Minggu, 26 Oktober 2014
Pelajaran dari Pilkada Jakarta dan Jawa Barat PDF Cetak Surel
Selasa, 26 Februari 2013 02:02

Pasangan Ahmad Heryawan – Dedy Mizwar menurut versi quick count menang dalam Pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur Jawa Barat yang digelar Minggu. Sembilan quick count menyatakan Aher-Dedy menang, termasuk yang dihitung cepat oleh KPU setempat.

Hingga pukul 18.30 WIB, Minggu (24/2/2013), berdasarkan hasil penghitungan suara real count KPU Jabar, pasangan nomor urut empat Ahmad Heryawan (Aher) - Deddy Mizwar masih menempati posisi satu. Aher-Deddy sementara meraih 460.115 suara atau 33,3 persen.

Data tersebut berdasarkan jumlah tempat pemungutan suara (TPS) yang masuk 4.757 TPS dari 74.948 TPS di Jabar. Persentase TPS yang masuk 63,47 persen, dan persen suara yang masuk dari daftar pemilih tetap (DPT) 42,44 persen.

Dede Yusuf-Lex Laksamana menguntit dengan 354.955 suara (25,7 %), menyusul Rieke Diah Pitaloka-Teten mendapat 347.310 (25,2 %). Posisi keempat Irianto MS Syafiuddin-Tatang Farhanul Hakim mendapat195.760 (14,2 %), dan ranking lima Dikdik Mulyana Arif Mansyur-Cecep N.S. Toyib memperoleh 26.699 (1,9 %).

Sungguh ini sebuah pelajaran lagi setelah Pilkada DKI bagi penyelenggaraan Pilkada di daerah lain termasuk Sumatera Barat yang akan menggelar empat Pilkada tingkat kabupaten/kota dalam tahun ini.

Satu yang patut jadi pelajaran, isu negatif di induk partai calon belum tentu memerosotkan elektabilitas calon. Aher diusung PKS, dan partai ini tengah didera isu dagang sapi. Tapi nyatanya tidak ngaruh kepada elektabilitas Aher. Justru elektabilitasnya naik dan akhirnya menghasilkan perolehan suara yang signifikan bagi kemenangan satu putaran.

Padahal dua pasangan lain Dede-Alek dan Rieke-Teten adalah pasangan-pasangan yang diprediksi mengalahkan Aher sebagai petahana. Lagi-lagi yang terpenting menjadi modal kemenangan itu adalah pendekatan pasangan calon kepada pemilih. Cara kampanye dan sikap kampanye amat menentukan. Menurut penelitian sejumlah lembaga peneliti, pasangan yang paling intens bersilaturahmi kepada konstituen adalah Aher-Dedy. Popularitas nyatanya tidak menentukan benar walaupun itu menjadi modal kuat. Apa kurangnya popularitas Dede Macan Yusuf dan Rieke Diah Pitaloka atau Teten Masduki?

Kita kira kemenangan Aher-Dedy akan dijadikan pembasuh luka oleh PKS setelah blunder yang dilakukan Presidennya Luthfi Hasan Ishaaq. Kabarnya kemenangan Aher sudah diplot DPP PKS untuk melawan apa yang mereka sebut sebagai upaya demoralisasi dalam kasus LHI. Karenanya PKS habis-habisan di Jawa Barat.

Tapi apakah demikian adanya? Dikemanakan faktor-faktor keunggulan yang dimiliki Dedy Mizwar? Seniman dan pegiat film ini memang tampil amat sederhana. Bahkan ia sering mengatakan jika mereka menang, dia akan memosisikan diri, berbicara, bersikap dan mengambil kebijaksanaan sebagai seorang wakil gubernur dan tidak akan pernah merasa menjadi seorang gubernur.

Ini sikap yang semestinya dimiliki semua wakil. Banyak kenyataan menunjukkan bahwa para wakil gubernur, wakil bupati dan wakil walikota tidak memosisikan dirinya pada tempat yang benar. Mereka merasa jadi gubernur, jadi bupati dan walikota.

Kembali ke soal kemenangan Aher-Dedy. Yakinlah bahwa kemenangan ini tak semata karena kekuatan mesin partai PKS. Namun ada sejumlah faktor yang membuat Aher-Deddy menang di quick count Pilgub Jabar.

Setidaknya ada lima hal yang membikin Aher-Dedy jadi pemenang. Dan kelima faktor ini hendaknya bisa menjadi pelajaran juga bagi pelaksanaan atau peserta Pilkada di empat kabupaten/kota di Sumatera Barat mendatang ini.

Yang pertama banyaknya kandidat di Jawa Barat itu. Ada lima pasangan calon yang disahkan KPU (Sebelumnya peminatnya amat banyak tapi gagal dalam verifikasi)

Jumlah kandidat yang banyak amat berpotensi memecah suara. Apalagi partai-partai besar pecah dan mengajukan kandidat pasangan cagubnya sendiri. Ini amat menguntungkan incumbent.

Lalu seperti sudah kita sebut di atas, faktor Dedy Mizwar juga menjadi daya dongkrak yang luar biasa bagi Aher-Dedy. Karena popularitas Deddy Mizwar tak diragukan lagi.

Yang ketiga adalah Jokowi Effect. Cara Dedy berkampanye memang dipengaruhi Jokowi. Sederhana dan tidak banyak teorinya. Hal yang sama juga digunakan oleh Rieke Diah Pitaloka dan Teten Masduki. Karena Jokowi effect itu pula, Rieke-Teten menyodok di nomor dua perolehan suara. Jokowi sendiri meski dengan banyak cibiran, ikut turun mendukung kampanye Rieke ‘Oneng’ Diah Pitaloka.

Yang juga menguntungkan Aher lagi adalah kisruh di tubuh Partai Demokrat. Momentum pengunduran diri Anas Urbaningrum persis menjelang pencoblosan. Jadi jelas sangat mempengaruhi elektabilitas Dede Yusuf – Lex Laksamana.

Faktoir lainnya tentu saja agak mirip dengan semua partai pengusung yakni konsolidasi cepat. Tapi PKS jauh lebih cepat mengonsolidasikan diri di Jawa Barat pascakejatuhan LHI.

Maka empat Pilkada Sumbar yang dilaksanakan tahun ini bisa berkaca pada pelaksanaan Pilkada Jawa Barat itu. Cukup fairplay, tenang, aman, tertib dan peserta juga sportif. Kita tunggu pula Pilkada Sawahlunto, Padang Panjang, Pariaman dan Padang.***

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy