Kamis, 02 Oktober 2014
Batu Angkek-angkek, Tak Bisa Sembarang Angkek PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Haluan   
Selasa, 12 Juli 2011 04:12

Tersimpan dan terjaga selama 7 turunan membuat batu angkek-angkek punya daya tarik mistis tersendiri. Taruhlah, satu turunan dipadankan dengan 25 tahun, maka usia batu itu sudah mencapai 175 tahun. Masa yang sangat panjang, memang. Percaya atau tidak, tak sedikit politisi dan pejabat berdoa di batu ini agar karirnya mulus dan memunjak.

Masyarakat menyebutnya Batu Angkek-angkek. Lokasinya di Nagari Balai Tabuh, Sungayang, Tanah Datar, Sumatera Barat. Angkek berarti angkat dalam Bahasa Indone­sia. Disebut batu angkek-angkek karena sejak ditemukan, orang-orang selalu ingin me­ngang­kat batu ini.

Mengangkat batu ini memang tak mudah. Meski tak berukuran besar, tak banyak yang mampu memin­dahkan batu ini.  Inilah yang mem­buat batu itu terkenal seantero Nusantara.

Banyak masyarakat jauh-jauh datang dari luar Sumatera Barat untuk memastikan kebenaran cerita batu ini. Batu ini punya cerita sendiri. Konon, apabila kita berhasil me­ngang­kat batu tersebut ke pangkuan, itu pertanda permohonan kita dika­bulkan. Namun jika sebaliknya, batu tersebut bergeming, tak dapat diang­kat, maka hal itu alamat gagal dan terkabul yang apa yang diingin­kan.

Untuk mengangkat batu itu, ada ritual kecil dan adab-adab yang harus dilalui. Pertama, membacakan salam (Assalamualikum warrah matullahi wabarakatuh). Kemudian bersimpuh menghadap batu dan membaca bismilahirrahmanirrahim dan salawat Nabi tiga kali. Terakhir, kita mem­bacakan niat, apa permintaan yang kita inginkan lalu meminta Tuhan mengabulkannya. Jika terkabul maka berikan pertanda dengan meringan­kan batu ini sehingga dapat terangkat.

Menurut penjaga batu itu, Tati, ritual itu bukanlah syirik atau mempercayai zat selain Allah SWT. “Batu ini hanya sebagai perantara dari Allah atas apa yang kita minta pada-Nya dikabulkan atau tidak,” kata Tati kepada Haluan.

Pengunjungnya tak hanya berasal dari daerah Sumatera Barat. Ada yang dari Sulawesi, Kalimantan, Gorontalo, bahkan ada yang berasal dari Malaysia, Singapura, dan Filipina.

“Mereka datang dengan berbagai tujuan. Ada yang ingin punya anak, jodoh, dan kekayaan. Juga ada pejabat yang ingin memastikan apakah dirinya akan terpilih jika nanti maju sebagai calon legislative atau pilka­da,” jelas Tati.

Cerita Tati, kadang ada pengun­jung yang badannya kekar tak mampu mengangkat batu ini sedang­kan pengunjung anak-anak umur 12 tahun mampu mengangkatnya dengan mudah.

Batu ini terletak di rumah Datuak Bandaro Kayo, keturunan ke-7 yang menjaga Batu Angkek-angkek. Na­mun, sejak ia meninggal dunia, istrinya, Tati meneruskan menjaga batu ini. Ba­tu ini diletakkan di rumah Batuak Ban­daro Kayo, yang kini hanya di­tinggali Tati dan kedua anaknya, ma­sing-masing tengah kuliah dan duduk di bangku Sekolah Menengah Atas.

Rumahnya mirip rumah adat Minang. Memiliki rangkiang di kedua sisi atapnya. Keseluruhan rumah terbuat dari kayu, kecuali tangga masuknya. Orang-orang yang ingin merasakan sendiri mengangkat batu ini langsung mendatangi rumah dan meminta izin pada si pemilik. Tak dipungut biaya tertentu untuk dapat merasakan mistisnya batu ini. Cukup memasukkan sejumlah uang yang kita rasa pantas ke dalam katidiang.

Uniknya, sejak batu itu ada, pintu rumah yang kini didiami Tati dan anak-anaknya tak pernah dikunci.

“Memang begitu kebiasaannya sejak dulu dan Alhamdulilah tak pernah terjadi apa-apa. Orang iseng atau maling juga tidak ada,” katanya lagi. Menurut adik kandung Datuak Bandaro Kayo, Musdek, kemunculan batu ini dulunya disertai gempa. Dan itu sudeah lama sekali.

“Kalau tidak salah masih ada orang Belanda di negeri kita,” katanya sambil menerawang berusaha mengi­ngat. Dikatakannya ketika ditemukan ada dua buah batu yang saling menempel. Yang satu menghadap ke atas yang lainnya ke bawah. Batu yang menghadap ke bawah tersebut kemu­dian disimpan di dalam rumah dan tak semua orang bisa mengang­katnya.

“Pernah ada orang Belanda yang berusaha mencuri batu tersebut namun gagal karena ia hanya mampu mengangkatnya hingga teras rumah,” kata pria berkulit sawo matang itu.

Seharusnya, ia sebagai keturunan langsung Datuak Bandaro Kayo bertanggung jawab untuk menjaga batu tersebut. Namun karena kesibu­kannya sebagai Kepala Bidang TK dan SD Dinas Pendidikan Kota Padang, tanggung jawab tersebut diserahkannya pada Tati, istri Datuak Bandaro.

“Kalau saya memaksakan diri, nanti kacau. Saya juga punya keluar­ga dan tanggung jawab pekerjaan di sini. Biarlah dijaga oleh orang yang lebih punya banyak waktu dan perhatian saja,” tutupnya. (laporan: sonya winanda)

Comments (1)Add Comment
0
batu angkek-angkek
written by string, Maret 26, 2012
ambo juga pernah mencoba na dan terangkat tapi sewaktu angkat nya memang terasa berat tapi ambo bausaho terus sampai terangkat ke pangkuan ambo. walaupun ga mulus dan ringan.berarti baa niat ambo tu?

Write comment

busy