PENGIBAR MERAH PUTIH PERTAMA DI SUMBAR

Rahmah El Yunusiyah Layak Jadi Pahlawan Nasional


Sabtu,13 Agustus 2016 - 02:41:46 WIB
Rahmah El Yunusiyah Layak Jadi Pahlawan Nasional RAHMAH El Yunusiyah merupakan salah seorang pelopor berdirinya Tentara Keamanan Rakyat (TKR) untuk Padang Panjang dan sekitarnya pada 12 Oktober 1945.

17 Agustus 1945, merupakan hari bersejarah bagi bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah Belanda. Darah bertumpahan, bahkan nyawa melayang, harta benda dikorbankan demi kemerdekaan. Maka tak heran, setiap tanggal 17 Agustus, selalu diperingati dan dirayakan sebagai momentum untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dan kebangsaan.

Bila kita merunut ke belakang dan mencermati berbagai literatur, hampir seluruh daerah di Indonesia turut berjuang. Kota Padang Panjang misalnya, ikut mem­berikan andil dalam perjuangan bangsa yang kini telah dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia.

Adalah Rahmah El Yu­nusiyah, salah satu bukti nyata kaum hawa yang se­sung­guhnya layak untuk di­catat dalam sejarah sebagai Pahlawan Nasional, seperti hal­nya yang diberikan ke­pada Raden Ajeng Kartini. Namun pemerintah sangat sulit menoreh pena di atas selembar kertas sebagai seka­dar pengakuan bahwa Putri Minang itu adalah seorang pejuang.

Lantas, bagaimana peran “Sri Kandi Minang” itu dalam perjuangan ke­mer­dekaan RI? Rahmah El Yu­nu­siyah adalah wanita per­tama pengibar sang saka di Ranah Minang, persis k­e­tika Indonesia mem­pro­kla­ma­sikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.

Setelah mendapatkan be­rita tentang proklamasi ke­merdekaan langsung dari Ketua Cuo Sangi In Mu­ham­mad Sjafei, Rahmah El Yu­nusiyah segera meng­gerek bendera Merah Putih di ha­la­man perguruan Di­niyah Pu­tri.

Berita bahwa bendera Merah Putih berkibar di sekolahnya menjalar ke se­luruh pelosok kota dan da­­e­rah Batipuh. Ketika Komite Na­sional Indonesia ter­ben­tuk sebagai hasil sidang Pa­nitia Persiapan Kemer­de­kaan Indonesia (PPKI) pada 22 Agustus 1945, Soekarno yang melihat kiprah Rahmah mengangkatnya sebagai sa­lah seorang anggota.

Namun, ketika KNPI me­nga­dakan sidang di Malang, Rahmah tidak hadir karena tak bisa meninggalkan ibu­nya yang sedang sakit di Padangpanjang.

Pada 5 Oktober 1945, Soekarno mengeluarkan de­krit pembentukan Tentara Keamanan Rakyat. Pada 12 Ok­tober 1945, Rahmah me­melopori berdirinya Tentara Keamanan Rakyat (TKR) untuk Padangpanjang dan sekitarnya. Ia memanggil dan mengumpulkan bekas anggota Giyugun, me­ngu­sahakan logistik dan pe­m­belian beberapa ke­butuhan alat senjata dari harta yang dimilikinya.

Bersama dengan bekas anggota Hahanokai, Rah­mah mengatur dapur umum di kompleks perguran Dini­yah Putri untuk kebutuhan TKR. Anggota-anggota TKR ini menjadi tentara inti dari Batalyon Merapi yang diben­tuk di Padangpanjang.

Ketika Belanda me­lan­carkan Agresi Militer Be­landa kedua, Belanda me­nang­kap sejumlah pe­mim­pin-pemimpin In­donesia di Padangpanjang. Rahmah me­ninggalkan kota dan ber­sembunyi di lereng Gunung Singgalang. Namun, ia ber­hasil ditangkap Belanda pada 7 Januari 1949, mem­bua­tnya mendekam di ta­hanan wanita di Padang Pan­jang. Setelah tujuh hari, ia dibawa ke Padang dan di­tahan di sebuah rumah pe­gawai kepolisian Belanda berkebangsaan Indonesia. Ia melewatkan tiga bulan di Padang sebagai tahanan rumah (huis arrest), sebelum diringankan sebagai tahanan kota (stad arrest) selama lima bulan berikutnya.

Pada Oktober 1949, Rah­mah meninggalkan Kota Padang untuk menghadiri un­dangan Kongres Pen­di­dikan Indonesia di Yog­ya­karta. Ia baru kembali ke Pa­dangpanjang setelah me­ngikuti Kongres Muslimin Indonesia di Yogyakarta pada akhir 1949. Rahmah bergabung dengan partai Islam Masyumi. Dalam pe­milu 1955, ia terpilih sebagai anggota Konstituante me­wakili Sumatera Tengah.

Melalui Konstituante, ia membawa aspirasinya ten­tang pendidikan dan pe­lajaran Islam. Pada 1956, Imam Besar Al-Azhar Abdur­rahman Taj berkunjung ke Indonesia dan atas ajakan Muhammad Nat­sir, melihat keberadaan Diniyah Putri. Imam me­ngung­kapkan keka­gumannya pada Diniyah Putri, sementara Al-Azhar sendiri saat itu be­lum me­mi­liki bagian khusus perem­puan.

Gelar Kehormatan “Syaikhah”

Pada Juni 1957, Rahmah be­rangkat ke Timur Tengah. Usai menunaikan ibadah haji, ia mengunjungi Mesir memenuhi undangan Imam Besar Al-Azhar. Dalam satu Sidang Senat Luar Biasa, Rahmah mendapat gelar kehormatan Syaikhah dari Universitas Al-Azhar; kali pertama Al-Azhar mem­beri­kan gelar kehormatan itu pada perempuan.

Hamka mencatat, Di­ni­yah Putri memengaruhi pim­pinan Al-Azhar untuk mem­buka Sekolah Qismul Ba­naat, bagian khusus pe­rempuan di Universitas Al-Azhar. Sebelum ke­pu­la­ngan­nya ke Indonesia, Rahmah sempat mengunjungi Syria, Lebanon, Yordania, dan Irak.

Kiprah Rahmah di jalur pendidikan membuatnya men­dapatkan perhatian luas. Ia duduk dalam kepe­ngu­rusan Serikat Kaum Ibu Su­matera (SKIS). Pada 1935, ia di­undang mengikuti Kon­g­res Perempuan Indonesia di Ba­tavia sebagai utusan SKIS. Dalam kongres, ia mem­per­juangkan penggunaan ciri khas budaya Islam ke dalam kebudayaan Indonesia seperti penggunaan keru­dung dalam busana perem­puan.

Pada 1938, ia hadir da­lam rapat umum di Bu­kit­tinggi untuk menentang Ordonansi Kawin Bercatat. Pada April 1940, Rahmah meng­hadiri undangan Kong­res Persatuan Ulama Seluruh Aceh di Kotaraja, Aceh. Ia dipandang oleh ulama-ula­ma Aceh sebagai ulama pe­rem­puan terkemuka di Su­matera.

Pendudukan Jepang

Kedatangan tentara Je­pang di Minangkabau pada Maret 1942 membawa ber­bagai perubahan dalam pe­me­rintahan dan me­ngurangi kualitas hidup penduduk non-Jepang. Selama pen­dudukan Jepang, Rahmah ikut dalam berbagai kegiatan Anggota Daerah Ibu (ADI) yang bergerak di bidang sosial.

Dalam situasi perang, Rahmah bersama para ang­gota Anggota Daerah Ibu mengumpulkan bantuan makanan dan pakaian bagi penduduk yang kekurangan. Ia memotivasi penduduk yang masih bisa makan un­tuk menyisakan beras gen­g­gam setiap kali memasak un­tuk dibagikan bagi pen­duduk yang kekurangan makanan.

Kepada murid-mu­rid­nya, ia menginstruksikan bahwa seluruh taplak meja dan kain pintu yang ada pada Diniyah Putri dijadikan pakaian untuk penduduk. Selain itu, Rahmah bersama para anggota ADI men­en­tang pengerahan perempuan Indonesia sebagai wanita penghibur untuk tentara Jepang. Tuntutan ini di­penuhi oleh pemerintah Jepang dan tempat prostitusi di kota-kota Sumatera Barat berhasil ditutup.

Dalam politik, Rahmah bergabung dengan Majelis Islam Tinggi Minangkabau yang berkedudukan di Bu­kittinggi. Ia menjadi Ketua Ha­ha­nokai di Pa­dangpan­jang untuk membantu per­juangan perwira yang ter­himpun dalam Giyugun. Se­iring memuncaknya kete­ga­ngan di Padangpanjang, Rahmah membawa sekitar 100 orang muridnya me­ngung­si untuk me­nye­la­mat­kan mereka dari serbuan tentara Jepang.

Selama pengungsian, ia menaggung sendiri semua keperluan murid-muridnya. Ketika terjadi kecelakaan kereta api pada 23 Desember 1944 dan 11 Maret 1945 di Padangpanjang, Rahmah menjadikan bangunan se­kolah Diniyyah Putri sebagai tempat perawatan korban kecelakaan. Hal ini membuat Diniyah Putri mendapatkan piagam penghargaan dari pemerintah Jepang. Menj­e­lang berakhirnya pen­du­dukan, Jepang membentuk Cuo Sangi In yang diketuai oleh Muhammad Sjafei dan Rahmah duduk sebagai ang­gota peninjau. (*/dbs)

 

Catatan: IWAN DN


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com
TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Kamis,01 Januari 2015 - 21:01:12 WIB

    Pemkab Pasaman Serahkan Bonus Atlet

    PORPROV SUMBAR XIII USAI

    PASAMAN, HALUAN — Pemerintah Kabupaten Pasaman menyerahkan bonus atlet peraih medali dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumatera Barat XIII yang dig.

  • Kamis,01 Januari 2015 - 21:01:55 WIB

    Cuaca Ekstrem, BPBD Siagakan Satgas TRC

    SOLOK, HALUAN — Sebanyak 69 anggota Satgas Tim Reaksi Cepat (TRC) gabungan Pasukan relawan Damkar, anggota Damkar Pemerintah Kota Solok, disiagakan untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi, saat cuaca ekstrem.

  • Kamis,01 Januari 2015 - 21:03:27 WIB

    Kecamatan Kapur IX Bersiap Keluar dari Ketertinggalan

    LIMAPULUH KOTA, HALUAN — Kecamatan Kapur IX bersiap keluar dari daerah terisolasi usai rampungnya proyek pengerjaan peningkatan struktur jalan strategis nasional Pangkalan-Galugua akhir tahun lalu.

    .
  • Kamis,01 Januari 2015 - 21:03:47 WIB

    Pelaku Penjarahan Dihakimi Massa

    TANAH DATAR, HALUAN — Aksi penjarahan di rumah terkangkap basah warga. Pela­ku tertangkap tangan sedang mengobrak abrik barang di rumah milik Bustami, di Jo­rong Jati, Nagari Baringin, Kecamatan Lima .

  • Kamis,01 Januari 2015 - 21:04:11 WIB

    Hari Pertama, Sigulambai Lalap Satu Unit Rumah

    AGAM, HALUAN — Diduga akibat hubungan harus pendek, satu unit rumah di Kampuang Tanjuang, Nagari Garagahan, Kecamatan Lubuk­ba­sung, ha­ngus dilalap sigulambai pada hari pertama di tahun 2015, Kamis (1/1) p.

  • Kamis,01 Januari 2015 - 21:04:38 WIB

    Di Pasaman, Potensi Peredaran Narkoba Masih Tinggi

    PASAMAN, HALUAN— Selama tahun 2014, Polres Pasaman ber­hasil menga­mankan barang bukti 47,787 kilogram ganja kering dan 24,28 gram sabu-sabu dengan total transaksi diperkirakan Rp200 juta.

    Kapo.

BERITA TERKINI Index »

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: harianhaluan@yahoo.co.id
APP HARIANHALUAN.COM