Peran Ibu di Dunia Politik


Sabtu,24 Desember 2016 - 01:51:54 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Peran Ibu di Dunia Politik Ilustrasi.

Perempuan dalam konteks gender dide­finisikan sebagai sifat yang melekat pada seseorang untuk menjadi feminism (bersifat kewanitaan). Sebelum lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia, peran perempuan sudah ada dalam dunia politik , di era Kolonialisme Belanda kita mengenal RA Kartini, ia lahir seba­gai pemimpin perem­puan yang memper­juangkan kebebasan dan peranan perem­puan melalui eman­sipasi dalam bidang pendidikan. Berkat pemikiran-pemikiran yang ia lahirkan, sehingga sampai saat ini pemikirannya masih menjadi bahan kajian para Kartini masa kini.

Kaum perempuan berhak atas perlakuan yang sama di hadapan hukum”. Itu berarti baik laki-laki maupun perem­puan pada dasarnya sama dihadapan hukum, berperan dalam politik, berpran dalam dunia pendidikan, berperan dalam dunia kesehatan, dan berperan dalam bentuk apa pun demi kemajuan dan keu­tu­han negara tercinta yakni Ne­gara Nesatuan Republik Indonesia. Tidak ada yang bisa menyangkal bahwasan­nya permpuan juga bisa ber­peran dalam berbagai bidang yang biasananya dilakukan para lelaki, karena itu semua sudah dijamin dan di khid­mad oleh konstitusi kita serta dalam kenyataannya juga telah terbukti.

Didalam bingkai kehidu­pan sosial dan politik masya­rakat Indonesia secara umum memberikan ruang yang luas dan ramah bagi kaum perem­puan untuk berkiprah dalam politik, termasuk menjadi pemimpin. Bahkan kesem­patan ini terus diberikan, termasuk penetapan kuota 30% perempuan di parlemen melalui Undang-Undang No­mor 8 Tahun 2012 . Dari per­spektif historis, nampak bahwa sepanjang sejarah Indonesia, pemimpin perempuan telah muncul silih-berganti. Rahim Ibu Indonesia telah membuk­tikan diri sebagai rahim yang subur bagi lahirnya para pe­mimpin perempuan terkemu­ka di bumi pertiwi, sungguh mulia jasamu para ibu, karena engan tangan lebutmu engkau rawat anak-anak mu hingga besar dan berprestasi, dan dengan kasih sayang mu  eng­kau didik anak-anakmu jadi seorang pemimpin.

Dengan adanya  partai politik merupakan salah satu wujud partisipasi masyarakat yang penting dalam mengem­bangkan kehidupan demokrasi yang menjunjung tinggi kebe­basan, kesetaraan, kebersa­maan, dan kejujuran. Dalam artian menjunjung tinggi “ke­be­basan” dalam berucap, ber­si­kap, berbuat, bertingkah serta berpolitik. Menjunjung tinggi “kesetaraan” dalam bentuk apapun, termasuk kese­taraan dalam mengambil ba­gian dan berkompetisi dalam dunia politik. Menjunjung tinggi kebersamaan dalam membangun bangsa, agar bang­sa indonesia menjadi bangsa yang besar, bangsa yang adil, bangsa yang bermartabat serta menjadikan bangsa yang mandiri, bagian ini tidak hanya dilakukan oleh para laki-laki, namun para perempuan pun harus turut andil didalamnya. Menjunjung tinggi “kejuju­ran”, kejujuran itu sangat ting­gi nilainya di mata masyarakat, karena kalau kita telah jujur maka kita akan dipercayai selamanya, para perempuan pasti telah mengenyam nilai-nilai kejujuran itu, karena hati dan jiwa perempuan itu lembut dan selalu mengutamakan hati nurani dalam setiap tingkah-lakunya.

Dengan adanya konstitusi yang mengatur tentang keter­libatan perempuan dalam kepe­ngurusan partai politik dan kuota pencalonan legislatif perempuan sebanyak 30%, harapan penulis kepada semua kaum perempuan, tidak berefo­ria dengan terjaminnya hak itu oleh konstitusi, sehingga hak-hak lainnya yang juga tidak kalah penting terabaikan be­gitu saja. Salah satu contohnya, bila perempuan yang sudah berkeluarga, bilamana ingin berproses dan ingin meng­ambil bagian yang jamin kon­stitusi tersebut, harus dulu menyelesaikan kewajibannya sebagai seorang ibu dan seba­gai istri yang baik, mengurus dulu keperluan anak-anaknya, agar anak-anaknya kelak be­ranjak dewasa menjadi orang terdidik dan menjadi pemim­pin yang tangguh serta me­ngu­rus dulu kewajibannya sebagai seorang istri

Kita tentunya harus mem­berikan apresiasi yang tinggi  kepada ibu hebat di Tanah Air. Karena menjadi seorang ibu bukan pekerjaan yang mudah. Ibu adalah sosok hebat yang mampu melakukan tugas-tu­gasnya tanpa mengenal lelah. Seorang ibu tidak bisa di­anggap remeh karena harus memikul beban dan tanggung jawab yang sungguh berat.

Bagaimana tidak, disam­ping berperan sebagai perem­puan politik maka peran ibu dituntut harus bisa mengurus semua urusan rumah tangga, mulai dari A sampai Z. Selain peran sebagai perempuan poli­tik maka kaum ibu mempu­nyai peran yang  sangat mulia antara lain :

Ibu ibaratnya sebagai se­orang manajer yang harus mengatur semua urusan rumah tangga mulai dari yang sepele, seperti mengepel dan menya­pu lantai, hingga urusan yang rumit. Ibu harus bisa menya­tukan semua anggota keluarga yang mempunyai karakter berbeda. Tak hanya itu, ibu juga harus menuntun semua anggota keluarga agar bisa sejalan satu tujuan.

Ibu memiliki peran pen­ting dalam mendidik anak-anaknya mengenai pendidi­kan iman, moral, fisik dan jasmani, intelektual, psikolo­gis, dan juga sosial. Melalui didikan seorang ibu, kepri­badian seorang anak bisa ter­bentuk dengan baik karena ibu terus membimbingnya tan­pa lelah sejak anak masih kecil. Ibu harus bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya karena anak akan mencontoh sikap dan perilaku orang­tuanya.

Selanjutnya Ibu ibaratnya sebagai seorang koki atau chef yang harus bisa sekreatif mung­kin ketika sedang memasak di dapur. Ibu akan memutar otak­nya untuk memasak menu yang enak, lezat, dan bergizi, untuk para anggota keluarga­nya. Mulai dari sarapan, makan siang, hingga makan malam, semua dimasak oleh ibu de­ngan penuh rasa cinta agar gizi anggota keluarganya selalu terpenuhi.

Ibu ibaratnya sebagai se­orang perawat yang harus bisa merawat anaknya sejak masih bayi. Setelah  hamil dan mela­hirkan anaknya, ibu juga harus memandikan, mengganti po­pok, memakaikan baju, me­nyusui, menyiapkan makanan MPASI, dan mengerjakan tu­gas-tugas lainnya. Tak hanya itu, ibu juga harus memberikan perlindungan, perhatian, dan kasih sayang yang tulus pada anaknya.

Ibu ibaratnya sebagai se­orang akuntan yang harus bisa mengelola anggaran keluarga agar semua kebutuhan bisa tercukupi. Adapun kebutuhan keluarga misalnya, belanja bulanan, bayar sekolah anak-anak, serta membayar tagihan listrik dan telepon. Bahkan, banyak ibu juga harus bekerja membanting tulang untuk mencari nafkah bagi keluar­ganya. Keputusan untuk ber­karir biasanya dilatar­bela­kangi oleh banyak hal, seperti suami telah meninggal dan bercerai.

Ibu ibaratnya sebagai se­orang dokter yang harus bisa menjaga kesehatan keluarga­nya. Seorang ibu selalu siap terjaga apabila ada anaknya yang sakit. Semua upaya dila­kukan oleh ibu agar semua anggota keluarganya selalu sehat. Untuk itu, seorang ibu harus bisa menjaga kesehatan tubuhnya sendiri karena harus melakukan segudang tugas yang butuh kekuatan fisik.

Dan selanjutnya yang ti­dak kalah pentingnya bahwa Agama Islam sangat me­mu­liakan dan mengagungkan kedudukan kaum perempuan, dengan menyamakan mereka dengan kaum laki-laki dalam mayoritas hukum-hukum sya­riat, dalam kewajiban ber­tauhid kepada Allah, menyem­purnakan keimanan, dalam pahala dan siksaan, serta keumuman anjuran dan la­rangan dalam Islam.

Agung dan mulianya tugas serta peran kaum ibu terlihat jelas pada kedudukannya se­bagai pendidik pertama dan utama generasi muda Islam, yang dengan memberikan bim­bingan yang baik bagi mereka, berarti perbaikan be­sar bagi masyarakat dan umat Islam telah diusahakan.*** 

 

 

DRA. ARMIATI. MM


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Jumat,07 April 2017 - 21:04:47 WIB

    Depati Parbo: Pewaris Perang Paderi dari Kerinci

    Depati Parbo: Pewaris Perang Paderi dari Kerinci Jika dalam sejarah Sumatra Barat kita pernah mendengar nama Tuanku Imam Bonjol yang sangat melegenda atas perjuangannya melawan Belanda, maka dalam sejarah Kerinci kita mengenal nama Depati Parbo sebagai tokoh sentral menenta.
  • Sabtu,26 November 2016 - 01:19:38 WIB

    Media Sosial dan Perang Propaganda

    Jumlah pengguna media sosial (medsos) saat ini di Indonesia cukup mencengang­kan. Dari 259,1 juta penduduk Indonesia, seba­nyak 34 persen atau sekitar 88,1 juta aktif sebagai pengguna internet. Sekitar 79 juta aktif menggu.
  • Senin,14 November 2016 - 00:34:47 WIB

    Adakah Perang Melawan Nepotisme?

    Adakah Perang Melawan Nepotisme? Beberapa media televisi dan media cetak belakangan memberitakan suhu politik di Korea Selatan memanas setelah sahabat Presiden Park Geun-hye, Choi Soon-sil, ditangkap polisi karena dianggap telah campur tangan dalam urusan pe.
  • Sabtu,17 September 2016 - 01:55:42 WIB

    Optimasi Peran Ekonomi Ulayat Suku

    Optimasi Peran Ekonomi Ulayat Suku Banyak cerita yang mampir ke telinga saya, cerita berjenis keluhan yang menguap-nguap, kegelisahan yang tak terperi, atau kemuakan yang sudah menjadi-jadi, terkait tata cara pengelolaan dan penggunaan tanah ulayat sukunya mas.
  • Sabtu,11 Juni 2016 - 01:23:52 WIB
    Serasa Di Kampung Halaman

    Lapau Tetap Eksis di Perantauan

    Lapau Tetap Eksis di Perantauan Lapau atau warung bagi urang awak adalah tempat mao­ta atau bercerita, berdiskusi sambil mereguk secangkir kopi dan makan sebuah pisang goreng. Lazim terlihat sebelum be­rangkat kerja ke sawah atau ke ladang bahkan ke kanto.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: harianhaluan@yahoo.co.id
APP HARIANHALUAN.COM