Akibat Kabut Asap Sepanjang 2015

Lima Meninggal, Puluhan Ribu Derita ISPA


Selasa, 05 Januari 2016 - 03:57:01 WIB

Demikian diungkapkan Woro Supartinah selaku Koordinator Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) dalam Catatan Akhir Tahun 2015 Jika­lahari, Senin (4/1).

Dalam rilis yang ber­tajuk Rakyat Riau Terpapar Polusi Kabut Asap, Buruk Rupa Tata Kelola Ling­ku­ngan Hidup dan Kehutanan, yang diterima Haluan Riau, Woro menyebut kalau di tahun 2015 ini, rakyat  Riau telah menghirup polusi ka­but asap. Polusi ini kian pe­kat dan menyelimuti Bumi Lancang Kuning terparah sejak Juni 2015 hingga No­vem­ber  2015. Indeks Stan­dar Pencemar Udara (IS­PU) selalu berada di level “Berbahaya”. Bahkan, mele­bihi ambang batas ISPU.

“Andai  saja, kinerja pemerintah pusat dan da­erah selangkah lebih maju di­banding pembakar hutan dan lahan gambut, rakyat  Riau tidak akan terpapar po­lusi kabut asap dan me­ning­gal dunia,” ungkap Wo­ro.

Rakyat Riau marah be­sar, lantaran Pelaksana Gu­ber­nur Riau baru mene­tapkan status Tanggap Daru­rat pada 14 September 2015. Itupun setelah rakyat Riau mendesak Presiden Joko Widodo dan Menteri Lingkungan Hidup dan Ke­hu­tanan, Siti Nurbaya, me­lalui media sosial.

“Sejak saat itu tujuh pos­ko baru sibuk bekerja, mes­ki dengan pelayanan kurang dan seadanya. Korban asap hanya diberi masker bedah, vitamin, dan hanya tiga titik posko yang menyediakan oxycan dan oksigen por­table,” lanjut Woro.

Di tengah amarah rak­yat, sebut Woro, lima warga Riau meninggal dunia aki­bat meng­hirup polusi kabut asap, tiga anak kecil dan dua orang dewasa. Lebih dari 97.139 warga korban polusi kabut asap, menderita ISPA seba­nyak 81.514 orang, Pneu­monia 1.305 orang, asma 3.744 orang, iritasi mata 4.677 orang, dan iritasi kulit 5.899 orang. “Bandara  tutup  hampir  dua  bu­lan. Sekolah  libur.  Warga  mengungsi,” terangnya.

Lebih lanjut Woro me­nye­but, kalau pemerintah baru massif bekerja, setelah polusi kabut asap pembakar hutan dan lahan gambut menyelimuti Riau. Me­ning­galkan dampak di berbagai aspek kehidupan  hingga korban  jiwa.

Disebutkan Woro, keba­karan lahan dan hutan di Provinsi Riau lantaran Pe­me­rintah Pusat dan Daerah tidak menjalankan Pe­ra­turan Gubernur Nomor 5 Tahun 2015 dan Mou Pre­siden Jokowi-KPK, yakni Gerakan Nasional Penye­la­matan Sumber Daya Alam (GNPSDA). “Akibatnya, sepanjang tahun 2015, defo­restasi dan ISPU,” kata Woro Supartinah.

Degradasi lahan gambut terus terjadi, juga karhutla masih tetap menjadi per­soalan yang belum berhasil dituntaskan. Pantauan  citra satelit Landsat 8, menun­jukkan luas hutan Riau tersisa pada 2015 sekira 1,644,862.00 hektar. Data tutupan hutan Jikalahari tahun 2013, sebut Woro, luasan hutan tersisa sekitar 2,005,512.96 hektar.

“Perkiraan bahwa luas hu­tan yang mengalami defo­res­tasi sepanjang 2013 hing­ga 2015, sekitar 373,373.07 hek­tar. Sekitar 139,552.95 hektar, deforestasi terjadi pada kawasan konsesi Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hu­tan Kayu (IUPHHK). Sisanya, sekitar 233,820.12 hektar berada di kawasan bu­kan IUPHHK,” papar­nya.

Sementara, untuk kor­porasi penyumbang defo­res­tasi terbesar, kata Woro, yakni PT Riau Andalan Pulp & Paper seluas sekitar 29.330,36 hektar, dan PT Sumatera Riang Lestari seluas sekitar 10.958,79 hektar. Kedua grup ini tera­filiasi dengan APRIL (Raja Golden Eagle milik taipan Sukanto Tanoto). (h/dod)


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM