakukan kunjungan bersama ke tempat-tempat wisata, warisan budaya dan KBRI.  Oleh tim AUT, peserta pegiat budaya tiap hari dibagi sesuai bidang untuk mengunjungi ruang-ruang kesenian, galeri seni, museum, perpustakaan, komunitas seni atau kantong budaya yang dikelola secara independen maupun oleh pemerintah. Tentu saja banyak hal yang dapat dipelajari, atau diceritakan oleh pegiat budaya selama tiga minggu bermukim di negeri kiwi tersebut. Demikian juga saya, yang pada tulisan ini mencoba sedikit berbagi soal tata kelola seni-nya.

II

Auckland sebagai kota metropolitan terbesar di Selandia Baru, memberikan gambaran bagaimana kesenian begitu bermatabat, menjadi kebutuhan bagi keseimbangan warga kota dengan tata kelola yang rapi. Di sana hidup dan tumbuh galeri-galeri seni rupa dalam kota, dimana jarak satu galeri ke galeri yang lain begitu dekat bila ditempuh berjalan kaki.

 

Karya-karya visual atau instalasi lengkap dengan keterangan dan pemilik karya bertebaran di ruang-ruang publik, hotel-hotel, sekolah dan kampus-kampus, rumah sakit bahkan supermarket. Di sana gedung-gedung pertunjukan hidup tanpa harus bergantung kepada biaya sewa acara pesta pernikahan, ulang tahun, acara politik atau acara seremonial lainnya. Gedung-gedung tersebut kokoh karena memiliki unit usaha berupa tempat makan dan minum serta tempat untuk menjual suvenir pertunjukan.

 

Adapun beberapa pertunjukan yang ditonton oleh peserta pegiat budaya, umumnya adalah pertunjukan yang bersifat menghibur, meskipun isi atau perjuangan nilai-nilai yang terkandung dalam pertunjukan tetap tidak disepelekan. Saya dan pegiat budaya teater ikut merasakan bagaimana penonton dimanjakan oleh: kesatuan cerita, akting yang prima, gerak dan musik yang kuat secara dramatik, oleh tata panggung artistik dan teknologi yang begitu canggih, oleh kemasan tata ruang yang berlabel profesional dan mewah. Pada akhirnya juga kagum oleh mekanisme pasar yang begitu teratur sehingga segalanya terorganisir dalam kepastian.

 

Jangan tanya soal bagaimana memesan tiket pertunjukan atau festival, semuanya mudah  ditemukan pada website resmi komunitas pemilik acara atau pengelola gedung pertunjukan.  Ada juga cara yang sangat sederhana, di mana blanko pemesanan tiket juga tersedia pada buku-buku acara atau brosur-brosur pertunjukan yang tersebar di seluruh pelosok kota tiga bulan hingga 1 tahun sebelum acara atau pertunjukan.

 

Tersedia juga transportasi dari lokasi pertunjukan untuk orang dari jauh jika pertunjukan selesai hingga larut malam. Semua tersedia, saling terkait, sehingga penonton merasa terurus dan diperhatikan. Satu hal yang pasti, tata kelola atau mekanisme pasarnya sudah hidup subur.

 

Dalam satu kesempatan diskusi dengan Tainui Tukiwaho dan Amber Curreen dari Te Pou Theatre, mengatakan bahwa sebuah pertunjukan teater di Auckland atau di Selandia Baru secara umum, dibuat dengan kesadaran tontonan sebagai industri,  barang jualan dan kerja teater adalah profesi yang menghidupi senimannya.

 

Sebuah pertunjukan teater  tidak begitu saja hadir di panggung. Harus ada perencanaan bisnis yang matang. Kehendak pasar, kemampuan pasar, situasi pasar menjadi pertimbangan utama dalam memproduksi karya. Pasar menjadi dewa. Ide kreatif bukan hanya soal mengedepankan ide artistik, itu terlalu naif. Ide di sini adalah kemampuan berekspresi, menjual jasa, menanam nilai-nilai dan ekspresi artistik, dan tentu saja menghasilkan uang, ujar Curreen.

 

Hal ini kemudian yang menyebabkan investasi yang dilakukan pada industri pertunjukan di Selandia Baru bukanlah coba-coba, modal dihasilkan dari proposal yang yang bukan biasa-biasa. Seni pertunjukan bukan lagi hanya urusan sutradara, komposer, koreografer dengan pemain. Seni pertunjukan disini adalah bagaimana sebuah komunitas, ruang atau kantong budaya memiliki tata kelola yang baik, karena seni pertunjukan juga urusan bisnis, urusan pemilik modal, sponsor, urusan para manejer, urusan pembentuk opini publik, dan tentu saja urusan pemerintah.

 

Pemerintah di Selandia Baru, dalam hal ini Auckland Council dan New Zealand Creatif memiliki peran yang besar dalam membangun iklim tata kelola seni yang baik. Saya sendiri  pulang ke Sumatra Barat membawa lebih dari 80 brosur dan buku acara seni pertunjukan di Auckland dan Wellington yang rata-rata belum masuk tanggal pelaksanaanya. Hampir di seluruh brosur dan buku acara tersebut, saya menemukan logo Auckland Council maupun New Zealand Creatif. Perihal ini sempat saya tanyakan kepada James Wilson, CEO Q Theatre, gedung seni pertunjukan terbesar di Auckland yang dikelola secara independen. Menurut James, pemerintah mereka tidak hanya jadi fasilitator, tapi juga menjadi mitra bagi seniman dan pelaku seni dalam mengelola segala kegiatan kesenian. Hal tersebut juga berlaku ketika seniman hendak menggunakan fasilitas ruang budaya yang dikelola oleh pemerintahnya sendiri.

 

Pihak pemerintahan di Selandia Baru tidak hanya menyorongkan kegiatan tapi juga mendorong seniman dan kantong budayanya terus berproses dan memproduksi karya dengan tata kelola yang harus  baik.  Pemerintah di sini malu, jika tidak membantu kegiatan kesenian, ujar James, meski dia juga menekankan tanpa bantuan pemerintah, kesenian di Selandia Baru akan baik-baik saja karena iklim di negaranya sudah terbangun.

III

Berbicara sumber ide untuk karya dan metode proses kreatif,  Indonesia justru berlipat-lipat lebih kaya dibanding Selandia baru yang hanya memiliki budaya Maori sebagai sumber ide-nya. Namun permasalahan tata kelola selalu jadi pekerjaan rumah besar yang tidak tuntas. Saking besar dan kompleksnya soal tata kelola ini, jangankan membandingkan dengan Selandia Baru, untuk membandingkan Jakarta atau Jawa secara umum dengan daerah-daerah lain di Indonesia sangatlah timpang.

 

Di daerah, ruang-ruang seni pertunjukan atau kantong budaya yang independen masih sedikit, dan kalaupun ada progres, pergerakannya masih pasang surut. Praktis kegiatan kesenian bergantung pada sarana pemerintahan yang mahal itu, yang di daerah juga tidak banyak jumlahnya itu, yang tidak dikelola dengan baik itu, yang juga berbelit-belit sistem peminjamanya atau prosedural pemakaiannya itu.

 

Yang membuat program pegiat budaya ini tidak maksimal dalam mempelajari tata kelola seni ini, menurut saya karena tidak adanya keseimbangan dari segi komposisi peserta. Peserta pegiat budaya dibiarkan belajar sendiri tanpa pendampingan pemerintah yang mengirimnya. Sementara, dilihat dari jumlah, pegiat budaya Indonesia yang diberangkatkan  ke Selandia Baru sebagian besar  adalah praktisi, pelaku atau seniman muda yang fokus pada artistik karya. Hanya satu dua pegiat budaya yang berstatus pengelola museum dan galeri seni, pengelola manajemen produksi, arsip, dokumentasi atau pengelola tempat serta ruang-ruang seni pertunjukan yang independen.

 

Bahkan tidak ada sumber daya manusia pengelola lembaga, badan atau UPTD pemerintahan di bidang budaya semacam taman budaya atau dewan kesenian misalnya, yang ikut serta belajar tata kelola seni ini. Padahal menurut saya, kebersamaan dalam belajar ini penting, ketimbang pemerintah harus mengirim sendiri orang-orangnya untuk studi banding dalam program yang lain, yang juga tidak jelas hasilnya itu. 

 

Pegiat budaya yang dikirim ke Selandia Baru berbeda-beda domisilinya. Kita tahu, mau berdomisili di manapun di Indonesia raya ini, kalo tidak mau dibilang malas,  umumnya seniman yang fokus pada tata artistik tidak punya waktu memikirkan tata kelola manajemen produksinya. Mereka juga tidak punya daya, atau militansi yang kuat  (umumnya karena alasan biaya) mengajak rekan-rekanya mengelola manajemen di komunitas atau lingkungan-nya. 

 

Siapa coba! yang hari ini yang mau mengelola kesenian tanpa kepastian menghasilkan? apalagi mengajak rekan-rekan di luar disiplin bidang seni. Kalo mengajak orang sesama disiplin seni, kita tahu, umumnya semua ingin eksis, ingin tampil,  sehingga  jarang yang mau bekerja di belakang panggung. Sudah tidak nampak batang hidungnya karena bekerja di belakang panggung, tidak memperoleh penghasilan pula!

 

Itulah, mengapa saya berharap, program serupa pengiriman pegiat budaya ini selanjutnya secara komposisi ada praktisi, ada orang yang khusus untuk mengelola manajemen produksi serta orang-orang dari pemerintahan yang fokus mengelola ruang atau lembaga budaya, ikut terlibat belajar tata kelola bersama  pegiat budaya. Sehingga ada keseimbangan.

 

Dan akhirnya, pemerintah tidak hanya tahu atau pusing bagaimana membagi rata program untuk satu, dua, sepuluh, seratus seniman atau komunitas,  tapi juga tahu dan ikut pusing dengan  apa yang dibutuhkan seniman dan komunitas budaya dalam tata kelola kesenian di daerahnya, di kantong-kantong budaya masyarakat agar lebih baik. 

 

Kesenian sebagai bagian dari kebudayaan harusnya bisa mendapat perhatian lebih pada tata kelolanya daripada sekedar biaya bermiliar-miliar untuk membuat iven atau festival maupun produksi seni dan program-program sejenis. Pemerintah harus jadi mitra, bukan hanya sekedar fasilitator, yang memberikan program cuma-cuma, asal laporan dikerjakan sesuai format atau permintaan, atau asal bapak senang! Pemerintah harus ikut bertanggungjawab melahirkan kantong-kantong budaya yang mandiri, tidak sekedar memberi makan seniman dengan anggaran program bermilyar-milyar, dan habis, dan memulai dari nol lagi, dan begitu seterusnya.

 

Tanpa keterlibatan pemerintah, mustahil negara seperti Selandia Baru atau negara-negara yang tata kelola keseniannya baik, berjalan baik pula. Begitu juga Indonesia yang besar itu, pembangunan iklim berkesenian di daerah-daerah, mustahil hidup di tangan senimannya sendiri. Mustahil iklim terbangun, sekalipun senimannya sudah dikirim dan dibiayai negara untuk belajar tata kelola seni jauh-jauh ke Selandia Baru.[]

Kasai, 2016


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com
TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Kamis,01 Januari 2015 - 21:01:12 WIB

    Pemkab Pasaman Serahkan Bonus Atlet

    PORPROV SUMBAR XIII USAI

    PASAMAN, HALUAN — Pemerintah Kabupaten Pasaman menyerahkan bonus atlet peraih medali dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumatera Barat XIII yang dig.

  • Kamis,01 Januari 2015 - 21:01:55 WIB

    Cuaca Ekstrem, BPBD Siagakan Satgas TRC

    SOLOK, HALUAN — Sebanyak 69 anggota Satgas Tim Reaksi Cepat (TRC) gabungan Pasukan relawan Damkar, anggota Damkar Pemerintah Kota Solok, disiagakan untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi, saat cuaca ekstrem.

  • Kamis,01 Januari 2015 - 21:03:27 WIB

    Kecamatan Kapur IX Bersiap Keluar dari Ketertinggalan

    LIMAPULUH KOTA, HALUAN — Kecamatan Kapur IX bersiap keluar dari daerah terisolasi usai rampungnya proyek pengerjaan peningkatan struktur jalan strategis nasional Pangkalan-Galugua akhir tahun lalu.

    .
  • Kamis,01 Januari 2015 - 21:03:47 WIB

    Pelaku Penjarahan Dihakimi Massa

    TANAH DATAR, HALUAN — Aksi penjarahan di rumah terkangkap basah warga. Pela­ku tertangkap tangan sedang mengobrak abrik barang di rumah milik Bustami, di Jo­rong Jati, Nagari Baringin, Kecamatan Lima .

  • Kamis,01 Januari 2015 - 21:04:11 WIB

    Hari Pertama, Sigulambai Lalap Satu Unit Rumah

    AGAM, HALUAN — Diduga akibat hubungan harus pendek, satu unit rumah di Kampuang Tanjuang, Nagari Garagahan, Kecamatan Lubuk­ba­sung, ha­ngus dilalap sigulambai pada hari pertama di tahun 2015, Kamis (1/1) p.

  • Kamis,01 Januari 2015 - 21:04:38 WIB

    Di Pasaman, Potensi Peredaran Narkoba Masih Tinggi

    PASAMAN, HALUAN— Selama tahun 2014, Polres Pasaman ber­hasil menga­mankan barang bukti 47,787 kilogram ganja kering dan 24,28 gram sabu-sabu dengan total transaksi diperkirakan Rp200 juta.

    Kapo.

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: harianhaluan@yahoo.co.id
APP HARIANHALUAN.COM