Anak Gemuk Belum Tentu Sehat


Sabtu,07 Mei 2016 - 06:24:54 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Anak Gemuk Belum Tentu Sehat

PADANG, HALUAN —  Banyak yang menganggap anak yang bertubuh ge­muk cenderung lebih sehat ketimbang anak dengan bobot yang biasa saja. Padahal anak yang gemuk dan cenderung obesitas menyimpang risiko kese­hatan yang perlu di­per­hatikan.

“Salah persepsi itu. Orang-orang tua kita dulu berpikir bayi yang gendut dan suka makan adalah sehat padahal konteksnya jelas salah,” kata Ir Doddy Izwardy, Direktur Gizi Masyarakat, Ditjen Kese­hatan Masyarakat, Ke­men­kes dalam sosialisasi pedoman gizi seimbang untuk pendidik dan in­stitusi pendidikan di Sahati Hotel, Ragunan, Jakarta, Rabu (4/5/2016).

Apabila dibiarkan, ke­le­bihan berat badan anak yang tidak terkontrol da­pat menyebabkan anak menga­lami obesitas. Nah, saat dewasa hal ini akan me­ning­katkan potensi an­ak me­ngi­dap berbagai penyakit.

“Kita sudah tahu jika gizi seimbang itu 60 persen adalah buah dan sayuran. Anak-anak yang me­nga­lami obesitas itu kurang men­gon­sumsinya sehingga gizi­nya kurang,” lanjut Doddy.

Ahli gizi Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) DR M Djamil Padang, Rifza, S.ST, M. Biomed, RD k­e­pa­da Haluan mengatakan, banyak anak dengan berat badan berlebih ternyata menderita gangguan gizi, dan berasal dari keluarga yang secara ekonomi amat baik. Untuk kasus seperti ini, ia menilai bahwa pen­derita bukan terkena gizi buruk melainkan gizi yang salah.

“Banyak orangtua ya­ng sekedar lepas tang­gung jawab memenuhi asupan makanan bagi anak. Ka­rena ketersediaan uang yang cukup, apapun ma­kanan yang diminta anak akan diberikan, tak peduli apakah makanan itu baik atau tidak bagi per­tum­buhan anaknya. Karena kecenderungan si anak menyukai makanan cepat saji, maka orang­tua deng­an ber­murah hati me­me­nuhi­nya. Yang penting anak ma­kan, bahkan saat anak mereka ke­ge­mukan mereka pun senang,” je­las­­nya, Selasa (5/1).

Belajar dari kasus-ka­sus yang ditemuinya, Rifza merincikan tiga penyebab anak berkecukupan secara ekonomi namun men­de­rita gizi buruk. Pertama, dikarenakan kurangnya pengetahuan ibu tentang makanan seperti apa yang baik untuk dikonsumsi anak. Ia mencontohkan, makanan yang dijual di restoran cepat saji tidak akan memenuhi ke­bu­tu­han gizi anak yang terdiri dari karbohidrat, protein dan zat pengatur.

“Banyak yang belikan makanan cepat saji untuk anaknya, isinya cuma kar­bohidrat dan protein tanpa sayur dan buah. Padahal sayur dan bu­­ah ber­fu­ng­si sebagai pengatur, se­­perti polisi di dalam tu­buh yang be­r­tugas me­ng­a­tur asu­pan gizi agar sampai org­an yang me­m­butuhkan. Maka tidak salah banyak anak yang kegemukan, dan itu dibanggakan oleh orang­tua, padahal anak yang kegemukan ber­po­ten­si menderita berbagai pen­ya­kit seperti jantung dan diabetes,” ucapnya lagi.

Sedangkan penyebab kedua adalah mem­per­ca­ya­kan pengaturan ma­ka­nan kepada pengasuh. Ar­ti­­nya dalam hal ini pola asuh yang salah, karena tidak semua pengasuh me­ma­hami mana makanan yang benar-benar di­butuh­kan untuk perkembangan anak secara fisik, mental dan kecerdasan. Sehingga ia menyarankan agar ora­ng­tua tetap mengontrol asupan makanan pada an­ak, meskipun anak berada dalam pengawasan se­ora­ng pengasuh.

Sedangkan penyebab ketiga yang dinilai sebagai penyebab utama anak ber­ke­­cukupan makanan men­derita gizi buruk adalah ketidakpedulian orangtua atas jenis makanan yang dikonsumsi oleh si anak. Rifza mengatakan, usia tiga tahun ke atas adalah usia emas. Pada usia ini perkembangan otak anak berjalan pesat, namun jika tidak diawasi dari segi asupan makanan, berbagai penyakit berat akan me­ngan­cam si anak.

“Selain itu sering kita temukan orangtua yang bangga pada anaknya yang suka sekali minum susu. Alasannya sebagai pe­ngi­m­bang ketidaksukaan an­ak tersebut pada makanan berprotein tinggi. Padahal nyatanya, jika susu di­kon­sumsi berlebihan akan me­­n­yerang fungsi ginjal. Bahkan, bisa berdampak pula pada ancaman hiper­tensi di usia muda, ob­esitas, jantung dan dia­be­tes,” jelasnya lagi. (h/isq/dtc)


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Sabtu,21 Mei 2016 - 04:03:07 WIB
    Lebih Tiga Jam, Mudah Berperilaku Negatif

    Waspadai Pola Menonton Anak

    Waspadai Pola Menonton Anak JAKARTA, HALUAN — Was­padalah jika Anda sering membiarkan anak menonton televisi (TV) selama lebih dari tiga jam sehari. Anak yang menonton TV lebih dari tiga jam dipercaya lebih berisiko melakukan perbuatan negatif. Mu­l.
  • Sabtu,14 Mei 2016 - 04:39:46 WIB

    Perppu Kejahatan Seksual pada Anak Disambut Baik

    Perppu Kejahatan Seksual pada Anak Disambut Baik PADANG, HALUAN — Langkah pemerintah yang akan segera menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) memperberat hukuman bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak disam­but baik oleh para orangtua dan g.
  • Sabtu,07 Mei 2016 - 06:25:42 WIB
    Orantua Harus Lebih Komunikatif

    Konten Porno Makin Mudah Diakses Anak

    Konten Porno Makin Mudah Diakses Anak PADANG, HALUAN — Di era digital seperti sekarang, teknologi dan informasi makin ber­kembang dan mudah diakses, anak-anak pun bisa dengan mudah terpapar pornografi. Akibat­nya, peluang terjadinya tindak kekerasan sek­sual.
  • Sabtu,23 April 2016 - 03:54:41 WIB
    Nency Eradona

    Penolong Pendidikan Anak Jalanan

    Penolong Pendidikan Anak Jalanan PADANG, HALUAN — Sosok Nency Eradona bagi kalangan anak jalanan di Kota Padang sudah tidak asing lagi. Wanita kelahiran Me­dan, 20 Februari 1967 ini belakangan aktif berke­liaran merangkul para anak-anak putus sekolah di .
  • Kamis,31 Desember 2015 - 02:53:36 WIB

    Cacingan Turunkan Kemampuan Belajar Anak

    Cacingan Turunkan Kemampuan Belajar Anak Di Jakarta, angka pengidap cacingan pada anak-anak masih cukup tinggi. Pada penelitian yang dilakukan Ismid dan kawan-kawan, hampir 60-90% anak sekolah dasar terinfeksi cacing jenis ascaris lumbricoides..
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM