Sabtu, 28 Februari 2015
Ormas Islam Tolak Pembangunan RS Siloam di Padang PDF Cetak Surel
Rabu, 15 May 2013 02:39

PADANG, HALUAN — Sejumlah organisasi masyarakat (ormas) Islam menolak pembangunan Rumah Sakit (RS) Siloam milik Lippo Group di Jalan Katib Sulai­man, Padang.  Pemicunya, karena mereka me­nganggap keberadaan RS Siloam dapat menimbulkan keresahan bagi umat Islam di Ranah Minangkabau.  Penolakan itu disampaikan dalam konferensi pers yang dihadiri war­tawan berbagai media massa, Selasa (14/5) di Padang.

Ormas Islam yang menyatakan penolakan tersebut yakni, Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Mi­nangkabau (MTKAAM) Sumbar, Paga Nagari Sumbar, Tetua Adat, Hizbul Tahrir Indonesia (HTI) Sumbar, Libas Sumbar dan lain­nya. Mereka yang hadir dalam konferensi  pers itu antara lain Ketua Majelis Tinggi MTKAAM Sumbar Irfianda Abidin, Ketua Paga Nagari Sumbar Ibnu Aqil D Ghani, Tetua Adat Azwir Dt Rajo Malano, Fauzi dari HTI Sumbar, Ketua Libas Sumbar Khairul Amri dan lainnya.

Untuk diketahui peletakan batu pertama pembangunan RS Siloam, Sekolah, Mal Lippo dan Hotel Aryaduta yang terintegrasi dalam bangunan 14 lantai di satu kawasan seluas lebih kurang 1,5 hektar dilaksanakan, Jumat (10/5) lalu.

Ketua Paga Nagari Ibnu Aqil D Ghani mengatakan, alasan penola­kan itu berdasarkan latar belakang CEO Lippo Group James T Riady yang merupakan tokoh misionaris internasional. Atas alasan itu, sejumlah ormas mener­bitkan bebera­pa tuntutan kepada beberapa pihak.

Seperti, Pertama menuntut Pemko Padang mencabut izin pendirian rumah sakit tersebut. Kedua, bagi tokoh yang hadir dalam peletakan batu pertama pembangu­nan rumah sakit, mall, hotel, dan sekolah bertaraf internasional, diharapkan meminta maaf kepada masyarakat Sumbar. Ketiga, kepada masyarakat diharapkan mendukung usaha penolakan pen­dirian rumah sakit ini.

“Bagi yang tidak mendukung, dianggap memberi kemudahan untuk masuknya misionaris ke Sumbar,” jelas Aqil.

Aqil juga menjelaskan, dari informasi yang dihimpunnya James sudah merencanakan membangun 1.000 sekolah Kristen di Indonesia. James juga pernah mendirikan gereja termegah di Asia Tenggara, dan ikut membiayai kampanye Presiden AS Bill Clinton tahun 1992.

Katanya lagi, jika dilihat lagi, kata Siloam berasal dari bahasa Yunani, yang berarti mata air di Yerussalem yang digunakan untuk menyembuhkan orang yang sakit mata.

“Dikhawatirkan dengan kebera­daan rumah sakit ini nantinya, para pasien yang berasal dari kalangan kurang mampu akan disuruh untuk pindah agama, sehingga pengo­batannya bisa dibiayai. Ini kan pemurtada,” kata Aqil.

Sementara itu menurut Ketua Majelis Tinggi MTKAAM Sumbar Irfianda Abidin, pembangunan rumah sakit Siloam oleh Lippo Group juga mendapat penolakan dari masyarakat di Palembang. Penyebabnya, karena membawa misionaris. Irfianda pun berharap agar berbagai pihak jangan hanya melihat nilai investasinya saja.

Irfianda menyayangkan, rencana pembangunan mega proyek ini, pemerintah daerah tidak meminta pendapat atau masukan dari niniak mamak Minangkabau. Padahal menurut kebiasaan, hal ini selalu dilakukan.

Penolakan mega proyek yang diduga berbau misionaris, juga pernah terjadi di Kota Bukittingi di awal tahun 1980-an saat pendi­rian Rumah Sakit (RS) Immanuel di Dekat Lapangan  Kantin Bukit­tingi. Irfianda mengatakan, waktu itu tokoh Sumbar seperti Buya Hamka, Muzni M Yunus, dan lainnya menentang keberadaan rumah sakit ini.

Sejumlah tokoh Sumbar pun sampai menemui Presiden Soeharto dan meminta proyek yang membuat resah masyarakat Minangkabau itu dialihkan ke daerah lain. Atas kebijakan Presiden Soeharto, akhirnya  proyek RS Immanuel itu dialihkan ke Lampung dan lahan­nya dibeli oleh Pemprov Sumbar. Dan akhirnya dilahan itu dibangun RS Strok.

Soal bantuan ke sejumlah organisasi masyarakat, seperti Aisyiah, LKAAM, Fakultas Kedok­teran Unand dan lainnya, menurut Tetua Adat Azwir Dt Rajo Malano juga perlu dipertanyakan misi dan latar belakangnya.

Fauzi dari HTI juga menga­takan, ini merupakan upaya pemur­tadan yang berkedok investasi. Dia berharap pejabat yang berada di wilayah kebijakan, untuk segera menyadari dan mengubah kebija­kannya tersebut. Syaiful dari Majelis Mujahidin meminta pem­bangunan dibatalkan.

Dihubungi secara terpisah, Sekda Kota Padang H Syafril Basir SH menilai tuduhan dan kecurigaan Ormas Islam terhadap adanya agenda misionaris di balik mega proyek RS Silom yang terintegrasi dengan hotel, mal dan sekolah tidaklah benar.

Syafril Basir mengatakan Lippo Group sudah banyak membangun rumah sakit di berbagai penjuru di Indonesia dan bisa dicek keab­sahannya. “Jika setelah beroperasi terlihat ada kegiatan yang melen­ceng, kita akan segera cabut izin­nya,” kata Syafril, saat dihubungi Haluan tadi malam. (h/cw-eni)


Newer news items:
Older news items: