BI Waspadai Potensi Currency War


Selasa,09 Juni 2015 - 19:56:58 WIB
Reporter : Tim Redaksi

Perang mata uang adalah suatu kondisi dimana ma­sing-masing negara “se­nga­ja” untuk melemahkan mata uangnya terhadap mata uang negara lain, dengan tujuan mempermudah ekspor dan memperbaiki neraca pe­rdagangan.

Agus menjelaskan saat ini kondisi global sedang mengalami fenomena pe­nguatan dolar AS yang me­nyebabkan terjadinya dep­resiasi nilai mata uang di berbagai negara berkem­bang ekonomi dan m­enimbulkan risiko dalam jangka panjang.

“Hari ini semua lebih dalam dari (rupiah) kita tekanannya, tapi ini semua reaksi dari perkembangan ‘risk on’ dan ‘risk off’ di luar negeri. Saya melihat bahwa kita memang harus meng­hadapi ini dengan baik dan waspada,” katanya.

Untuk itu, ia kembali menegaskan dalam jangka pendek dan menengah, BI berupaya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS agar para pelaku pasar tidak memiliki kekhawatiran terhadap kon­disi perekonomian Indo­nesia secara keseluruhan.

“Kalau ada tekanan eks­trem, kita menjaga supaya volatilitasnya ada dalam batas yang dapat diterima untuk meraih kepercayaan pasar. Pasar harus tahu BI selalu ada untuk menjaga stabilitas (rupiah),” kata Agus.

Terkait pergerakan ru­piah yang cenderung mele­mah hingga pertengahan tahun, Agus memperkirakan rupiah bisa kembali stabil setelah Juni dengan rata-rata sepanjang tahun 2015 pada kisaran Rp13.000-Rp13.­200 per dolar AS.

“Untuk rupiah ‘year to date’ masih pada Rp12.911 per dolar AS, dan biasanya (perlemahan) ini musiman sampai akhir Juni, karena ada sentimen dan banyak yang harus dibayar (meng­gunakan dolar). Tapi nanti akan normal dan funda­men­tal membaik, sehingga pada kuartal tiga dan empat ru­piah rata-rata Rp12.500,” katanya.

Menteri Keuangan Bam­bang Brodjonegoro menam­bahkan depresiasi mata uang yang terjadi di beberapa negara, termasuk Indonesia, sebagai akibat dari penguatan dolar AS dan itu terjadi karena dunia se­dang menunggu kepastian terkait penyesuaian suku bunga The Fed.

“Yang terjadi adalah do­lar menguat terhadap sega­lanya dan itu tidak tere­lakkan karena tingkat bunga AS (berpotensi) naik, oto­matis (nilai mata) uang bergerak ke arah dolar AS. Itu natural sebagai respon terhadap kemungkinan ke­nai­kan tingkat suku bunga,” ujarnya.

Dari segi pemerintah, kata Bambang, salah satu hal yang dapat diupayakan seba­gai antisipasi agar fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak terlalu ber­gejolak adalah dengan mem­perkuat struktur funda­men­tal perekonomian nasional.

“Kita jaga funda­men­talnya. Kita menjaga ‘current account deficit’nya dan defisit anggarannya. Itulah yang harus kita lakukan,” katanya. (h/trn)


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: harianhaluan@yahoo.co.id
APP HARIANHALUAN.COM