BAGIAN DUA: Rajo Lelo, Pewaris Terakhir Tuah Penakluk Harimau


Selasa,18 Oktober 2016 - 06:35:47 WIB
Reporter : Tim Redaksi
BAGIAN DUA: Rajo Lelo, Pewaris Terakhir Tuah Penakluk Harimau Rajo Lelo

Jiko tuan ka rimbo gadang, tak usah sesakali mambaok pariuak karaia, pun baitu mangapiang puntuang, karaia tagak jo mangalatiakan aia cucian. Indak usah pulo manggadangan badan. Kok lupo jo nan dijanjian, sudahlah badan ka sangsaro

 

SUATU waktu di awal tahun 1990, warga di kaki Karang Putiah, Indaruang, buncah. Auman harimau hampir setiap malam menggelegar. Masyarakat bergidik. Harimau turun bukit. Tak seekor, tapi tiga. Sang raja melabrak kandang, menyeret ternak dan meninggalkan bangkai di tengah pemukiman, lalu pergi untuk kembali lagi esok hari.

 

Tidak ada nan tahu, kenapa raja hutan mengamuk. Satu hal yang dipikirkan warga: Memanggil Rajo Lelo! Ya, pada lelaki tua itulah warga berharap, gangguan raja hutan tidak kian menjadi. “Kami ketakutan saat itu. Harimau mengusik. Satu-satunya cara, ya memanggil Rajo Lelo,” tutur Atin (71), yang datang untuk sekadar bercerita dengan Rajo Lelo.

 

Setelah dipanggil warga, Rajo Lelo datang dengan segala kecakapan yang dimilikinya. Dia menyuruh warga kampung menyiapkan kambing dan kayu Maransih, untuk dibuatkan jadi pinjaro. Setelah diruwat, umpan berupa kambing dimasukkan ke dalam pinjaro. Rajo Lelo lantas mengitari lokasi kandang dengan memercikkan air. “Saya menunggu sembari merapalkan doa. Pertama, banyak nyamuk yang datang ke lokasi. Setelah itu, barulah dia datang. Harimau. Besar, dengan mata yang sudah sayu, masuk kandang. Terkulai. Dua depa lebih panjang badannya," kata kakek 26 cucu tersebut.

 

Di depan Rajo Lelo, keduanya tidur-tiduran. Sorot mata mereka tak lagi buas. Sekalipun Rajo Lelo tidak melukai, dia memanggil dengan untaian doa. Memaparkan perjanjian antara manusia dan inyiak. Dia tenang-tenang saja. Mendekati pinjaro dan seperti bicara dengan harimau. Sesekali menggeleng dan menggerakkan tangan, seolah isyarat. Tapi, bagi warga, melihat harimau, sebuah ketakutan bukan kepalang. Bayangkan saja, harimau sebesar dua depa berjalan.

 

Lain lagi cerita Kamaruddin, warga Taruko, Kecamatan Pauh. Dia nyaris tak


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Rabu,25 Januari 2017 - 10:08:00 WIB
    Oleh: Rakhmatul Akbar

    Semen Padang tak Perlu Ikut Piala Presiden 2017 (Bagian 1 dari 2 tulisan)

    Semen Padang tak Perlu Ikut Piala Presiden 2017 (Bagian 1 dari 2 tulisan) Kick Off Indonesian Super League (ISL) tahun edar 2017 dijadwalkan akan dimulai 26 Maret mendatang. Kompetisi yang sempat terhenti selama dua tahun itu akan diikuti 18 tim, sesuai dengan keputusan kongres tahunan PSSI di Jaka.
  • Senin,24 Oktober 2016 - 18:32:08 WIB
    Rajo Lelo, Pewaris Terakhir Tuah Penakluk Harimau

    BAGIAN 3: Pensiunnya Penakluk Inyiak Balang

    BAGIAN 3: Pensiunnya Penakluk Inyiak Balang Satu nan dirisaukan Rajo Lelo. Selepas dia pensiun, tak ada lagi yang mau belajar ilmu penakluk harimau. Dia membayangkan, jika nanti tiada, sementara harimau mengamuk, siapa yang akan membantu warga. .
  • Sabtu,15 Oktober 2016 - 23:06:17 WIB

    BAGIAN SATU: Rajo Lelo, Pewaris Terakhir Tuah Penakluk Harimau

    BAGIAN SATU: Rajo Lelo, Pewaris Terakhir Tuah Penakluk Harimau “Kok tidak landang jo landi, dimano kiambang diam. Kok indak utang dibayia, dimano dagang ka tajua” .
  • Kamis,21 Januari 2016 - 03:15:30 WIB

    Wisata Bahari Pessel Menuju Destinasi Wisata Halal (Bagian 2)

    Wisata Bahari Pessel Menuju Destinasi Wisata Halal (Bagian 2) Untuk mem­promosikan Mandeh ke dunia internasional, pihaknya menggelar iven tahunan. Pertama, Mandeh Joy Sailing. Mandeh Joy Sailing yang kali pertama digelar pada Oktober 2014 ini adalah melayari Kawasan Mandeh dari Pelabuh.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: harianhaluan@yahoo.co.id
APP HARIANHALUAN.COM