Sabtu, 22 November 2014
Tanpa Merek, Martabak Ujang Laris Manis PDF Cetak Surel
Senin, 16 April 2012 02:05

Rezeki memang tak berpintu. Yang pokok mau usaha. Jika pelaku usaha lainnya butuh plang nama dengan gradasi warna yang mentereng, Ujang tak begitu. Ujang berdagang tanpa merek dagang dan juga tanpa plang nama. Tapi, dagangnya laris benar. Ia merambah berbagai pekan dan balai Sawahlunto dan Tanah Datar.

Ujang berjualan martabak manis di jantung Kota Sawahlunto sejak 1979. Ia termasuk panggaleh senior di sana. Asalkan tidak diguyur hujan, pembeli silih berganti menyambangi martabak Ujang dan sekaligus mengalirkan rupiah.

Berdiri tepat di tengah pasar tradisional Sawahlunto, dengan perlengkapan seadanya. Mulai dari meja, dengan terpal sebagai atap, Ujang tetap yakin dengan tiga kompor yang memanaskan tiga loyang martabaknya.

Martabak manis Ujang hanya menawarkan tiga rasa, mulai dari ketan hitam, kacang, dan mises. Terkadang, juga diselingi dengan taburan parutan kelapa, di atas martabak yang hampir matang.

Sudah 33 tahun Ujang melakoni menjadi pedagang martabak. Meski terbilang lama, sejak berdiri Ujang tidak pernah mengganti rasa dan adukan dari martabak yang dibuat­nya. Bagi Ujang, resep yang sangat penting tidak menggunakan bahan pengawet.

“Yang sangat penting jangan se­kali-kali pakai pengawet. Sebab, lam­bat laun pelanggan akan tahu sendiri bah­wa dagangan yang kita jual me­miliki tambahan pengawet. Se­lan­jutnya, pelanggan akan berku­rang de­ngan sendirinya,” ujar Ujang ke­ti­ka disambangi Haluan, Sabtu (14/4).

Namun, tidak setiap hari kita bisa menemui martabak Ujang di pasar tradisional Sawahlunto. Ujang setiap hari selalu berganti pasar dan kawasan. Jika ingin menikmati martabak manis ayah 8 anak itu, silakan masuk ke pasar Sawahlunto di hari Rabu dan Sabtu.

Jika Anda datang pada Senin, Anda mesti mencarinya ke pasar Simabuah, Selasa di Pasar Talawi, sedangkan Jumat Ujang berjualan di Pasar Lintau, dan Kamis di pasar Batusangkar. Pelanggan martabak manis ala Ujang itu, harus berpuasa di hari Minggu. Sebab Pak Ujang, demikian ia akrab disapa, meng­gunakan hari Minggu untuk beris­tirahat dan berkumpul dengan keluarga besarnya.

Di setiap pasar-pasar itu, Ujang menghabiskan hingga 20 kilogram tepung untuk adonan martabaknya. Sedangkan telur bisa puluhan, dan belasan kilogram gula pasir. Hebat­nya, Ujang tidak pernah membawa kebutuhan adonan martabaknya dari rumah.

Ujang yang berdomisili di kawasan Malana, pasar Batu­sangkar itu, datang ke pasar-pasar tempat ia berjualan hanya mem­bawa kompor, loyang dan ketan hitam dan kacang. Sedangkan kebutuhan sisanya, mulai dari gula, tepung, parutan kelapa diambil dulu dari kedai-kedai yang ada di pasar tempat ia berjualan.

“Kalau di pasar, mungkin hanya sebagian kecil yang tidak tahu dengan saya. Sebab, sudah lebih dari 30 tahunan, saya berdagang masuk dari satu pasar ke pasar lainnya setiap pekan,” ujar Pak Ujang yang tampak masih dinamis.

Berdagang martabak bagi Ujang sudah pilihan. Meski kelihatan tidak menggunakan kemasan khu­sus, namun sebenarnya omset penjualan Ujang mampu mencapai Rp600 ribu hingga Rp750 ribu dalam sehari.

Setidaknya dari omset tersebut, 50 persennya sudah menjadi keuntungan bagi Ujang, untuk dinikmati dan menutupi kebutuhan keluarga, serta biaya sekolah anaknya. Dengan keuntungan yang terbilang besar itu, Ujang menga­takan berdagang martabak sudah menjadi pekerjaan terakhir baginya.

Sebelumnya, Ujang sempat mencoba mengadu untung sebagai pelayan di salah satu rumah makan terkenal. Namun, dengan pengha­silan yang terbatas, Ujang yang ketika itu belum berkeluarga beralih ke bidang usaha yang bisa dilaku­kan sendiri, tanpa bergantung dan diperintah orang lain.

Ujang mengaku, untuk men­da­patkan keahlian membuat marta­bak manis, dirinya belajar dari seorang pedagang martabak terbaik di kampungnya. Datuk Maruhun namanya. Di era tahun 1970-an, Datuk Maruhun merupakan peda­gang martabak yang terkenal di Batusangkar.

“Tidak hanya saya yang belajar dari Datuk Maruhun, puluhan orang belajar membuat martabak manis darinya. Kalau dihitung, pedagang martabak yang saat ini ada di Jakarta, Jambi, Pelambang yang berasal dari Batusangkar, diakui atau tidak pernah belajar kepada almarhum,” terang Ujang.

Ujang juga mengakui, peng­hasilannya dari berjualan martabak mampu mengantarkan anak-anak­nya untuk bersekolah. Meski demi­kian, seluruh anak suami Upik itu, tidak ada yang mau melan­jutkan pendidikan perguruan tinggi.

Anak-anak Ujang dan Upik cenderung memilih membuka usaha dagang. Mulai dari jualan kain, berdagang kelontong, dan ada juga yang meneruskan kemampuan  bapak dalam berjualan martabak.

“Hanya satu anak kami yang mau mengembangkan usaha mar­tabak. Tetapi tidak masalah, sebab kalau semua jualan martabak, siapa pula yang akan membeli nantinya,” ujar Ujang tertawa. (Laporan Fadilla Jusman)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items: