Suatu Hari di Kampung Mandeh


Sabtu,13 Agustus 2016 - 02:34:35 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Suatu Hari di Kampung Mandeh Ilustrasi.

Mandeh tiba-tiba menggenang dalam pikiran Ben, jauh hari sebelum ia memutuskan untuk berkunjung ke kampung yang dikelilingi biru laut dan hijau per­bukitan itu. Ben tahu betul, bahwa telah lama sudah ia meninggalkan kampung halaman untuk berkuliah dan bekerja di Jakarta. Dan Ben tahu betul, bahwa  hidup begitu cepat bergegas me­nyeret segala kenyataan.

Rumah-rumah pen­du­duk yang tak terbendung bersolek di cermin zaman, alangkah terbilang agak rumit ia bayangkan. Se­buah jalan yang telah beraspal dari hulu hingga mudik, segala macam roda melintas, segala macam ke­si­bukan saling  ber­silang dan tumpang tindih. Bagai sebuah stasiun, begitu sesak, kereta yang meluncur menuju stasiun-stasiun lain dalam kisah-kisah perjalanan.

Dan begitulah Ben terus mem­bayangkan segala yang berubah  setelah menghubungi sang ibu via telepon. “Pulanglah ke Padang, nenek telah rindu denganmu di Tarusan, Ben.” Pinta sang ibu dengan nada memelas.  Ben pun bagai terkesiap di sela ke­si­bu­kan­nya bekerja di sebuah percetakan. Pikirnya, pulang ke kam­pung halaman adalah k­eniscayaan yang mes­ti ia tunaikan di tahun ke­limanya hidup di Jakarta.  Ter­lebih, cuti kerja telah ia kantongi dan segumpal kerin­duan yang bersemayam di dadanya, sungguh akan menjadi sebuah kepulangan yang penuh makna bagi perantau seperti dirinya.

 “Ya, ini sudah tahun kelima, Bu. Aku akan pulang lebaran nanti.” Tegas Ben meyakinkan sang ibu yang menyebut Kam­pung Mandeh di sela pembicaraan itu. “Kampung Mandeh semakin maju, Ben. Jalan menuju ke sana pun telah semakin mudah dan lancar.” Seloroh sang ibu saat men­ceritakan segala lekuk ke­majuan zaman yang berlari bagai kereta tiada henti.

Sebetulnya, Mandeh ha­nya­lah tempat tujuan rekreasi yang direncanakan oleh Ben. Tak ada kerabat, tak ada keluarganya yang bermukim di sana. Hanya seorang teman yang ia kenal saat masa kuliah dulu yang bermukim di kampung yang pernah ia sam­bangi saat berumur delapan tahun itu. Betapa, jiwa petualangan Ben begitu membara sejak masa kecil dulu. Ben sering keluar masuk hutan dan ladang, mendaki bukit tempat orang-orang kampung berladang gambir, dan tentu, tentu beragam binatang buas pernah dilihat langsung di alam liar oleh Ben. 

Seperti saat ikut berjualan es pada hari berburu babi, Ben bisa melihat langsung seekor babi besar berusaha melarikan diri dari cengkeraman puluhan anjing peburu. Malah suatu ketika, ia nyaris diseruduk babi yang berlari ke arahnya bersama puluhan anjing yang mengejar babi itu. Beruntung saat itu, ia cepat memanjat sebatang pohon untuk menghindari amukan babi. Atau ketika ia mendaki ladang gambir dan singgah di sebuah pondok. Ben melihat seekor harimau te­ngah melintas di sebuah lembah tempat ia biasanya mengambil air untuk dimasak.

Begitulah segelintir petua­langan Ben semasa kecil itu. Kebiasaan yang tentu di­lanjutkan Ben saat kuliah. Pada semester-semester awal, Ben sering men­daki gunung-gunung tinggi di Pulau Jawa bersama rekan-rekan pencinta alam di kampusnya. Dan, begitulah sisi positifnya seorang Ben. Mes­kipun sering keluar kota dan sibuk dengan seabrek kegiatan organisasi, Ben tak serta merta membiarkan ku­liahnya ter­bengkalai hingga akhir­nya bisa lulus dengan nilai memuaskan.

“Kita boleh sibuk dengan segala kegiatan di luar. Tapi sesekali jangan sampai per­ku­liahan dan ibadahmu ter­beng­kalai, Bung.” Seloroh Ben suatu ketika kepada seorang rekan aktivis di kampus.

***

Sungguh kabar tak me­nge­nakkan yang diterima oleh Ben menjelang kepulangannya ke Padang. Ben harus menerima kenyataan, bahwa Fitri, gadis Sunda yang telah setahun di­kenalnya itu, harus pergi untuk selama-lamanya. Fitri me­ngem­buskan napas terakhir di rumah sakit setelah dirawat tiga hari dengan masalah di jantung. Tak pelak, Ben sangat terpukul dengan kepergian perempuan yang sangat di­sayanginya itu. Padahal, Ben telah berencana untuk melamar Fitri ke rumah orangtuanya di Bandung.

Begitu sang ibu mendengar kepergian Fitri, Ben mendengar ada nada kesedihan dari mulut perempuan yang telah ditinggal mati ayahnya lima tahun yang lalu itu. “Sabar ya, Ben. Kehi­langan adalah bagian dari rel kehidupan ini. Itu berarti, Fitri memang bukan jodohmu. Ibu yakin, ia perempuan yang baik. Pilihanmu, Ben. Tapi Tuhan berkehendak lain. Pulanglah, agar kita bisa berkumpul bersama meski ayah tak ada lagi.”

***

Ben menggenggam erat se­buah cincin yang baru saja di­belinya. Cincin itu, sudah barang tentu untuk sang ibu yang me­rindukan kepu­langan­nya. Ben hampir saja lupa dengan buah tangan yang jauh-jauh hari ia rencanakan itu.  Begitu seluruh perlengkapan disiapkan. Begitu hujan telah mereda di langit Jakarta, Ben pun mengawali per­jalanan dengan membawa segala gurat hidup yang menjalari se­kujur usia.

Satu hal yang paling membuat Ben berurai air mata di dalam pesawat yang di­tum­panginya, tentu rasa kehilangan yang me­ndalam atas kepergian Fitri. Ben ­begitu larut dengan air mata di sisi jendela yang menyajikan pe­mandangan Jakarta yang sum­pek dan dipenuhi hutan-hutan beton. Ben tak sadar bahwa di sam­pingnya, seorang gadis s­e­bayanya tengah memperhatikan dirinya yang tengah larut dalam ke­se­dihan. Adalah Dina, teman Ben semasa kuliah dulu, yang juga mudik ke kampung halaman. Ben betul-betul tak menyadari ke­hadiran Dina di kursi bagian jendela ujung. Dan Dina pun tak mengetahui, mengapa Ben tam­pak begitu sedih dan terpukul.

Dan tanpa terasa, Ben sampai di Padang. Ia memang sempat berbicara dengan Dina untuk beberapa saat. Perempuan ber­kulit sawo matang itu juga sempat menanyakan tentang dirinya yang terlihat begitu sedih. Tapi Ben serta merta bisa menutupi ke­sedihannya. “Tak apa. Aku hanya rindu dengan ibu. Terlebih, saat lebaran nanti tak ada ayah di sisi kami.”

***

Ben begitu menikmati lebaran pertama setelah lima tahun hidup di perantauan. Pada malam hari kepulangannya itu, Ben men­ceritakan panjang lebar gurat hidup yang dilalui di tanah rantauan. Dan kembali, air mata itu, air mata itu berurai dan membasahi pipi Ben saat men­ceritakan tentang Fitri.

Tapi Ben mencoba bangkit dan tidak berlarut-larut dalam kesedihannya itu. Di hari kedua lebaran, seperti tahun-tahun se­belumnya, Ben selalu me­nyem­patkan berlebaran di kampung sang ayah di Sungai Tawar, Ta­rusan, Pesisir Selatan. Setelah menempuh perjalanan lebih ku­rang satu setengah jam dari Padang, Ben dan ke­luarganya sampai di kampung yang tak jauh jaraknya dari Kampung Mandeh itu. Kam­pung yang sempat di­bin­cang­kan di tengah perjalanan menuju Tarusan.

“Sekarang jalan ke sana su­dah lancar, Ben. Mandeh telah ter­kenal di mana-mana.” kata Medi, saudara Ben yang paling tua.

Mendengar Mandeh, Ben tiba-tiba teringat masa kecil saat berkunjung ke sana, dan seorang teman kuliahnya bernama Najwa. Ben tahu betul. Setelah ia men­cari informasi di dunia maya, objek wisata kawasan Mandeh ternyata sudah dikenal baik di tingkat nasional maupun in­ter­nasional. Kam­pung Mandeh ter­letak di bagian tengah Teluk Carocok Tarusan. Teluk Carocok Tarusan cukup landai dan tidak berombak karena di sekitarnya terdapat beberapa pulau kecil, di antaranya Pulau Traju, Pulau Setan Kecil, Pulau Sironjong Kecil dan Besar, selain tentunya Pulau Cubadak.

Gerbang masuk kawasan Man­deh dapat dicapai melalui laut dan jalan darat. Bila naik kapal bisa dari pelabuhan Bungus, Gaung, Teluk Bayur atau dari pelabuhan Muara Padang serta dari Teluk Tarusan. Sedangkan melalui jalan darat bisa melalui Carocok Tarusan dan  Sungai Pisang Padang.

Dan benar, Ben tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan yang telah dibawanya dari ko­long langit Jakarta. Meskipun begitu, Ben tetap saja terlihat kaku dan sering bermenung sendirian. Kepada orang-orang sekitar, Ben hanya bicara se­adanya dengan wajah yang tam­pak murung. Dan di malam se­belum keberangkatan ke Man­deh, Ben masih sempat me­nyaksikan orang kampung menangkap ruak-ruak ayam.

Di malam yang begitu sepi dengan rumah yang jaraknya agak berjauhan, serta hanya sawah hijau kelam dan deret bukit yang memenuhi segala arah, Ben me­rasa sedikit terhibur dengan bunyi seruling khusus pemanggil bu­rung yang warna bulunya hitam putih itu. Begitu seruling di­bu­nyikan, maka satu per satu ruak-ruak ayam berdatangan dari sela semak persawahan. Begitu mudah ditangkap. Begitu mudah orang-orang menjaring burung-burung itu, pikir Ben.

Dan malam itu. Malam itu pun serta merta membawa Ben ke perjalanan yang membuat luka hatinya terobati.

Pada pagi harinya, Ben beserta keluarga benar-benar berangkat menuju Mandeh. Ben merasakan sesuatu yang terasa aneh dalam dirinya. Apakah lantaran pada malamnya ia bermimpi sedang menangkap puluhan burung ma­lam di sebuah lembah yang pa­ling sunyi? Atau apakah lantaran ia memilih untuk bangun dan sembahyang tahajud, serta keluar rumah menikmati bin­tang-bin­tang di kegelapan malam?

Begitu sampai di kam­pung dengan penduduk yang ramah-ramah itu, Ben pun menikmati segala keindahan alam seba­gai­mana lazimnya para p­e­ngun­jung yang lain. Dan entah angin apa yang merasuk ke dalam jiwanya. Setelah makan siang, Ben memilih memisahkan diri untuk menyusuri lekuk kampung. Seperti kebisaannya, Ben memilih duduk di sebuah warung mi­numan setelah letih berjalan sendirian.

Mulanya, yang keluar dari pintu rumah itu adalah seorang lelaki yang berusia sekitar 20 tahunan. Ben serta merta me­nanyakan harga minuman dan memberikan uang kepada lelaki berpeci putih itu. Tapi siapa menyangka, pada akhirnya Ben berjumpa dengan seorang pe­rempuan yang pernah ia kenal baik. Najwa, dengan balutan jilbab anggun berwarna hijau muda, tiba-tiba keluar dari rumah dan membuat Ben sejenak ter­paku.

“Najwa,” sapa Ben me­m­be­ranikan diri begitu yakin kalau perempuan itu adalah teman lamanya itu.

Najwa pun menoleh ke arah Ben. Perasaan aneh pun tiba-tiba menyergap dada Ben dengan degup jantung yang berdetak kencang. Ben tak menyangka akan bertemu dengan p­e­rem­puan anggun itu setelah lama tak bertemu. Di depannya kini, Ben benar-benar me­rasakan per­jum­paan yang penuh makna. Najwa menerima kedatangannya dengan senyuman yang tetap seindah dulu. ***

 

Cerpen Oleh : BUDI SAPUTRA  


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERKINI Index »

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM