Meninjau Ulang Maaf untuk Ahok


Minggu,06 November 2016 - 16:06:48 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Meninjau Ulang Maaf untuk Ahok ilustrasi

 

Oleh Holy Adib (Wartawan)

 

Ratusan ribu orang menggelar unjuk rasa di Jakarta dan di sejumlah daerah di Indonesia pada 4 November 2016. Semua orang tahu demo tersebut tentang apa dan menuntut apa, yakni mengenai dugaan penistaan agama dan mendesak proses hukum terhadap Ahok dipercepat, bahkan meminta agar Ahok ditangkap. Dalam artikel ini, saya tidak membahas demo yang pada awalnya berjalan damai, kemudian ricuh setelah senja. Kali ini, saya membahas permintaan maaf Ahok dan maaf untuk Ahok dari sudut pandang bahasa.

 

Pada 10 Oktober, Ahok meminta maaf kepada umat Islam terkait ucapannya di Kepulauan  Seribu yang dinilai oleh sejumlah pihak melecehkan Alquran. Ia meminta maaf sambil mengklarifikasi bahwa ia tidak bermaksud menistakan Islam atau menghina kitab suci. Lalu, pada 11 Oktober, TV One menghadirkan pembahasan bertajuk “Setelah Ahok Minta Maaf” pada acara Indonesia Lawyer Club. Di dalam acara itu, semua pihak setuju memaafkan Ahok, termasuk pihak yang melaporkan Ahok.

 

Anehnya, maaf tersebut tidak dilanjutkan dengan pencabutan laporan di kepolisian, bahkan keesokan harinya Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan pernyataan bahwa Ahok menistakan agama. Benarkah mereka memaafkan Ahok?

 

Arti kata maaf

 

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indones (KBBI), maaf bermakna pembebasan seseorang dari hukuman (tuntutan, denda, dan sebagainya) karena suatu kesalahan. Berdasarkan defenisi tersebut, berarti pihak yang meminta maaf meminta untuk dibebaskan dari hukuman karena sudah melakukan kesalahan, sementara pihak yang memberi maaf berarti membebaskannya dari hukuman tersebut. Bila dikaitkan dengan polemik ujaran Ahok, defenisi itu tidak cocok dengan maaf yang diberikan oleh pihak yang memaafkan Ahok karena mereka juga menuntut Ahok untuk diproses hukum atau ditangkap.

 

Dengan kata lain, maaf yang mereka berikan hanya sampai di bibir alias tidak memafkan dalam arti yang sebenarnya. Apakah mereka tidak memahami arti kata maaf? Atau, apakah mereka punya referensi lain tentang arti kata maaf? Yang jelas, maaf yang mereka ucapkan itu tidak benar menurut KBBI.

 

Pengertian kata maaf di dalam KBBI tersebut cocok dengan maaf yang diberikan Allah, Tuhan yang disembah muslim, kepada orang yang berdosa. Jika Allah memaafkan seseorang, Allah tidak akan menghukumnya apabila ia bertobat sepenuh hati. Saya bukan orang yang mengerti agama. Namun, setidaknya demikian janji Allah yang saya dengar dan baca dari berbagai sumber. Tolong koreksi jika saya salah.

 

Berdasarkan penjelasan di atas, orang-orang yang sebenarnya tidak memaafkan Ahok tidak perlu mengatakan bahwa mereka memaafkan Ahok. Mereka berhak tidak memaafkan Ahok. Mereka juga berhak melakukan demonstrasi untuk menuntut agar Ahok dihukum atau ditangkap karena demonstrasi dibolehkan oleh undang-undang.

 

Namun, mereka keliru jika mengucapkan maaf, tetapi tidak melepaskan tuntutan terhadap Ahok, sehingga membuat mereka menjadi orang yang tidak jujur. Dengan demikian, mereka bisa disebut sebagai orang bermuka dua: bilang maaf, tetapi tidak memaafkan. Hal itu berarti bahwa di satu sisi mereka ingin dianggap sebagai umat yang pemaaf, tetapi di sisi lain perbuatan mereka membuktikan bahwa mereka sama sekali tidak memberi maaf.

 

Saya juga setuju Ahok didemonstrasi, tetapi bukan atas tuduhan penistaan agama karena substansi ujaran Ahok di Kepulauan Seribu itu bukan soal penistaan Surat Almaidah, Alquran, atau Islam, melainkan karena Ahok sudah mengatakan orang yang memiliki tafsir yang berbeda (termasuk di dalamnya ulama) terhadap Almaidah ayat 51 sebagai orang yang membohongi dan membodohi orang lain. Ahok tidak berhak masuk ke ranah tafsir orang, sekalipun tafsir tersebut salah menurutnya.

 

Soal tafsir itu, bahwa kata aulia diterjemahkan sebagai pemimpin, digunakan oleh lawan politiknya untuk melakukan kampanye hitam, itu sudah risiko politik yang bertabiat menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan. Yang perlu diingat Ahok adalah bahwa tafsir tersebut bukan hanya milik orang politik, melainkan juga milik banyak orang. Soal arti kata aulia pada Almaidah ayat 51 yang berarti pemimpin, teman setia, atau yang lain, itu persoalan yang harus dipisahkan oleh Ahok dan konco-konconya dengan masalah ujarannya di Kepulauan Seribu. Inti persoalannya, Ahok tidak berhak masuk ke ranah tafsir orang, apalagi mengatakan orang yang punya tafsir itu sebagai orang yang membohongi atau membodohi objek tertentu.    

 

Perihal demonstrasi terhadap Ahok, saya setuju Ahok didemonstrasi karena ia sering menghancurkan perkampungan masyarakat miskin, seperti penggusuran perkampungan di Bukit Duri (yang sudah dihuni selama tiga generasi), Kalijodo, dan Kampung Aquarium Luar Batang. Ahok layak didemonstrasi karena ia menentang Hak Azazi Manusia sebab ia siap untuk membunuh 2.000 orang di depan publik untuk melindungi 10 juta orang (relokasi Kampung Pulo). Ahok patut didemonstrasi karena ia melawan undang-undang dalam kasus reklamasi Pulau G karena, padahal ia kalah di PTUN Jakarta, tetapi tetap ingin melanjutkan reklamasi tersebut. Namun, Ahok tidak layak didemonstrasi dengan alasan bahwa ia tidak layak menjadi pemimpin karena beragama Kristen dan keturunan Tionghoa karena banyak kristiani dan Tionghoa yang baik.   

 

Kesimpulan saya terhadap polemik ujaran Ahok dan maaf untuknya adalah bahwa kasus ini merupakan kesempatan bagi umat Islam Indonesia untuk menunjukkan bahwa mereka ialah umat yang pemaaf dan tidak gampang naik darah. Jika Allah saja, sang pencipta, memberi maaf, lalu mengapa kita, manusia yang cuma makhluk ciptaan, tidak mau memaafkan sesama manusia.

 

Seandainya benar Ahok menistakan Islam dalam ujarannya, beri dia kesempatan untuk berubah dan tidak mengulangi perbuatannya, karena ia juga manusia yang lidahnya bisa saja tergelincir. Kemudian, bila Ahok mengulangi kesalahan yang sama, berarti memang ia tidak layak menjadi pemimpin, bahkan tidak layak tinggal di Indonesia yang mayoritas penduduknya menganut Islam.

 

Melalui polemik ini pula, Ahok dan teman-temannya juga harus belajar bahwa masalah agama adalah sesuatu yang sensitif bagi bangsa ini. Ahok dan konco-konconya mesti belajar menghargai kaum mayoritas karena bukan cuma Ahok yang kena dampak buruknya apabila mayoritas terluka, melainkan juga kaum minoritas lain yang tidak ikut-ikut soal politik. 

 


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM