PERHUTANAN SOSIAL

Akses Saja Tidak Cukup, CBFE Pilihan Berikutnya


Minggu,11 Desember 2016 - 12:02:10 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Akses Saja Tidak Cukup, CBFE Pilihan Berikutnya Masyarakat berlatih penyuntikan gaharu di Kabupaten Bungo provinsi Jambi-dok. Pundi Sumatera


JAMBI, HALUAN-Tidak cukup hanya akses terhadap sumber daya hutan melalui berbagai pilihan legalitas, tapi skema pengelolaan hutan berbasis masyarakat (perhutanan sosial) mesti dilanjutkan pada jenjang pengembangan bisnis sumber daya hutan berbasis masyarakat. Secara luas, inisiatif ini dikenal dengan community based forest enterprise (CBFE).

Upaya masyarakat dalam mendapatkan akses legal atas kawasan hutan kini semakin luas dengan diterbitkannya SK Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor P.83/MENLHK/SETJEN/KUM.1/10/2016 tentang Perhutanan Sosial.

Direktur Pundi Sumatera, M. Sutono menilai SK tersebut belumlah cukup.  Perlu peraturan lain yang dapat diimplementasikan di lapangan. “Masih dibutuhkan peraturan teknis yang lebih operasional, walau peraturan sebelumnya masih berlaku.  Ada juga kebutuhan untuk regulasi di level provinsi yang sesuai dan mendukung skema perhutanan sosial,” paparnya.

Biro Pusat Statistik tahun 2016 mencatat setidaknya populasi penduduk di Sumatera mencapai angka 50.630.931 jiwa, sementara 6,2 juta jiwa merupakan penduduk miskin.  Mayoritas penduduk miskin di Sumatera tinggal di pedesaan.

Masyarakat pedesaan, lanjut Sutono, biasanya adalah masyarakat yang dekat dengan sumber daya hutan.  Sumber-sumber penghidupan masyarakat tergantung pada sejauh mana daya dukung hutan mampu menyediakan berbagai kebutuhan termasuk pangan dan perumahan.

Oleh karenanya, peraturan menteri LHK tentang perhutanan sosial perlu didukung dan disempurnakan kedalam peraturan yang lebih implementatif, termasuk merevisi aturan yang berlaku sebelumnya. Di sisi lain, dibutuhkan upaya yang cukup signifikan dalam meningkatkan kesejahteraan. “Bila tidak, kemungkinan angka tadi akan terus bertambah,” tandasnya.

Direktur Pundi Sumatera, M. Sutono  mengatakan, CBFE merupakan upaya perkuatan bisnis pengelolaan hutan oleh masyarakat.  Secara empirik, Pundi Sumatera telah melaksanakan hal ini di setidaknya 7 Provinsi di Sumatera, mulai dari Sumatera Utara hingga Lampung.“Dari pengalaman lapangan, CBFE tidak berkembang disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya rendahnya akses masyarakat ke sumber-sumber pembiayaan, rendahnya pengetahuan tentang pasar, minimnya kapasitas pengolahan produk dan tidak terjadinya konsolidasi produk di level produsen,” papar Sutono.

Guna penyebarluasan pengetahuan empirik ini, Pundi Sumatera menggelar Ekspo Inisiatif Sumatera.  Kegiatan ini digagas dalam format pameran, temu bisnis, temu mitra, lokakarya pembelajaran serta dialog nasional.  Kegiatan dilaksanakan di Jambi, 7 hingga 8 Desember 2016.

Bersama mitra dan masyarakat, Pundi Sumatera melakukan kegiatan penguatan ekonomi masyarakat sekitar hutan dan menumbuh kembangkan kelembagaan bisnis skala kecil.

Berbagai terobosan perlu dilakukan karena dalam kenyataannya ancaman terhadap hutan terus meningkat.  Bila tidak, maka Indonesia akan berada dalam jurang menganga yang mengancam stabilitas nasional berupa kerusakan hutan yang parah, berikut tipisnya peluang masyarakat untuk menjadi sejahtera.

Di lima tahun terakhir, upaya ini didukung oleh Tropical Forest Conservation Action (TFCA) Sumatera, sebuah program pengalihan utang untuk lingkungan (debt-for-nature swap) yang ditujukan untuk melestarikan kawasan hutan tropis di Sumatera yang tingkat deforestasinya sangat tinggi.

Lebih lanjut dijelaskan Direktur Program TFCA Sumatera, Samedi PhD, program ini telah melibatkan 35 mitra dalam melaksanakan berbagai kegiatan yang berkontribusi pada konservasi pada sekitar 13 bentang alam di Sumatera yang mencakup areal seluas 3,7 juta Ha.  Berbagai tipe ekosistem dan status kawasan hutan menjadi tempat beroperasinya TFCA Sumatera, termasuk Taman nasional, Cagar Alam, Suaka Margasatwa, Taman Wisata Alam, Taman Hutan Raya, Taman Buru dan Kawasan Suaka Alam / Kawasan Perlindungan Alam (KSA/KPA).  “Dalam implementasinya, program juga menyasar kawasan penyangga yang merupakan basis aktivitas masyarakat desa sekitar hutan dan merupakan kawasan hutan produksi dan kawasan budidaya pertanian,” papar Samedi. (h/dn/*)


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Sabtu,23 Januari 2016 - 01:50:42 WIB
    Berada di Jantung Kota Padang

    Daima Hotel Tawarkan Akses Cepat ke Berbagai Objek Wisata

    Daima Hotel Tawarkan Akses Cepat ke Berbagai Objek Wisata PERJALANAN wisata tidak akan terlepas dari akomodasi atau penginapan, karena akomodasi bisa membuat perjalanan akan menjadi indah setelah seharian menikmati wisata di Kota Padang..
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: harianhaluan@yahoo.co.id
APP HARIANHALUAN.COM