MUI: Jangan Gunakan HAM sebagai Tameng


Jumat,20 November 2015 - 21:17:34 WIB
Reporter : Tim Redaksi

Menanggapi hal tersebut, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Wilayah Sumbar Syamsul Bahri Khatib, mengimbau seluruh lapisan masyarakat agar menyadari status bahaya yang tengah mengancam keberlangsungan hidup di masa depan. Pemerintah pun diminta agar lebih me­mak­simal­kan upaya-upaya penang­gula­ngan sedini mungkin, agar angka penularan tidak terus bertambah dari tahun ke tahun.

“Statusnya sudah bahaya. Bahkan ada penularannya yang lewat hubungan sesama jenis. Jika merunut ke pengajaran agama Islam, tentu saja hubungan seperti ini jelas-jelas sebagai sumber bencana. Tolonglah, jangan menjual hak azazi saat membahas perkara ini,” ha­rapnya, Jumat (20/11).

Dijelaskannya, andai tak ada tindakan tegas bagi pelaku hu­bungan sesama jenis karena alasan Hak Azazi Manusia (HAM), sa­ma saja mem­bentur­kan HAM dengan HAM. Karena akibat pembiaran seperti itu, akan menyebabkan pelaku yang mengidap HIV/AIDS ber­peluang menjaring pelaku seks me­nyim­pang lainnya, dan ber­peluang pula menularkan HIV/AIDS. “Kalau sudah mengancam seperti ini, bu­kankah pembiarannya juga me­rupakan pelanggaran HAM ba­gi masyarakat banyak,” ujarnya lagi.

Jika sudah banyak yang ter­tular, tambah Syamsul, maka akan banyak kegiatan saling menularkan, sehingga lama-lama masa depan Sumbar akan punah. Untuk itu, bagi para pelaku hubungan seks menyimpang, MUI Sumbar berharap agar pe­merintah segera menga­man­kan­nya untuk diberi rehabilitasi sampai sembuh. Selain itu, MUI berharap agar pemerintah mem­berlakukan kembali pengecekan HIV/AIDS kepada pasangan yang akan me­nikah.

Selain pemerintah, keluarga sebagai organisasi terkecil di tengah masyarakat juga harus mengencangkan sabuk dalam menanggapi bahaya HIV/AIDS yang ada di sekitar kehidupan bermasyarakat. Langkah-langkah seperti memantau pergaulan anggota keluarga, terutama anak-anak, adalah hal yang harus dilakukan semaksimal mungkin.

“Jangan kucilkan pelakunya, tapi rangkul untuk disadarkan. Prakteknya itu mengancam ke­berlangsungan hidup anak cucu kita. Cobalah lihat pelaku seks sesama jenis yang bebas ber­siliweran di beberapa jalan utama di Kota Padang pada malam hari. Mereka itu menawarkan jasa seks menyimpang, dan selama ini tidak ada tindakan tegas. Kalau mereka beralasan untuk ke­senangan dan hak azazi, jangan sampai mengancam orang lain, karena sama artinya dengan melanggar hak azazi orang lain pula,” tegasnya lagi.

Kepala Dinas Kesehatan (Din­­kes) Sumbar Rosnini Sa­vitri, melalui Kepala Bidang (Kabid) Penanggulangan Pe­nyakit dan Penyehatan Ling­kungan (PPLP) dr. Irene Susilo mengatakan, berdasarkan data selama 2015, penularan lewat hubungan seks, baik hete­rose­ksual (hubungan seks tidak me­nyim­pang) maupun homo­sek­sual (hubungan seks menyim­pang) berjumlah 25 ka­sus. Disu­sul cara penularan lain seperti penggunaan jarum suntik, trans­fusi darah, air susu ibu (ASI) dan beberapa lainnya yang belum diketahui.

“Dalam kebijakan penang­gulangan HIV/AIDS, tiga hal yang ingin dicapai antara lain menurunkan temuan baru kasus HIV, menurunkan angka kema­tian akibat HIV/AIDS, dan me­nurunkan stigma serta dis­kri­mi­nasi yang berkembang di te­ngah-tengah masyarakat. Mua­ra ke­semuanyan itu nanti kepada pe­ning­katan kualitas hidup Odha (pen­­derita HIV/AIDS),” jelas­nya.

Menurutnya lagi, tren penu­laran melalui hubungan seks memang meningkat. Malah yang mencengangkan, di Sumbar ter­dapat puluhan kasus penularan lewat hubungan seks me­nyim­pang, serupa LSL dan lesbian. Untuk menang­gulanginya, pe­merintah telah menggencarkan upaya konseling dan tes HIV kepada para pelaku seks m­e­nyimpang.

Sebelumnya juga diberitakan, berdasarkan data yang di­kum­pulkan Perhimpunan Kon­selor Penularan Virus HIV/AIDS Indonesia (PKVHI) Sumbar, saat ini terdapat 3.000 sampai 5.000 pelaku seks menyimpang yang didominasi oleh kaum lelaki suka lelaki (LSL).

Dokter spesialis penyakit dalam (internist) serta konsultan penyakit tropik dan infeksi RS­UP M Djamil, dr. H. Armen Ahmad, SpPd-KPTI Finasim juga menyebutkan bahwa hu­bungan seks sesama jenis menjadi penyebab penularan virus HIV/AIDS dengan grafik meningkat. Untuk itu, sosialisasi mulai dari level keluarga amat berperan untuk menekan angka pe­nu­larannya. (h/mg-isq).


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Jumat,20 Mei 2016 - 04:35:34 WIB
    Program Tahfiz Alquran Jangan Hanya Gaya-gayaan

    MUI: Siswa Harus Paham Kandungan Alquran

    PADANG, HALUAN — Pekan ini, Wami Inter­nasional dari Arab Saudi membangun pesan­tren terbesar di Asia Tenggara yang ber­lokasi di Sarasah Bunta Tarantang, Ke­ca­matan Harau. Wami mengucurkan dana sebesar Rp6 miliar unt.
  • Kamis,18 Juni 2015 - 19:29:11 WIB

    MUI: Kemunduran Moral Generasi Hari Ini

    GERMO DAN PEREMPUAN PANGGILAN TERTANGKAP

    PADANG, HALUAN — Pol­­­resta Padang me­nang­kap lima mucikari atau ger­mo pada Operasi Pekat Sing­galang selama tujuh hari. Mereka.

  • Jumat,17 April 2015 - 18:58:25 WIB

    MUI: Butuh Penelitian Soal Maraknya Bunuh Diri

    PADANG, HALUAN — Sosio­log, psikolog dan Lembaga Kerapatan Adat Alam Mi­nang­kabau (LKAAM) meni­lai, kasus bunuh diri yang marak terjadi di beberapa daerah di Sumatera Barat (Sumbar) dua tahun terak.

  • Jumat,30 Januari 2015 - 19:47:02 WIB

    MUI: Imunisasi Tidak Haram

    PADANG, HALUAN – Penyakit Difteri yang kembali muncul dan telah menebar maut dihubung-hubungkan sebagian kalangan dengan program imunisasi bagi balita. Program pengebalan daya tahan tubuh ini be.

BERITA TERKINI Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM