Agus Rino Sumbang Pikiran untuk Majukan Pendidikan


Sabtu,06 Agustus 2016 - 01:27:52 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Agus Rino Sumbang Pikiran untuk Majukan Pendidikan Agus Rino.

Agus Rino sudah melanglang buana ke berbagai penjuru di Negara Kepulauan Indonesia dan negara tetangga yang masih serumpun.

Namun, rindu pada sang buah hati Fadiya Afif Arino mengantarnya pulang ke Pa­dang. Tak hanya itu, rindu pada Fadiya, juga meng­an­tarkan Agus Rino menjadi seorang dosen Fisika di STKIP PGRI Sumbar.

Menjadi dosen, barangkali belum ada dalam angan-angan Agus ketika akan memasuki perguruan tinggi. Ia me­rupa­kan tamatan Teknik Fisika ITS Surabaya. Usai kuliah ia me­milih bekerja di berbagai peru­sahaan. Perusahaan asing se­perti Royce Taiwan Company, Acropolis Singapore Com­pany, Flextronics Tehcnology USA Company, Motorola Pro­ject, Sony Ericson Project dan Proxim Project, pernah dico­banya.

Pria asal Medan ini pun selalu berpindah-pindah dari Malaysia hingga ke Batam. Sewaktu bekerja ini pun ia bertemu sang pujaan hati Rah­mi Surya Dewi yang saat itu sedang menyelesaikan pen­didikan di Bandung. Usai pertemuan singkat di bandara, sedikit berbekal pengetahuan tentang Minangkabau, Agus memberanikan bertemu orang tua Rahmi di Batusangkar, yang saat itu sudah menjadi dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Andalas. Agus hanya mengenal Sumbar se­dikit, karena ia dibesarkan di Medan meskipun ibunya ber­asal dari Padang.

Di awal pernikahannya bersama Rahmi Surya Dewi ini, Agus masih tetap bertahan dengan hubungan jarak jauh, hingga putri semata wayang Fadiya lahir. Seiring waktu Fadiya bertambah besar dan mulai sering menelepon sang ayah.

“Setiap subuh, dia selalu menelepon saya. Tak kuat rasa­nya,” terang Agus dengan sendu, ketika mengingat masa-masa sulit itu.

Tak tahan akan rindu, Ok­tober 2014 ia pun memilih hengkang dari Batam. Gaji besar dan tawaran mengajar di Politeknik Negeri Batam pun ditinggalkan.

“Sekarang, di sinilah saya, dosen Fisika di STKIP PGRI Sumbar,” ucapnya.

Setelah bertahun-tahun bekerja di perusahaan dan tiba-tiba menjadi dosen, tentu sejumlah tantangan harus dihadapi. Jika berhadapan dengan mahasiswa tidak ber­masalah, dengan silabus, Agus harus memeras otak. Tak mudah baginya yang belum berpengalaman, sehingga h­arus belajar kepada dosen senior.

Berkat kegigihannya, peng­gemar Barcelona ini dipercaya menjadi bagian dari tim akre­ditasi program studi. Tak hanya itu, tiga bulan usai menjadi dosen di STKIP, ia diberi amanah memegang jaba­tan di institusi PGRI ini, men­jadi Sekretaris Unit Ket­ena­gakerjaan dan Humas STKIP PGRI.

Sekarang, tiga tahun sudah ia mengabdi sebagai dosen tetap di Yayasan STKIP PGRI ini. Bagi Agus, PGRI tak lagi hanya menjadi ladang mencari uang untuk kebutuhan sehari-hari, tapi STKIP PGRI adalah tempat untuk melakukan pe­ngab­dian kepada orang ba­nyak. Ia pun berusaha untuk selalu memikirkan yang ter­baik untuk STKIP PGRI ini.

“Saya pergi pagi dan pu­lang malam, di luar kebiasaan dosen lainnya. Roh PGRI ini sudah saya dapatkan,” terang­nya.

Katanya lagi, menjadi do­sen berarti harus mendidik mahasiswa. Mengabdi kepada PGRI, berarti siap menyum­bangkan pikiran untuk kema­juan pendidikan.

“Selagi saya berbuat untuk kemajuan kampus dan ma­syarakat banyak, istri dan anak tidak pernah masalah. Mereka bisa memahami,” pungkasnya. ***

 

Laporan: RAHMADHANI


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: harianhaluan@yahoo.co.id
APP HARIANHALUAN.COM