Jumat, 18 April 2014
Pahlawan Berikutnya dari Sumatera Barat PDF Cetak Surel
Rabu, 14 Desember 2011 03:01

Setelah berjuang cukup lama, akhirnya pemerintah RI menetapkan juga bahwa H. Abdul Malik Karim Amaralullah (HAMKA) dan Sjafroeddin Prawiranegara adalah pahlawan nasional dari Sumatera Barat dan Banten.  Secara formal keduanya sudah dinyatakan melalui Keputusan Presiden dan para ahli waris sudah menerima langsung piagam Pahlawan Nasional itu dari Presiden di Istana Negara.

Di Sumatera Barat sejumlah acara digelar untuk menyam­but pemberian gelar pahlawan nasional kepada dua tokoh itu. Meskipun Pak Sjaf   bukan berasal dari Sumatera Barat, tetapi dalam perjuangan ia amat dekat dengan batin orang Sumatera Barat. Pertama karena basis perjuangan Sjafroeddin selama PDRI (Pemerintah Daroerat Repoeblik Indonesia) memang di Sumatera Barat. Lalu ketika terjadi pergolakan menentang pemerintah pusat, Pak Sjaf berpihak kepada kaum penentang dari Sumatera Barat yang disebut PRRI itu.

Lepas dari semua itu, yang terpenting sekarang membumikan kembali perihal kepahlawanan keduanya di daerah ini. Banyak generasi muda yang belum mengenal bagaimana sepak terjang kedua pahlawan itu. Ini penting untuk pembentukan karakter generasi muda pada saat nilai-nilai heroisme, nasionalisme sudah makin menipis. Kalaupun ada semangat heroisme lebih banyak untuk hal-hal yang jauh dari nilai-nilai luhur. Sikap nasionalisme juga kadang diterjemahkan keliru, dengan hanya sekedar berseru : Hidup Indonesia! Atau lebih pada right or wrong is my country. Padahal semangat dan nilai-nilai nasio­nalisme semestinya diimplementasikan dalam bentuk yang lebih berarti lagi. Misalnya memberikan kebanggaan nasional melalui karya-karya anak bangsa. Baik karya pisik maupun  karya non pisik.

Maka, pada saat semua pihak mencoba mengingatkan untuk bersyukur atas gelar pahlawan nasional bagi Pak Sjaf dan Buya Hamka itu, serta merta kita ingin me­ngingatkan pula bahwa ini semua bukanlah hal yang diinginkan oleh Pak Sjaf maupun oleh Buya Hamka sendiri.

Sebelum pemerintah menetapkan, mereka sudah kita anggap sebagai pahlawan, karena patut menjadi tauladan bagi umat. Karya dan pemikiran mereka mencerahkan umat, dan tidak pernah perbuatan mereka mencoreng umat.

Keduanya adalah tokoh yang toleran, namun tetap memegang prinsip, sehingga siap menghadapi penjara sekalipun, demi prinsipnya. Semangat inilah yang harus terus dihidupkan generasi muda sekarang.

Jadi, pabila kita mengenang sepak terjang Sjafroeddin dan Hamka, seyogianya kita mesti mewariskan nilai-nilai perjuangan kedua tokoh ini.

Satu hal lagi, karena proses pemberian gelar pahlawan nasional itu cukup panjang dan berliku. Maka kita di daerah ini masih harus memperjuangkan beliau-beliau yang belum lagi mendapat tempat dalam daftar Pahlawan Nasional. Sekali lagi, bukan untuk sebuah gelar yang semu. Akan tetapi lebih kepada bagaimana memberikan apresiasi dari generasi sekarang kepada beliau-beliau yang sudah berjuang gigih merebut dan mempertahankan ke­merdekaan dari penjajahan asing.

Pada saat ini, kita perlu menyadari banyak pahlawan lain yang sama pantasnya mendapatkan rasa hormat dan penghargaan kita. Menghormati mereka akan membantu kita menghargai sejarah kita sendiri. Meninggalkan mereka berarti meninggalkan sejarah dan identitas kita. Kita di Sumatera perlu mendata lagi siapa-siapa saja tokoh pejuang kemerdekaan yang patut ditempatkan pada daftar Pahlawan Nasional. Sebab kalau untuk masuk dalam daftar perintis kemerdekaan dan daftar veteran, mungkin sudah tidak ada kesulitan lagi sejak sistem administrasi Perintis Kemerdekaan dan Veteran diperbaiki di masa orde baru.

Akan tetapi masih ada nama lain yang juga berkiprah secara nasional yakni Mohamad Sjafei, Rahmah El Yunusiah. Keduanya berkiprah panjang dalam memajukan pendidikan nasional bahkan dalam masa perang sekalipun. Sjafei bahkan sempat menjadi Menteri Pendidikan di awal kemerdekaan. Kedua nama itu hendaknya terus kita perjuangkan untuk diakui sebagai pahlawan nasional oleh negara. Pengakuan terhadap seorang pahlawan tak perlu dilandasi politik tetapi pada fakta sejarah dimana para pahlawan itu telah membuat nama besar untuk bangsa dan negaranya.

Pada nanama terakhir yang kita sebut tadi juga memiliki keterkaitan dengan politik masa lalu. Di zaman orde baru, Hamka, Sjafroedin, Natsir, Sjafei, Rahmah senantiasa dilekatkan dengan perbedaan mereka melihat politik nasional dimasa mereka hidup. Dikesankan selalu di masa orde baru bahwa PRRI itu adalah tindakan makar, dan pelakunya tentu pemberontak. Tapi untunglah, di masa reformasi cara pandang keliru itu telah disingkirkan. Karena itu, tidak ada yang patut dijadikan penghalang pabila Sjafei dan Rahmah El Yunusiah menyusul Pak Sjaf, Buya Hamka dan Pak Natsir.***

Comments (1)Add Comment
0
...
written by string, Pebruari 01, 2014
smilies/angry.gif ngak nyambung

Write comment

busy